Pessel, Prokabar – Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), menurunkan asumsi laju pertumbuhan ekonomi daerah dalam revisi RPJMD 2016-2021.
Kepada wartawan beberapa hari yang lalu, Kepala Bappeda-Litbang, Yozki Wandri mengatakan, penurunan melihat dari trend pertumbuhan ekonomi nasional dan provinsi yang cenderung melambat sejak 2014.
“Karena sejak dua dekade terakhir trend kita seirama dengan laju pertumbuhan nasional dan provinsi,” ujarnya.
Dalam perubahan RPJMD 2016-2021, Pemkab Pessel mematok ekonomi daerah pada 2019 hanya tumbuh sebesar 5.50 persen.
Asumsi tersebut tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan sebelum ada perubahan yang mematok pertumbuhan hingga 6,46 persen.
Selain pengaruh pertumbuhan nasional, lanjut Yozki, laju pertumbuhan ekonomi daerah juga terpapar karena pelemahan ekonomi dunia.
Akibatnya berdampak pada sektor yang selama ini masuk sebagai penyumbang tertinggi seperti sektor pertambangan, pertanian dan penggalian.
“Makanya RPJMD yang lama harus kita revisi. Karena sudah tidak relevan lagi dengan kondisi kekinian, utamanya ekonomi global,” ungkapnya.
Kendati demikian, pemerintah daerah tetap optimis sejumlah sektor ekonomi daerah bakal mampu tumbuh di atas enam persen.
Beberapa sektor itu antara lain pada penyediaan akomodasi, makanan dan minuman. Sektor transportasi serta pegudangan.
Selain itu, katanya, sektor perdagangan. Informasi dan komunikasi. Konstruksi serta jasa. Pertumbuhan itu berbanding lurus dengan geliat pariwisata daerah.
“Namun yang perlu diketahui, terhitung sejak 2017, laju pertumbuhan ekonomi kita mulai di atas renata nasional dan provinsi,” tutupnya.(min)
















