Oleh: Irsyad Syafar
Seiring dengan terbenamnya matahari sore ini, maka berakhir pulalah Ramadhan yang penuh berkah ini. Ia telah pergi dan tak akan pernah kembali. Ramadhan tahun depan adalah makhluk baru. Dan kitapun, entah akan bersua lagi atau tidak, hanya Allah saja Yang Tahu.
Ramadhan berlalu meninggalkan dua kelompok manusia. Kelompok pertama adalah orang-orang yang beruntung. Yaitu mereka yang dimudahkan Allah mengisi hari-harinya dengan berbagai amal shaleh. Siangnya berpuasa, malamnya qiyam dan bermunajat kepadaNya. Bibir dan lidahnya senantiasa basah dalam dzikir, tilawah Al Quran dan istighfar. Jasadnya “capek” dalam agenda-agenda kebaikan. Berbahagialah mereka dengan janji balasan terbaik dari Allah.
Sedangkan kelompok kedua adalah orang-orang yang merugi. Karena waktunya banyak yang sia-sia selama Ramadhan. Kalaupun puasa di siang hari, hanya sekedar menahan haus dan lapar. Sedangkan perbuatannya tidak mencerminkan standar orang yang berpuasa. Kalaupun malamnya diisi dengan qiyam, namun dilaksanakan asal-asalan. Hampa dari kekhusyukan dan lemah dalam keikhlasan. Adapun orang-orang yang memang tidak berpuasa dan tidak qiyam serta tak bersama Al Quran, tentu mereka lebih merugi serta jauh dari rahmat Allah.
Dengan usainya rangkaian ibadah Ramadhan, yang menggelayut dalam fikiran orang-orang beriman adalah, “apakah Allah berkenan menerima semua amal shaleh kita?”.
Di dalam surat Al Mukminun Allah Swt berfirman:
﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴾ [المؤمنون: 60].
Artinya: “Dan orang-orang yang telah memberikan apa yang mereka berikan, tapi hati mereka penuh rasa takut, bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS Al Mukminun: 60).
Di hadits Imam At Tirmidzi, diriwayatkan bahwa Ummul Mukminin Aisyah ra bertanya tentang ayat ini kepada Rasulullah Saw: “Apakah yang dimaksud oleh ayat ini mereka yang minum tuak dan mereka yang mencuri?” Rasulullah Saw menjawab pertanyaan Aisyah:
(لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَلَّا يُقْبَلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ).
Artinya: “Bukan itu maksudnya wahai anak Abu Bakar Shiddiq. Mereka itu adalah orang-orang yang berpuasa, orang yang menunaikan shalat dan bersedekah. Akan tetapi mereka takut amal shaleh tersebut tidak diterima oleh Allah. Mereka itulah yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.” (HR Tirmidzi).
Jadi orang-orang shaleh yang dipuji oleh Allah itu adalah mereka yang mencemaskan akankah amal shaleh mereka diterima Allah atau tidak. Sehingga ketika usai dari sebuah amal shaleh, mereka tidak eforia apalagi hura-hura. Mereka tetap merasa sedih karena berpisah dengan musim kebaikan, dan takut bila amalan mereka tidak diterima.
Adalah generasi terbaik umat ini dahulu (salaf) di hari Idul Fitri tetap tergurat kesedihan di wajah mereka. Lalu ada yang berkata kepada mereka, “Bukan hari ini hari raya dan hari bergembira ria?”. Mereka menjawab, “Iya kalian benar. Akan tetapi aku diperintahkan oleh Tuanku untuk beribadah. Namun aku tidak tahu apakah Dia berkenan menerimanya?”
Beribadah itu memang sangat penting. Akan tetapi lebih penting lagi dari itu adalah diterimanya ibadah tersebut oleh Allah. Malik bin Dinar yang merupakan senior Tabi’in yang tsiqah, pernah berkata: “Takut terhadap amalan tidak akan diterima Allah, itu lebih utama dari pada amalan itu sendiri.”
Wuhaib bin Al Warad (Tabi’ Tabi’in dan rawi hadits) menyaksikan sekelompok orang merayakan Idul Fitri dengan tertawa terbahak-bahak dan berbahagia secara berlebihan. Maka Beliau berkomentar, “Mereka itu seandainya diterima ibadah puasa mereka, bukanlah seperti itu cara orang bersyukur kepada Allah. Dan seandainya mereka itu tidak diterima ibadah puasa mereka, maka tidak seperti itu perilaku orang yang cemas (takut) kepada Allah.”
Sangat ingin amalannya diterima, itu adalah perilaku dan karakter generasi salaf. Fudhalah bin ‘Ubaid seorang sahabat Anshar, ikut berjihad bersama Rasulullah dan menjadi Qadhi Damaskus di masa Mu’awiyah, penah berkata: “Jika aku tahu bahwa Allah menerima amalanku hanya sebesar biji sawi, maka itu lebih aku cintai dari pada dunia dan segala isinya. Sebab Allah sudah menjanjikan di dalam firmanNya: “Allah hanya menerima amalan dari orang-orang bertaqwa saja.” (QS Al Maidah: 32).
Bila usai dari sebuah amal shaleh, apalagi amal-amal besar di musim Ramadhan ini, maka yang menjadi harapan serta fikiran orang beriman setelah itu adalah amal itu maqbul disisi Allah. Doa Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail usai membangun Ka’bah kiranya perlu diulang-ulang terus:
(ربنا تقبَّل منا إنك أنت السميع العلم، وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم).
“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami amal shaleh kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami, sesunggunya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Tidak ada tempat untuk berhura-hura di Idul Fitri, apalagi berbuat maksiat. Boikot acara joget-joget dan sejenisnya yang dibuat oleh orang-orang yang tidak takut kepada Allah. Jangan anda ikut menyumbang atau mensuppor acara yang sia-sia tersebut. Dan mari “kita biasakan yang benar” dalam beridul fitri, dan “jangan membenarkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak jelas.”
Wallahu A’lam bishshawab.
Penulis : Irsyad Syafar
Editor : Nofal Wiska
















