PSH Unand Dan Niniak Mamak Bahas Hari Jadi Agam, Begini Pembahasannya

Penulis -

Jumat, 26 Juni 2020 - 00:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lubuk Basung, Prokabar — Pemerintah Kabupaten Agam kembali serius membuka sejarah Kelahiran atau Hari Jadi Agam. Dalam hal itu, Pemerintah Kabupaten Agam melibatkan Pusat Studi Humaniora Universitas Andalas sebagai Tim Ahli Sejarah bersama OPD terkait beserta Ninik Mamak dan tokoh masyarakat lainnya.

Focus Group Discussion atau FGD tersebut terselenggara melalui Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah Setda Agam di Kepalai oleh Hilton, di Aula Bupati Agam, Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Kamis (25/6). Dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Agam, Martias Wanto, Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, Kepala Dinas Kearsipan dan lainnya.

Sementara itu, dari Pusat Studi Humaniora Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (PSH FIB Unand) hadir Dr. Lindayanti, Dr. Zulqayyim, Dr. Zayardam, Dr. Lindawati, Bahren, S.S, M.A dan Hary Efendi, S.S, M.A.

“Tadi kita melakukan FGD penentuan Hari Jadi Kabupaten Agam. Sebenarnya merupakan agenda yang tertunda akibat bencana kesehatan Covid-19. Dan hari ini, kegiatan sudah bisa dilaksanakan dengan tetap dengan standar Protokol Kesehatan,” terang Sekda Kabupaten Agam, M. Datuak Maruhun, saat ditemui Prokabar.com, Kamis (25/6).

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Saat ini lanjutnya, Pemerintah Kabupaten Agam bersama Pusat Studi Humaniora dan Tokoh Masyarakat Agam lainnya, merancang, mencari dan merumuskan hingga nanti akan mengusulkan ke DPRD melalui Peraturan Daerah untuk penentuan dan penetapan Hari Jadi Kabupaten Agam ini.

“Ini merupakan Prioritas utama dari Bupati Agam karena kita belum mendapat kepastian Hari Jadi Kabupaten Agam. Yang ada baru penetapan Hari Kepindahan Ibukota Kabupaten Agam dari Bukittinggi ke Lubuk Basung,” ujarnya.

Di Tahun 2020 ini Pemerintah Kabupaten Agam berkomitmen agar dapat merumuskan dan menetakan Hari Jadi Kabupaten Agam ini. Berdasarkan hasil diskusi dan pemapatan penelitian Tenaga Ahli Sejarah dari Pusat Studi Humaniora Unand, terdapat dua pendekatan teoritis penetapan Hari Jadi Kabupaten Agam tersebut. Yakni dari Histori, Heroik dan Yuridis.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

“Berbicara dengan sejarah Agam, kita tidak bisa melepaskan dengan Sejarah Minangkabau. Karena hal ini adalah satu-kesatuan yang sangat berkaitan erat Luhak Agam. Merupakan bagian dari salah satu dari tiga Luhak di wilayah Minangkabau,” ungkap Zulqayyim, Ketua Tim Pusat Studi Humaniora Unand.

Sejak dahulu lanjutnya, Agam dikenal dengan daerah terlengkap dengan dataran tinggi, dataran rendah, pegunungan dan perbukittan. Agam dengan beragam maknanya mengandung keberanian, kepahlawanan, keperkasaan dan ketangkasan. Agam juga memiliki filosofi Airnya Keruh, Ikannya Liar, Buminya Panas disertai Warna simbol atau lambang Merah.

“Dari sisi sejarah jelas harus merujuk dari fakta-fakta sejarah yang tercatat, terdokumentasikan dan data-data pelengkaplainnya. Kajiannya harus secara akademik. Tidak bisa dari sisi budaya (Cerita Rakyat atau Tambo),” jelasnya.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Berbicara tentang Agam, bermula dari Sejarah Tiku sebagai pusat Perdagangan tempo dulu. Pada 1600 Masehi, tercatat dalam sejarah melalui penelitian N. Mac Leod menjelaskan Tiku tumbuh dan berkembang menjadi pelabuhan lada utama di Pantai Barat bagian tengah Sumatra. Dan menjadi entreport atau kota dagang bagi orang daratan tinggi Agam (Agamers).

Orang Agam (Agamers) juga berdagang sampai sampai ke Pariaman, Padang dan kota-kota lainnya di Pesisir Barat Pulau Sumatra. Sebaliknya, Tiku juga menjadi pemasok kebutuhan daerah dataran tinggi yaitu kain, ikan kering, garam, minyak kelapa dan lain-lainnya.

Sementara, secara detailnya berdasarkan penelitian E.B. Kielstra mencatat bahwa pada 29 Januari 1665, terjadi penyerangan Logi VOC di Tiku oleh penduduk Tiku dan Pedagang Agam, dibantu Orang Aceh. “Penyerangan tersebut disebabkan ketidaksukaan penduduk lokal dan Orang Minang karena Sistem Dagang Monopoli Penjajah tersebut,” tukuk Zulqayyim. (rud)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB