Rahmat Saleh Janji Perjuangkan Solusi Muara Dangkal dan BBM untuk Nelayan

Penulis -

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar  – Nelayan di Kelurahan Air Tawar Barat, Kecamatan Padang Utara, mengeluhkan kondisi muara sungai yang semakin dangkal pascabanjir bandang 27 September 2025
‎
‎Hal itu membuat aktivitas melaut terganggu dan diperparah dengan kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).
‎
‎Kondisi tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama Anggota DPR RI Komisi IV, Rahmat Saleh, saat kunjungan pada Sabtu (2/5/2026) siang.
‎
‎Para nelayan menyebut tumpukan material lumpur dan kayu di muara membuat kapal sulit keluar masuk, sehingga harus menunggu air pasang untuk melaut.
‎
‎“Sekarang kami tidak bisa bebas keluar masuk muara. Kalau pulang malam atau cuaca buruk, risikonya sangat tinggi,” ujar Didit, perwakilan nelayan.
‎
‎Dia menjelaskan, sekitar 25 hingga 35 nelayan terdampak langsung, dengan puluhan kapal tidak bisa beroperasi normal. Kondisi ini membuat pendapatan nelayan menurun drastis karena waktu melaut menjadi terbatas.
‎
‎Selain masalah pendangkalan, nelayan juga mengeluhkan sulitnya memperoleh BBM untuk melaut. Kondisi ini membuat sebagian kapal bahkan tidak dapat beroperasi sama sekali.
‎
‎“Kalau muara dangkal kami tidak bisa keluar, BBM juga susah. Jadi benar-benar terhimpit,” kata Didit.
‎
‎Menurut nelayan, hasil pengecekan di lapangan menunjukkan adanya sedimentasi tebal serta tumpukan kayu di dasar muara yang memperparah kondisi aliran sungai.
‎
‎Mereka khawatir, jika tidak segera ditangani, banjir susulan bisa berdampak lebih parah ke permukiman warga.
‎
‎Menanggapi hal itu, Rahmat Saleh menilai persoalan ini harus segera ditangani karena berdampak langsung pada penghidupan masyarakat pesisir.
‎
‎Rahmat menyebut pendangkalan sungai berada di bawah kewenangan Balai Wilayah Sungai (BWS), namun dampaknya juga menyangkut sektor perikanan yang menjadi lingkup Komisi IV DPR RI.
‎
‎Rahmat menegaskan pentingnya penanganan berbasis data dan kajian teknis yang jelas, termasuk pengelolaan material sedimentasi agar tidak menimbulkan masalah baru.
‎
‎“Ini harus cepat ditangani, tapi juga harus tepat secara kajian. Jangan sampai penanganannya justru menimbulkan persoalan baru,” ujarnya.
‎
‎Rahmat memastikan seluruh aspirasi nelayan, termasuk persoalan BBM dan akses muara, akan dibawa ke tingkat pusat untuk dicarikan solusi lintas sektor.
‎
‎“Ini akan kita dorong di pusat agar ada solusi nyata untuk nelayan,” tutupnya.

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 
Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh
KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:21 WIB

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB