Agam, Prokabar — Diantara Puncak Lawang menuju Lawang Park, Negeri Di Atas Awan Matur, Kabupaten Agam, Sumbar terdapat destinasi baru yang cukup jadi daya tarik. Lokasi itu dinamakan Relay Puncak Lawang.
Hampir puluhan bus pariwisata setiap harinya singgah dan menikmati keindahan dan kesejukan alam Di sini. Para biro perjalanan memberi kesempatan wisatawannya untuk singgah menikmati panaroma Danau Maninjau nan memukai.
Para pelancong pada umumnya didominasi asal Aceh, Jakarta, Riau, Malaysia dan Brunai Darusallam. Di sini juga tersedia lokasi selfi dan berbagai buah tangan khas karya kerajinan masyarakat Kabupaten Agam.
Menurut Desnimar (59), pedagang setempat mengatakan usaha tersebut sudah berlangsung 2 tahun lalu. Lokasi tanah di kontrak selama 20 tahun oleh Ninik Mamak setempat.
Kerajinan yang ia jual selain dari Bukittinggi, hasil kerajinan anak nagari Matur juga sangat banyak. Seperti mukenah, tas olahan, rajutan, baju kurung, sandal datuk, pernak-pernik hiasan khas Minang serta berbagai macam makanan olahan asli dari Danau Maninjau dan Matur.
“Khusus untuk tas sandang, kami menyediakan bahan dan mengupahkannya kepada pengrajin setempat. Sedangkan kue basah dan minuman seperti Mangkuak Labu, Ubi Unggu, Stik Labu, Kerupuk Pensi, Goreng Ikan Rinuak, Goreng Ikan Bada Maninjau, Kerupuk Labu, Stik Ubi Ungu. Gula Semut Jahe serta Kopi Gula Lawang menjadi andalan daya tarik pengunjung untuk membeli. Harganya berbariasi, mulai dari 25 ribu hingga sepuluh ribu perbungkus,” tuturnya.
Sedangkan baju kaos bergambar Danau Maninjau, dipesan dari Jawa Dan baju ini sangat laris dan disukai wisman lanjutnya. Ia menjualnya senilai 40 hingga 50 ribu rupiah. Untuk Telakung bordir 200 ribu, dan Telakung Kerancang mesin hitam senilai 300 ribu rupiah.
Sementara itu, Armailis (42) perintis dan pemilik Desrinasi Relay Puncak Lawang menerangkan, kedai beserta lokasi itu lahir berawal ketertarikannya untuk mengolah lahan yang sangat potensial. Setelah berhasil menyewa tanah dari pemilik lahan, kemudian menggarap bersama keluarga besarnya dan dirancang sedemikian rupa.
“Berbagai upaya dan inovasi, akhirnya kami berhasil mengubah perbukitan ini menjadi Desrinasi baru,” terang Armailis.
Dia bersama adik-adiknya membuat hiasan dan sarana untuk berselfi. Didukung kedai dilengkapi berbagai kerajinan oleh-oleh sebagai buah tangan wisatawan dibawa ke kampung halamannya.
Pengunjung sangat ramai, terutama Di musim libur sekolah. Bus pariwisata masuk ke lokasi tersebut bisa mencapai 15 unit perharinya. Malaysia adalah negara tetangga yang paling sering berkunjung. Pengunjung biasanya datang selalu menyesuaikan kondisi cuaca. Karena mereka akan bisa menikmati panaroma, ketika cuaca cerah.
“Atas usaha yang saya lakukan ini, saya bahkan mendapat penghargaan dari Pemerintah Nagari, karena sudah membantu peningkatan perekonomian masyarakat. Menggairahkan pengrajin makanan ringan serta tingkat kunjungan wisatawan,” ungkapnya.
Ia mengaku ingin meningkatkan dan mengembangkan objek wisata itu lebih baik lagi, namun terkendala modal. “Saya kesulitan mencari tambahan modal usaha. Selalu kesulitan akibat minimnya pengetahuan terhadap prosedur untuk melakukan peminjaman modal,” tutupnya. (rud)
















