Oleh: Diva Rizki Arianti
Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang
Capek-capek nyelesai-in pendidikan S1,S2,S3 ujung-ujungya malah pengangguran, ini sebenarnya kita yang salah atau negaranya sih? Indonesia banyak melahirkan generasi yang unggul tapi lowongan kerjanya saja yang tidak mencukupi, ditambah dengan persyaratan yang dibutuhkan harus lengkap dan spesifik.
Salah satu yang lagi rame di internet ialah permasalahan tinggi badan untuk melamar ke suatu instansi (PT KAI), jika di telusuri lebih dalam lagi apakah tinggi badan sepenting itu dalam melamar pekerjaan? Apakah yang pendek tidak berhak untuk mendapat pekerjaan?, walaupun pada kenyataanya di Indonesia tinggi badan merupakan salah satu kriteria yang wajib dipenuhi.
Tinggi badan merupakan salah satu faktor pendukung untuk memenuhi persyaratan masuk ke suatu instansi kerja, sebagaimana terdapat dalam SUMBARZONEWS FOLKVOICE (kamis, 17/04/2025), terlihat bahwa di PT KAI pelamar harus melewati batas tinggi badan dengan benang yang sudah ditetapkan, apabila melewati batas benang maka pelamar berhak lanjut ketahap berikutnya dan apabila pelamar tidak mecapai batas benang maka saat itu juga dinyatakan gugur dan tidak berhak lanjut ketahap berikutnya, kejam bukan? tapi mau gimana lagi inilah hukum yang berlaku di Indonesia kita ini. hal ini banyak mendapat komentar negatif dari para netizen, salah satunya “ Emang Tinggi-Tinggi Buat Apa Sih?”
Akan tetapi tinggi badan tidak menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang, yang kita butuhkan hanya keahlian yang mendalam, walaupun kebanyakan instansi melihat dari tinggi badan, namun masih ada instansi yang tidak memerlukan tinggi badan sebagai persyaratan. Apabila di lihat dari sisi positifnya suatu instansi pasti memiliki alasan tersendiri kenapa mencantumkan tinggi badan sebagai persyaratanya, mungkin saja pelamar yang memiliki tinggi badan yang sesuai kriteria lebih menonjol atau lebih memiliki sifat kepemimpinan.
Ternyata dunia kerja itu tidak seindah yang di bayangkan, mungkin kita hanya membayangkan yang indahnya saja yaitu kerja, pulang, dan menunggu untuk menerima gaji. Tidak heran kenapa banyak sekali orang-orang di Indonesia yang pengangguran, karena negaranya saja mempersulit persyaratan untuk masuk ke dunia kerja dan kita tidak tau seperti apa mereka menilai kita, apakah hanya dengan tinggi badan saja atau dengan yang lainnya.
Di Indonesia tidak hanya masalah tinggi badan yang menjadi penghalang untuk masuk ke dunia kerja, ada juga suatu instansi yang membuka lowongan dengan mencantumkan kualifikasi yang sangat luar biasa tapi tidak sebanding dengan gaji yang diberikan, hal ini juga merupakan masalah yang banyak dijumpai di Indonesia saat ini. Namun kebanyakan para pelamar mengajukan diri walaupun dengan gaji yang sedikit dan mereka berfikir dari pada tidak mendapat pekerjaan sama sekali dan ini sudah menjadi tuntutan jika tidak mendapat pekerjaan mau makan apa? dunia ini keras untuk orang yang pengangguran.
Tidak masuk akal jika suatu instasi membutuhkan tamatan S1,S2,S3 yang memiliki keahlian di bidangnya masing-masing tapi hanya memberi gaji dibawah UMR. Menurut saya ini merupakan strategi dunia kerja dan instansi tidak mau rugi akan hal itu, mereka memanfaatkan keadaan seperti ini untuk mengambil keuntungan.
Badan Pusat Statistik (BPS – Statistics Indonesia), mengungkapkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 5,10% yang dimana pada tahun 2024 Presiden Jokowi Dodo menargetkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia dapat di tekan menjadi 4,5%. Jika dilihat dari jenis kelaminnya, Perempuan menyumbang paling banyak pengangguran yang mencapai 4,92% dibandingkan dengan Laki- laki yang mencapai 4,90%.
Dari permasalahan di atas, dunia kerja di Indonesia memang serumit itu dan kita dituntut untuk sempurna dari segala hal, kita hanya perlu berkaca dan menanyakan kepada diri kita sendiri apakah kita pantas ada di posisi sekarang yang takut akan dunia kerja atau hanya berdiam diri saja seperti katak di dalam tempurung yang tidak mau tahu tentang dunia ini? kesuksesan tidak sepenuhnya diukur dari seberapa tinggi badan kita, seberapa tinggi pendidikan kita, namun kesuksean itu milik dia yang mau berusaha dan bermanfaat bagi banyak orang.
Penulis : Opini
Editor : Nofal Wiska
















