Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Rakik Kacang As Syifa, UMKM yang Bertahan Disaat Pandemi Covid 19

Dibaca : 1.0K

Tanah Datar, Prokabar – Pandemi Covid 19 yang melanda, mempengaruhi semua aspek kehidupan di masyarakat termasuk sektor ekonomi. Begitu juga dengan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Dikala sebagian UMKM kesulitan untuk bangkit dari keterpurukan, hal berbeda dialami usaha makanan ringan
Rakik Kacang As Syifa yang terletak di Jorong Kampung Tangah Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Tanah Datar.

Di tengah pandemi Covid 19, industri makanan tradisional Minangkabau ini masih tetap eksis dan bertahan. Dampak Covid 19 yang dialami hanya seperti penurunan omset, jumlah produksi, pemasaran, dan sektor lainnya.

Febriani (40), Pemilik usaha makanan tradisional Rakik Kacang As Syifa mengatakan 8 bulan Covid 19 melanda, penurunan omset yang ia alami mencapai 20 – 30 persen dibandingkan saat normal. Meski demikian, ia tetap bersyukur karena usaha yang ia kelola masih bisa bertahan sampai saat ini.

Dari usaha rakik kacang yang dibangun dari tahun 2003 ini, Febriani mampu meraup omset sekitar Rp100 – 120 juta disaat pandemi Covid 19. Dan, disaat kondisi normal, omset bisa berkisar dikisaran Rp150 juta.

“Alhamdulilah kita masih bisa beroperasi sampai saat ini. Kita akui ada dampaknya, dari sisi omset dan produksi itu sekitar 30%, jika biasanya dalam satu minggu produksi kita mencapai 6000 pcs, kini 5000 pcs. Satu hari itu kita tetap produksi 1000 pcs,” ucapnya saat ditemui ditempat produksi rakik kacangnya di Pagaruyung, Selasa (3/11).

Meski terjadi penurunan omset dan jumlah produksi disaat pandemi Covid 19, namun ia mengaku tidak mengurangi jumlah karyawannya. Hal ini tak lain karena permintaan dan produksi rakik kacang masih terus berjalan.

“Meski terdampak Covid 19, kita tidak ada mengurangi jumlah pekerja. Saat ini pekerja kita ada 30 orang, semua masih kita berdayakan. Kita hanya mengurangi hari kerja saja, kalau hari kerja biasanya seminggu 6 hari, kita jadikan 5 hari kerja,” ujar wanita yang juga anggota Bhayangkari ini.

Meski terjadi pengurangan kuantitas produksi, namun tidak turut berpengaruh pada kualitas produksi. Cita rasa yang diproduksi tetaplah sama, dan begitu juga harga jual ke masyarakat.

“Kalau pengurangan kualitas tidak ada, begitu juga harga. Tetap sama. Yang terjadi perubahan itu hanya saat bahan baku melonjak naik, perubahannya seperti ini, cita rasa tidak berubah, tapi jumlah kacangnya yang kita kurangi sedikit. Harga jual tetap sama juga, seperti satu pcs itu Rp18.000,” ujarnya.

Saat dimintai tanggapan terkait bahan baku produksi, Febriani mengatakan jika dalam satu minggu ia bisa menghabiskan bahan baku seperti kacang sebanyak 2 ton perminggu, dan begitu juga dengan tepung. Namun, disaat pandemi Covid 19, terjadi penurunan bahan baku seperti kacang yang hanya digunakan sebanyak 1-1,5 ton perminggunya.

Untuk pemasaranya lanjut Febriani, ia bekerjasama dengan 8 agen. Seluruh agen memiliki wilayah pemasaran masing masing, baik di Sumatera Barat, maunpun di provinsi tetangga, Riau.

“Rakik kacang As Syifa ini telah kita pasarkan di Sumatera Barat, itu mencakup seluruh kabupaten. Di Riau, ada ke tembilahan, Kota Pekanbaru, Ujung Batu dan beberapa daerah lainnya. Dari total produksi kita, sekitar 40% itu dipasarkan ke Riau,” tambahnya.

Diakhir percakapannya, Febriani berharap usaha yang ia kelola tetap berjalan lancar. Sejak berdiri 2003 silam, dalam mengembangkan usaha makanan tradisional Minangkabau rakik kacang ini ia telah banyak melewati berbagai rintangan, salah satunya tempat usaha yang terbakar hingga ludes sekitar tahun 2013 silam.

“Kiat untuk bertahan ditengah pandemi Covid 19 itu bersyukur dan tetap menjaga kualitas” tutup Febriani.(eym)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top