Oleh : Fathiyah Ikhsani Siregar
Mahasiswa UIN Imam Bonjol
Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Di bulan Agustus yang seharusnya menjadi bulan penuh harapan, justru tercatat sejarah baru yang pahit. Presiden menaikkan gaji DPR dan pejabat negara setinggi langit, sementara rakyat yang menjadi tulang punggung negeri masih bergulat dengan perut kosong dan keringat yang belum kering. Hingga kini, pertanyaan besar menggantung di udara: sebenarnya apa pekerjaan mereka? Mengapa saat rakyat berteriak, mereka justru berpesta?
Begitu pengumuman kenaikan gaji itu disampaikan, gelombang amarah tak terbendung. Dari lorong kampus hingga jalan-jalan desa, masyarakat dan mahasiswa turun menyuarakan ketidakadilan. Namun, di mana DPR dan Presiden? Mereka bersandar di kursi empuk, menyesap kopi panas di ruang dingin, seolah negeri ini tak sedang terbakar. Mereka melepaskan tanggung jawab, padahal hidup mereka digaji dari keringat rakyat yang kini dipaksa menanggung luka.

Lebih parahnya, rakyat sengaja diadu dengan rakyat. Polisi yang seharusnya menjadi pelindung, diperalat menjadi tameng. Seragam dijadikan tembok, sementara rakyat dijadikan musuh. Akibatnya, kemarahan justru terarah pada polisi yang hanya menjalankan perintah, meski hatinya mungkin menolak. Negeri ini seperti panggung sandiwara murahan di balik layar, tikustikus rakus tertawa, sementara di panggung, darah dan air mata rakyat tumpah.
Tak cukup sampai di situ, uang rakyat dipakai untuk membayar oknum yang bertugas mengacaukan suasana. Api kecil dibesarkan, provokasi ditabur ke tengah masyarakat agar amarah semakin membara. Semua itu hanya untuk menutupi jejak busuk dan mengalihkan isu, sementara anggaran negara terus dikuras tanpa rasa malu. Kalian lebih dari sekadar serigala berbulu domba kalian lebih licik dari iblis yang menjerat manusia dengan tipu daya.
Wahai Presiden, wahai para pemegang kuasa. Sampai kapan bangsa ini harus menunggu kebijakan nyata? Jangan hanya menebar kata-kata penenang yang hambar, karena rakyat sudah terlalu sering dipaksa menelan janji kosong. Katanya ingin menuju Indonesia Emas, tapi justru yang terasa adalah Indonesia Cemas, di mana kemerdekaan yang kita rayakan hanya tinggal seremonial, sementara keadilan makin dipenjara.
Kami, atas nama bangsa Indonesia, menuntut solusi nyata, bukan retorika. Jika terus dibiarkan, negeri ini akan semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan. Merah putih bukan sekadar kain berkibar, melainkan darah dan jiwa rakyat yang menuntut harga diri bangsanya.
Dan ingatlah!!! rakyat bisa sabar, tetapi kesabaran bukan berarti kebodohan. Suara yang hari ini hanya berupa teriakan di jalan, bisa menjadi gelombang besar yang menumbangkan singgasana kekuasaan. Jangan menunggu sampai bara ini menjadi api yang melahap segalanya. Karena bila rakyat sudah benar-benar muak, bukan hanya kursi yang kalian duduki yang akan goyah tapi seluruh bangunan kekuasaan yang kalian bangun dengan keserakahan akan runtuh bersama nama kalian.
Sejarah selalu mencatat, kekuasaan yang lahir dari rakyat, bila dikhianati, akan tumbang oleh rakyat. Maka dengarkanlah sebelum terlambat. Jangan sampai 80 tahun kemerdekaan ini menjadi saksi bahwa bangsa yang besar justru roboh oleh tikus-tikus rakus di dalam gedung megah. Kami tidak menuntut lebih, hanya menuntut keadilan. Sebab tanpa keadilan, kemerdekaan hanyalah kepalsuan, dan Republik hanyalah nama tanpa jiwa. (*)
Penulis : Opini
Editor : Nofal Wiska
















