Daerah

Ratusan Pelajar SMPN 1 Tanjung Raya Dapat Pelatihan Literasi Dan Jurnalistik

Maninjau, Prokabar – Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Tanjung Raya, Eva Indrayeni bercita-cita membangkitkan dan melahirkan kembali generasi yang pernah ada di negeri terindah Danau Maninjau. Dengan fokus menyusun program pelatihan literasi dan jurnalistik kepada anak didiknya.

Program yang telah berjalan, satu kali seminggu anak wajib melakukan aktivitas membaca buku dan menulis apa yang telah ia baca di setiap kelas. Sedangkan program kedua, memberikan pelatihan literasi dan jurnalistik kepada anak didik. Program tersebut berkelanjutan dengan menjalin kerjasama beberapa rekan-rekan wartawan yang bernaung di PWI Kabupaten Agam. Seperti Mursidi dan Rudi Yudistira. “Mereka telah memiliki kompetansi dalam kewartawananya,” ungkap Kepala SMPN 1 Tanung Raya tersebut. Program yang akan dilaksanakan beberapa kali pertemuan, menargetkan anak didik mampu menulis dan melahirkan karya tulis, karya sastra hingga dirangkum menjadi sebuah buku.

Kejayaan lahirnya tokoh-tokoh nasional di Maninjau, seperti Buya Hamka, Inyiak Haka, Rasuna Said, AR. Sutan Masur, Muhammad Isa Anshary, Kaharoeddin Datuak Rangkayo Basa, Hasan Bashri dan Muhammad Nasir, merupakan pejuang bangsa yang terkenal dengan keteladanan dan kepahlawananya. Namun sangat disayangkan, generasi perjuang tersebut sudah pudar dan mulai hilang. Hal tersebut perlu dibangkitkan kembali ketokohannya untuk kebangkitan generasi penerusnya nantinya.

“Dahulu, Maninjau salah satu pusat pemerintahan, pertahanan dan pendidikan bagi Bangsa Belanda saat menjajah. Secara tidak langsung, para pribumi yang memiliki strata sosial bangsawan, berkesempatan mendapat pendidikan. Dan generasi inilah yang cikal bakal pelopor perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia,” ungkapnya.

SMP Negeri 1 Tanjung Raya adalah salah satu sekolah tertua di Tingkat Nasional. Merupakan bentukan penjajahan Kolonial Belanda saat mendirikan basis utamanya di Agam Barat. Melalui sekolah ini pula, dunia pendidikan di Danau Maninjau cukup maju dulunya. Kini, kompetisi pendidikan sudah jauh berubah. Pendidikan di kota-kota besar sudah maju pesat, sehingga SMP tua ini mulai tertinggal dari banyak faktor.

“Yang memacu tingkat kecerdasan anak-anak adalah literiasi yang sangat baik dan berkembang. Dan dimasa penjajahan Belanda di Maninjau, itu berlangsung baik. Interaksi antara tentara dan pejabat Kolonial Belanda dengan pribumi sangat intens pada saat itu. Hal tersebut banyak memicu anak-anak Maninjau banyak membaca dan menulis, karena mendapat banyak kesempatan didapat saat itu,” paparnya.

Jauh sebelum itu, pusat perkembangan Islam juga sangat kuat di Selingkar Danau Maninjau. Terutama Syekh Tuanku Nan Tuo (Nenek Moyang dari Buya Hamka). Dari ulama besar inilah, lahirlah Trio Amrullah yakni Syekh Muhammad Amrullah, Syekh Abdul Karim Amrullah dan Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal Buya Hamka. Literasi bahasa Arab dan buku atau kitab kuning, sangat banyak pada masa itu. Sehingga banyak melahirkan tokoh agama Islam dari Selingkar Danau Maninjau.

Kita lanjutnya, akan mengembalikan kejayaan literasi yang pernah ada di Maninjau, Umumnya di Kecamatan Tanjung Raya. “Agar itu dapat tercapai, perlu dilakukan rancangan program terstruktur dan terencana. Dan menjalin kerjasama dengan semua pihak yang mampu membangkitkan literasi anak. Termasuk dengan rekan-rekan jurnalis yang berkompeten,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PWI Kabupaten Agam, sekaligus Korda Harian Singgalang, Mursidi mengatakan Literasi dan Jurnalis sangat penting dimiliki setiap generasi penerus. Karena tanpa memiliki kemampuan membaca dan menulis, mustahil potensi dan kecerdasan anak didik dapat tercapai. Hal tersebut membuat mereka lemah wawasan dan mudah kalah dalam berkompetisi di dunia Internasional nantinya.

Para pejuang terdahulu lanjutnya, jelas memiliki buku bacaan yang sangat banyak dan menuangkannya dengan ratusan karya. Dan itu pula yang membuat ia hebat dan dikenang sepanjang masa. “Kita contohkan saja Buya Hamka. Hingga saat ini, ia dicintai para umat muslimim dan bangsa Malaysia karena telah memberikan cahaya kehidupan kepada mereka. Dan sebaliknya, kenapa kita sendiri tidak begitu mencintainnya? Karena kita sangat minim membaca buku dan hasil karya beliau. Sehingga dampak manfaat ketokohan beliau sangat lemah kita rasakan.

Mursidi menegaskan agar kebangkitan nasional dapat kembali terwujud. Dan bila Negara Ini bisa kembali jaya menuju generasi emas, maka literasi dengan membangkitkan kembali minat baca anak harus dibangkitkan. Dengan demikian tingkat kecerdasan dengan memiliki wawasan diimbangi dengan pendidikan etika moral yang baik (Keagamaan), tidak mustahil akan kembali melahirkan Buya Hamka-hamka berikutnya.

“Mohamamd Hatta, Sultan Syahril, Rasuna Said, Rahma El-Yunusia, Buya Hamka dan ratusan tokoh asal Minang dimasa sebelum dan sesudah kemerdekaan RI dulu, jelas memiliki talenta jurnalistik, dengan jurnalistik, ia mampu mengkritik dan menuangkan pokok pikirannya kepada Negara luar dan masyarakat secara luas,”pungkas Ketua PWI Kabupaten Agam tersebut. (rud)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top