Rakyat dan Polisi yang Diskenariokan untuk Saling Menyakiti

Penulis -

Senin, 1 September 2025 - 09:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Fathiyah Ikhsani Siregar 

Mahasiswa UIN Imam Bonjol

Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Di bulan Agustus yang seharusnya menjadi bulan penuh harapan, justru tercatat sejarah baru yang pahit. Presiden menaikkan gaji DPR dan pejabat negara setinggi langit, sementara rakyat yang menjadi tulang punggung negeri masih bergulat dengan perut kosong dan keringat yang belum kering. Hingga kini, pertanyaan besar menggantung di udara: sebenarnya apa pekerjaan mereka? Mengapa saat rakyat berteriak, mereka justru berpesta?

Begitu pengumuman kenaikan gaji itu disampaikan, gelombang amarah tak terbendung. Dari lorong kampus hingga jalan-jalan desa, masyarakat dan mahasiswa turun menyuarakan ketidakadilan. Namun, di mana DPR dan Presiden? Mereka bersandar di kursi empuk, menyesap kopi panas di ruang dingin, seolah negeri ini tak sedang terbakar. Mereka melepaskan tanggung jawab, padahal hidup mereka digaji dari keringat rakyat yang kini dipaksa menanggung luka.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Lebih parahnya, rakyat sengaja diadu dengan rakyat. Polisi yang seharusnya menjadi pelindung, diperalat menjadi tameng. Seragam dijadikan tembok, sementara rakyat dijadikan musuh. Akibatnya, kemarahan justru terarah pada polisi yang hanya menjalankan perintah, meski hatinya mungkin menolak. Negeri ini seperti panggung sandiwara murahan di balik layar, tikustikus rakus tertawa, sementara di panggung, darah dan air mata rakyat tumpah.

Tak cukup sampai di situ, uang rakyat dipakai untuk membayar oknum yang bertugas mengacaukan suasana. Api kecil dibesarkan, provokasi ditabur ke tengah masyarakat agar amarah semakin membara. Semua itu hanya untuk menutupi jejak busuk dan mengalihkan isu, sementara anggaran negara terus dikuras tanpa rasa malu. Kalian lebih dari sekadar serigala berbulu domba kalian lebih licik dari iblis yang menjerat manusia dengan tipu daya.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Wahai Presiden, wahai para pemegang kuasa. Sampai kapan bangsa ini harus menunggu kebijakan nyata? Jangan hanya menebar kata-kata penenang yang hambar, karena rakyat sudah terlalu sering dipaksa menelan janji kosong. Katanya ingin menuju Indonesia Emas, tapi justru yang terasa adalah Indonesia Cemas, di mana kemerdekaan yang kita rayakan hanya tinggal seremonial, sementara keadilan makin dipenjara.

Kami, atas nama bangsa Indonesia, menuntut solusi nyata, bukan retorika. Jika terus dibiarkan, negeri ini akan semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan. Merah putih bukan sekadar kain berkibar, melainkan darah dan jiwa rakyat yang menuntut harga diri bangsanya.

Dan ingatlah!!! rakyat bisa sabar, tetapi kesabaran bukan berarti kebodohan. Suara yang hari ini hanya berupa teriakan di jalan, bisa menjadi gelombang besar yang menumbangkan singgasana kekuasaan. Jangan menunggu sampai bara ini menjadi api yang melahap segalanya. Karena bila rakyat sudah benar-benar muak, bukan hanya kursi yang kalian duduki yang akan goyah tapi seluruh bangunan kekuasaan yang kalian bangun dengan keserakahan akan runtuh bersama nama kalian.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Sejarah selalu mencatat, kekuasaan yang lahir dari rakyat, bila dikhianati, akan tumbang oleh rakyat. Maka dengarkanlah sebelum terlambat. Jangan sampai 80 tahun kemerdekaan ini menjadi saksi bahwa bangsa yang besar justru roboh oleh tikus-tikus rakus di dalam gedung megah. Kami tidak menuntut lebih, hanya menuntut keadilan. Sebab tanpa keadilan, kemerdekaan hanyalah kepalsuan, dan Republik hanyalah nama tanpa jiwa. (*)

Penulis : Opini

Editor : Nofal Wiska

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB