Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

“Pribadi Hebat” Buya Hamka (Bagian II)

Dibaca : 268

Agam, Prokabar — Kisah inspiratif dan motivasi Buya Hamka kita lanjutkan dari Buku Pribadi. Setelah mengupas pendahuluan, sekarang kita masuk pembahasan satu tentang arti dari “Pribadi”. Buya Hamka mengupas habis tentang “Orang Budiman”, “Orang Cerdas”, “Orang Masyarakat”, “Orang Sehat”, dan “Orang Cerdik Pandai”.

Sering kali kita membicarakan orang yang kita cintai atau hormati atau yang telah berpisah dengan kita. Kita ingat segala kebaikannya dan tidak ketinggalan juga kita membicarakan kelemahannya.

Perangainya halus, hatinya suci, sikapnya jujur, perkataannya teratur, dan budinya mulia. Kelakuannya baik, mukanya jernih karena ia memandang hidup dengan penuh pengharapan dan tidak pernah putus asa. Apa yang diyakini, itulah yang dikatakannya dan apa yang dikatakannya, itu yang diyakininya. Karena itu, kita memgambil kesimpulan bahwa dia seorang ” budiman”.

Dia cerdas, akalnya tajam, buah pikirannya baik, dan ia pun cepat mengambil keputusan, terang otaknya, luas pandangannya, Dan jauh tiliknya. Karena itu, kita katakan Bahwa ia “cerdas”.

Dia suka bergaul, suka menolong, tidak menyisih dari masyarakat, tidak memikirkan kepentingan diri sendiri atau keluarganya saja, tidak gila pangkat, mengerti kedudukan orang lain, dan merasa dirinya ikut dalam kedudukan itu. Hormat pada orang tua, kasih kepada yang muda, pandai bergaul, pandai berkawan. Kita gelarilah dia gelar “orang masyarakat”.

Tubuhnya sehat, mukanya berseri-seri karena kesehatan tubuh dan jiwanya. Pakaiannya bersih karena bersih hatinya. Dia gemar olahraga untuk kesehatan tubuh dan suka untuk kesehatan batin. Kita namai dia orang “sehat”.

Pemahamannya luas, penyelidikannya dalam, bacaannya banyak. Karena itu, banyak yang diketahuinya sehingga Dia tidak merasa canggung dalam pergaulan dengan segala lapisan. Oleh karena ada pengetahuannya dalam suatu hal, dia bertanggung jawab. Kita namai dia orang yang “cerdik pandai”.

Semuanya, yaitu budi, akal, pergaulan, kesehatan dan pengetahuan, berkumpul menjadi satu pada satu orang. Kumpulan itulah yang membantuk suatu “pribadi”. Lemah atau kuat, berlebih atau berkurang dari yang disebutkan itu menyebabkan lemah atau kuat, lebih atau kurangnya pribadi. Dialah yang menentukan mutu seseorang.

A. Nilai Seseorang adalah Pribadinya.

Dua ekor kerbau yang sama gemuknya, sama kuat dan sama pula kepandaiannya menarik pedati, tentu harganya tidak jauh berbeda. Akan tetapi, dua puluh manusia yang sama tinggi dan sama kuat, belum tentu sama “harganya”. Sebab bagi kerbau tubuhnya saja yang berharga. Bagi manusia adalah pribadinya.

Orang yang berilmu saja, walau ia sangat ahli dalam satu bidang, belum tentu berharga dan belum tentu memperoleh kekayaan dalam hidup apabila sekiranya bahan pribadinya yang lain tidak lengkap atau tidak kuat terutama budi dan akhlak.

Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, dan orang yang memiliki banyak koleksi buku serta diplomanya segulung besar dalam masyarakat dia menjadi mati sebab dia bukan “orang masyarakat”. Hidupnya hanya mementingkan diri sendiri dan diplomanya, hanya untuk mencari harta. Hatinya sudah seperti batu, tidak mempunyai cita-cita selain kesenangan dirinya. Pribadinya tidak kuat, karena ia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Dan kepandaiannya yang banyak sering menimbulkan ketakutan, bukan menimbulkan keberanian untuk memasuki dan menjalani hidup.

