Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Produksi Batik Sampan di kota Pariaman Kembali Bergeliat

Dibaca : 118

Pariaman, Prokabar — Produksi Batik Sampan di kota Pariaman Sumatera Barat (Sumbar) kembali menggeliat, yang tak lepas dari bantuan Dinas Perindagkop.

Menurut Kadis Perindagkop Kota Pariaman, Gusniyeti Zaunit,  ada dua kelompok pengrajin Batik Sampan yang masih bertahan.

“Ada dua kelompok pengrajin Batik Sampan yang masih bertahan hingga kini, saat pandemi datang usaha batik tersebut sempat “guncang”, lalu kami dukung dengan menambah modal serta membeli produk usaha batik,”ungkap Gusniyeti dilansir Prokabar dari MC Pariaman, Kamis (1/10).

Gusniyeti menjelaskan, produksi batik yang dibeli pihaknya semata-mata untuk membantu para pengrajin agar tidak berpindah profesi. “Produksi mereka yang kami “ambil” diberikan kepada dinas-dinas Pemerintahan Pariaman ,”sebut Gusniyeti.

Ia mengungkapkan, pada akir Maret 2020, pandemi membuat para pengrajin kewalahan lantaran pasar sepi. Semenjak itu pula dinas terkait membantu untuk bertahan. Di kota Pariaman ada dua kelompok pengrajin Batik Sampan yang masih bertahan yakni di Desa Sungai Kasai dan Desa Pungguang Ladiang.

Pengrajin dari Desa Sungai Pasai bernama Rahmayeni (30) yang mempunyai delapan orang anggota menjelaskan awal dirinya merintis usaha batik tersebut. Usahanya diberi nama IKM Pesona Minang.

“Pada Oktober 2019 saya pulang dari rantau. Sampai di Pariaman saya lihat peluang ekonomis dari usaha Batik Sampan. Dari sana lah saya memulai usaha secara manual,” jelas Rahmayeni.

Produksi pertama Batik Sampan Rahmayeni yang bermotif Tabuik dipertunjukkan kepada Dinas Perindagkop. “Kadis datang langsung ke sini dan bersedia membantu. Lalu saya diajak mengikuti pelatihan dan juga dibantu hal lainnya sehingga sampai sekarang masih bertahan,” jelasnya.

Rahmayeni juga mengatakan, ada 8 orang anggotanya. Dalam sebulan mereka bisa mengerjakan puluhan Batik Sampan dengan motif Tabuik, Sala dan ikon Pariaman lainnya.”Di sini anggota dapat bayaran setiap harinya, mulai dari 40 hingga 50 ribu rupiah,” ulasnya.

Sementara itu untuk harga Batik Sampan, dibanderol mulai dari harga dua ratus hingga lima ratus ribu rupiah.

Cerita tentang Rahmayeni senada dengan penjelasan Dewi, pengrajin Batik Sampan 3 Diva. Di Desa Pungguang Ladiang.”Kami ada 10 anggota yang bekerja dari Senin hingga Sabtu. Dalam sebulan bisa mengerjakan sekitar 30 batik dengan motif ikon kota Pariaman ,” jelas Dewi.

Saat ini pihaknya sedang menggagas pemasaran online karena tuntutan pandemi. “Ya semenjak pandemi kami harus mencari peluang pemasaran melalui online, karena kondisinya seperti itu,” sebut Dewi. (*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top