Oleh : Dayu Al Azmi
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam
UIN Imam Bonjol
Saat kasus penyebaran virus Covid-19 masih bercokol di tangga teratas permasalahan dunia hari ini. Tiba-tiba beberapa hari yang lalu, publik dihebohkan dengan terjadinya kasus rasisme di kota Minneapolis, negara bagian Minnesota, Amerika Serikat (AS) dan menjadi pembicaraan hangat masyarakat dunia hari ini.
Nama George Floyd sontak menjadi perhatian masyarakat dunia. Setelah video kekerasan yang dialaminya menjadi viral di media sosial. Di dalam video tersebut memperlihatkan aksis seorang polisi yang bernama Derek Chauvin sedang menodongkan lututnya tepat di batang leher hingga dinyatakan tak bernyawa.
Dikutip dari Tribunnews.com, menjelaskan bahwa kasus tersebut dilatarbelakangi karena tuduhan pemalsuan uang yang dilakukan oleh Floyd. Tapi ada juga yang menyebutkan ia menggunakan kupon kadaluwarsa. Namun hingga hari ini belum ada informasi pasti mengenai ihwal dari kasus tersebut.
Alhasil kasus tersebut memancing aksi protes besar-besaran hampir di seluruh Amerika, bahkan kabar terakhir aksi protes tersebut masih merebak di beberapa daerah, hingga berujung dengan aksi penjarahan dan perusakan fasilitas publik.
Aksis rasis yang di alami oleh Floyd tersebut seakan-akan mencukil luka lama yang belum kering dari ingatan kita. Di Indonesia, aksis rasisme juga kerap terjadi, meski banyak yang luput dari perhatian publik.
Agustus 2019 lalu, Indonesia sempat dihebohkan oleh kasus rasis yang dialami oleh mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur. Hingga memicu kerusuhan di tanah Papua. Hingga pada Senin, 19 Agustus, Jayapura dipenuhi aksi demonstran yang berjalan kaki sepanjang 18 kilometer dari Wamena menuju kantor gubernur; menuntut rasialisme terhadap orang Papua harus dihentikan. Dan ekses peristiwa ini tak pernah siap dikendalikan oleh pemerintah hingga hari ini.
Berkaca dari kasus Jacques Derrida, Seorang filsuf kelahiran Aljazair 15 Juli 1930 ini pernah juga mengalami kasus rasis. Derrida yang dilahirkan dari keluarga Yahudi mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan sehingga ia keluar dari sekolahnya pada waktu itu.
Bagi Derrida sendiri, kasus rasis yang dialaminya menjadi titik tolok lahirnya sebuah paham ke ilmuwan filsafat posmodrenisme dekonstruksi. Di dalam kajian filsafat dekonstruksi, pluralitas menjadi bagian penting untuk memaknai sebuah sikap yang disebut tolerance (toleransi).
Namun pluralitas ini secara umum juga melahirkan reaksi positif dan sikap negatif. Reaksi negatif ini melahirkan sikap di seseorang ini tidak bisa menerima sebuah perbedaan atau bisa disebut intoleran yang akhirnya melahirkan sikap xenophobia (anti orang asing atau berbeda) dan sikap tersebut melahirkan rasis.
Reaksi pluralitas yang positif pada dasarnya melahirkan sikap yang integrasi, yang lahir dari sikap toleran yang memperanakkan sikap xenophilia (suka dengan yang berbeda atau perbedaan) dan mengembangkan sikap yang integrasi atau menerima sebuah perbedaan.
Lahirnya sikap rasis ini merupakan bentuk gagal pahamnya kita menanggapi identitas kolektif, sehingga menegaskan sebuah perbedaan yang melahirkan sikap ego dan rasis terhadap perbedaan. Jadi menurut Derrida sendiri alangkah lebih baiknya kita mendekonstruksi kembali pemahaman kita mengenai identitas kolektif yang sering menjadi sumber masalah yang membunuh kerukunan.
Dan di Indonesia pun kita juga sudah diikat dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda beda tapi tetap satu, yang mengharuskan kita untuk menghargai dan menjaga perbedaan itu sendiri.
Jadi dapat kita simpulkan bahwa kita harus bisa menerima segala bentuk perbedaan dan keberagaman, sehingga menimbulkan sikap keharmonisan yang menjadi ihwal dari persatuan dan kesatuan keragaman. Dan belajar dari Derrida yang mengajak kita untuk mendekonstruksi kembali pemahaman kita terhadap identitas kolektif.
Dan mengutip kata K.H Abdurrahman Wahid, “Sikap toleransi itu tumbuh dari masing-masing individu untuk memberikan nilai di masyarakat dan tak boleh dibatasi oleh warna kulit, bahasa ibu, atau bahkan siapa Tuhannya, karena semua orang punya hak yang sama.(*)
















