Rakik Kacang As Syifa, UMKM yang Bertahan Disaat Pandemi Covid 19

Penulis -

Selasa, 3 November 2020 - 16:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tanah Datar, Prokabar – Pandemi Covid 19 yang melanda, mempengaruhi semua aspek kehidupan di masyarakat termasuk sektor ekonomi. Begitu juga dengan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Dikala sebagian UMKM kesulitan untuk bangkit dari keterpurukan, hal berbeda dialami usaha makanan ringan
Rakik Kacang As Syifa yang terletak di Jorong Kampung Tangah Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Tanah Datar.

Di tengah pandemi Covid 19, industri makanan tradisional Minangkabau ini masih tetap eksis dan bertahan. Dampak Covid 19 yang dialami hanya seperti penurunan omset, jumlah produksi, pemasaran, dan sektor lainnya.

Febriani (40), Pemilik usaha makanan tradisional Rakik Kacang As Syifa mengatakan 8 bulan Covid 19 melanda, penurunan omset yang ia alami mencapai 20 – 30 persen dibandingkan saat normal. Meski demikian, ia tetap bersyukur karena usaha yang ia kelola masih bisa bertahan sampai saat ini.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Dari usaha rakik kacang yang dibangun dari tahun 2003 ini, Febriani mampu meraup omset sekitar Rp100 – 120 juta disaat pandemi Covid 19. Dan, disaat kondisi normal, omset bisa berkisar dikisaran Rp150 juta.

“Alhamdulilah kita masih bisa beroperasi sampai saat ini. Kita akui ada dampaknya, dari sisi omset dan produksi itu sekitar 30%, jika biasanya dalam satu minggu produksi kita mencapai 6000 pcs, kini 5000 pcs. Satu hari itu kita tetap produksi 1000 pcs,” ucapnya saat ditemui ditempat produksi rakik kacangnya di Pagaruyung, Selasa (3/11).

Meski terjadi penurunan omset dan jumlah produksi disaat pandemi Covid 19, namun ia mengaku tidak mengurangi jumlah karyawannya. Hal ini tak lain karena permintaan dan produksi rakik kacang masih terus berjalan.

“Meski terdampak Covid 19, kita tidak ada mengurangi jumlah pekerja. Saat ini pekerja kita ada 30 orang, semua masih kita berdayakan. Kita hanya mengurangi hari kerja saja, kalau hari kerja biasanya seminggu 6 hari, kita jadikan 5 hari kerja,” ujar wanita yang juga anggota Bhayangkari ini.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Meski terjadi pengurangan kuantitas produksi, namun tidak turut berpengaruh pada kualitas produksi. Cita rasa yang diproduksi tetaplah sama, dan begitu juga harga jual ke masyarakat.

“Kalau pengurangan kualitas tidak ada, begitu juga harga. Tetap sama. Yang terjadi perubahan itu hanya saat bahan baku melonjak naik, perubahannya seperti ini, cita rasa tidak berubah, tapi jumlah kacangnya yang kita kurangi sedikit. Harga jual tetap sama juga, seperti satu pcs itu Rp18.000,” ujarnya.

Saat dimintai tanggapan terkait bahan baku produksi, Febriani mengatakan jika dalam satu minggu ia bisa menghabiskan bahan baku seperti kacang sebanyak 2 ton perminggu, dan begitu juga dengan tepung. Namun, disaat pandemi Covid 19, terjadi penurunan bahan baku seperti kacang yang hanya digunakan sebanyak 1-1,5 ton perminggunya.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Untuk pemasaranya lanjut Febriani, ia bekerjasama dengan 8 agen. Seluruh agen memiliki wilayah pemasaran masing masing, baik di Sumatera Barat, maunpun di provinsi tetangga, Riau.

“Rakik kacang As Syifa ini telah kita pasarkan di Sumatera Barat, itu mencakup seluruh kabupaten. Di Riau, ada ke tembilahan, Kota Pekanbaru, Ujung Batu dan beberapa daerah lainnya. Dari total produksi kita, sekitar 40% itu dipasarkan ke Riau,” tambahnya.

Diakhir percakapannya, Febriani berharap usaha yang ia kelola tetap berjalan lancar. Sejak berdiri 2003 silam, dalam mengembangkan usaha makanan tradisional Minangkabau rakik kacang ini ia telah banyak melewati berbagai rintangan, salah satunya tempat usaha yang terbakar hingga ludes sekitar tahun 2013 silam.

“Kiat untuk bertahan ditengah pandemi Covid 19 itu bersyukur dan tetap menjaga kualitas” tutup Febriani.(eym)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB