Budaya

Rumah Itu Bernama Rumah Gadang Kaum Datuak Sati

Tanah Datar, Prokabar —- Namanya Supayang. Sebuah nagari yang berdiri tegak di kaki gunung Marapi.  Nagari elok, di Kecamatan Salimpaung, di Tanah Datar ini, banyak rumah gadang, minimal sebanyak datuk, penghulu pemangku adat.

Disana, dulu banyak rumah gadang, ada yang runtuh, dan diruntuhkan. Dintara puluhan rumah gadang yang bernasib malang itu, ada sebuah rumah gadang milik kaum Datuk Sati dari suku Koto Dalimo, mulai dibuat pada 1910 dan selesai 1014.

Satu dari dua rumah gadang dari suku Koto Dalimo itu direvitalisasi, pada pertengahan 2018 lalu dan selesai Februari 2019. Saat ini pengerjaannya sudah 95 persen. Dulu, tukangnya bernama Khatib dari Tungkar, waktu itu masih masuk Luhak nan Tuo. 

Rumah tersebut diberi nama Rumah Gadang Kaum Datuak Sati direvitalisasi melalui bantuan pemerintah dengan program bernama revitalisasi desa adat 2018 dari Dirjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Rumah gadang lima kamar itu memiliki satu pintu masuk, delapan jendela, empat kamar yang masing-masing satu jedela. Sementar untuk tiang dibagian dalam ada 4 pula dengan total keseluruhan tiang 20 buah. 

Rumah itu juga akan diresmikan sebentar lagi. Setelah pembangun ini selesai akan dibangun pula rumah gadang tigo ruang di lokasi berbeda.

“Indak jauah beda dari bangunan sabalumnyo, tapi labiah rancak iko lai,” sebut seorang nenek menjawab Prokabar halaman rumah gadang itu, Sabtu (9/2).

Masih di halaman, sebuah rangkiang berdiri, di sebelahnya ada sebuah lasuang batu yang sudah dipakai sejak rumah gadang itu ada sebelum kemerdekaan.

Sementara di jalan depan rumah, ibu-ibu lewat darisawah dan ladang. Ada yang baru kembali dari pencuran membawa air pada ember di kelapanya.

Di sisi lain, KH.A Datuak Sati bersama warga sekitar dan berbincang. Sebuah papan lama yang tak terlalu jelas tulisannya menjadi perbincangan, hanya angka 1914. Bicara soal pembangunan, Datuak Sati bercerita, pembangun rumah gadang limo ruang tersebut memakan waktu selama enam bulan dengan luas banguna 7 x 15 meter persegi.

“Alhamdulillah sudah hampir selesai, tinggal perbaikan. Selama pembangunan sering terjadi hujan sehingga tukang hanya bekerja setengah hari,” sebut DT. Sati

Menurutnya, untuk membuat gonjong dan memasang atap saja satu orang tukang dibayar hingga Rp200 ribu sehari karena berbahaya dan tak semua berani.

Ia berharap, rumah  rumah gadang ini akan dimanfaatkan sebagaimaan fungsinya, yaitu menjadi tempat dilaksanakannya berbagai kegiatan suku.

Menurut Walinagari Supayang, revitalisasi rumah gadang di nagarinya sangat mendesak. Ini penting, katanya, agar sendi budaya Minang jangan hilang begitu saja. 

Hal senada dikemukakan Ketua KAN Supayang. Surtaveri Dt Rajo Penghulu. Ia yakin, rumah gadang jika difungsikan dengan benar, akan bermanfaat sekali bagi pembangunan ABS-SBK. (gas)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top