Payakumbuh, Prokabar – DPRD Payakumbuh melalui sejumlah fraksi, menyorot kelanjutan proyek incinerator (pengolahan atau pembakaran limbah medis).
DPRD Payakumbuh, bereaksi atas dugaan mangkrak kelanjutan proyek bernilai miliaran rupiah, yang berlokasi di Kelurahan Ompang Tanah Sirah, Talawi, kecamatan Payakumbuh Utara ini.
“Pak Walikota, pada RSUD dr. Adnan WD Payakumbuh kami dengar urusan pemindahan bangunan incinerator masih menimbulkan riak-riak di tengah masyarakat.
“Sejauh mana persoalan ini telah diatasi? Bagaimana kondisi terakhir di lapangan menyangkut lokasi pemindahan bangunan incinerator tersebut. Apakah incinerator tersebut sudah difungsikan dan beroperasional,” ujar juru bicara Fraksi Bintang Nasdem, Syafrizal, dalam pandangan umum fraksinya pada rapat paripurna DPRD terkait pembahasan 4 buah Ranperda yang digelar di ruang sidang DPRD setempat baru-baru ini.
Tidak hanya Fraksi Bintang Nasdem saja yang mempertanyakan proyek pembangunan incinerator yang telah menghabiskan uang negara berjumlah Milliaran Rupiah yang bersumber dari rakyat itu.
Namun fraksi PDI.P-Hanura dalam rapat paripurna DPRD membahas 4 buah Raperda, juga mempertanyakan keberadaan proyek pembangunan pengolahan atau pembakaran limbah medis atau disebut incinerator yang sampai kini tidak jelas nasibnya itu.
“Pada RSU dr. Adnan WD Payakumbuh kami dengar urusan pemindahan bangunan incenerator masih menimbulkan riak-riak di tengah masyarakat. Sejauh mana persoalan ini telah diatasi? Bagaimana kondisi terakhir di lapangan menyangkut lokasi pemindahan bangunan incenerator tersebut? Apakah incinerator tersebut sudah bisa difungsikan dan beroperasional. Mohon penjelasan,” pinta juru bicara Fraksi PDI dan P-Hanura.
Sementara itu Fraksi Partai Golongan Karya dalam pandangan umum fraksinya meski tidak menyorot secara spesifik soal pembangunan incenerator yang masih menimbulkan riak-riak di tengah masyarakat. Namun Fraksi Golongan Karya melayangkan sindiran halus yang sangat menusuk kepada Walikota Payakumbuh terkait soal pemanfaatan anggaran daerah yang dialokasikan untuk pembangunan fisik yang dikelola Pemko Payakumbuh.
“Pembangunan fisik haruslah menjadi perhatian. Bukan hanya sekadar out put. Out Come, benefit dan impact, juga hendaknya menjadi bahan kajian. Sebuah bangunan yang tidak bermanfaat, kemudian lapuk ditelah masa, membuat kita terenyuh, sedih dan terkadang bercampur dengan kekecewaan,” ujar juru bicara Fraksi Partai Golongan Karya, Maharnis Zul.
Tak hanya soal pemanfaatan bangunan fisik itu saja yang disindir juru Fraksi Partai Golongan Karya, Maharnis Zul, dia juga menekankan bahwa, kualitas bangunan juga hendaknya jadi perhatian. “Tergiang ditelinga kita, ada orang tua menyidir dengan sebuah ungkapan; “Minyak habis, samba tak lamak.Arang habis, besi binasa. Rumah sudah, tokok babunyi.
Ungkapan ini mecerminkan sebuah ketidakpuasan dan harus menjadi sebuah cemeti bagi kita,” ujar Maharnis Zul mewanti-wanti. (vbm)
