Jangan disangka bahwa pribadi yang besar dan kuat hanya semata-mata memakai sifat yang terpuji saja. Tidak! Bahkan sebaliknya, bertambah besar pribadi seseorang, bertambah jelas letak kelemahan dan kekurangannya. Orang Arab berkata, “Idzaa Tamma syai’un Badar naqshuhu,” yang artinya apabila sesuatu telah sempurna, jelaslah kekurangannya.

Hal itu sangat penting! Jika kita berkawan atau bersahabat dengan orang, harus kita ketahui bahwa sebagai manusia dia harus mempunyai suatu sisi yang dipenuhi perasaan semata. Hanya orang bodoh yang dipenuhi perasaan dan sentimen. Apabila ia sayang, ia lupa segala kesalahan dan apabila ia berani, ia pun lupa segala kebajikan.

B. Arti Pribadi
Bukan pula hal yang mudah mengupas dan menunjukan arti pribadi. Hal itu termasuk perkara gaib yang hanya dapat ditunjukan bekasnya, tetapi tidak dapat diraba barangnya. Tidak ada bedanya dengan listrik, aether dan radio. Pribadi seseorang dapat diketahui setelah melihat perjalanan hidupnya dan rekam jejak usahanya.

Sudah ringkas namanya, jika kita katakan bahwa pribadi itu sebagai berikut.
1). Kumpulan sifat dan kelebihan diri yang menunjukan kelebihan seseorang daripada orang lain sehingga ada manusia besar dan manusia kecil. Ada manusia yang sangat berarti hidupnya dan ada yang tidak berarti sama sekali. Kedatangannya tidak menggenapkan dan kepergiannya tidak pula mengganjilkan.

2). Kumpulan sifat akal budi, kemauan, cita-cita dan bentuk tubuh. Hal itu menyebabkan harga kemanusiaan seseorang berbeda dari yang lain.

Tinggi rendahnya pribadi seseorang adalah karena usaha hidupnya, caranya berfikir, tepatnya berhitung, jauhnya memandang dan kuatnya semangat diri sendiri. Meneropong suatu pribadi tidak boleh terpengaruh oleh rasa sayang dan benci. Sering kali terjadi, baru saja kita bertemu dengan seseorang, lantas kita menyayanginya atau kebalikannya. Padahal, belum patut ada hubungan sayang dan benci dalam perkara itu. Memang, terkadang kita sayang kepadanya karena keikhlasannya, kemuliaan hatinya, kesetiaan dan keberaniannya. Kita benci karena dia curang, tidak mengenal kejujuran dan kejujurannya pun tidak pernah pula berkenaan dengan dia, bakhil, benalu, penohok kawan, dan penggunting dalam lipatan. Akan tetapi, terkadang juga kita menyayangi seseorang karena orang itu mau kita perkuda untuk kepentingan kita sendiri. Atau, kita membenci bukan karena ia bersalah hanya karena kita sendiri orang pendengki.

Sangat perlulah kita mempelajari pribadi manusia. Akan tetapi, lebih penting lagi seperti kata Socrates yang terkenal, “Kenalilah siapa dirimu, kenalilah pribadimu sendiri!”.

Namun, haruslah kita sadar pula bahwa mengenal diri sendiri seribu kali lebih sukar dari pada keinginan mengetahui pribadi orang lain. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Berbahagialah orang yang mementingkan memperhatikan cela diri sendiri sehingga tidak sempat memperhatikan cela orang lain.” (HR. Al-Bazzar).

“Jelaskanlah siapa engkau dan tentukanlah maksut ujudmu,” kata Fichte.

Apakah karakter suatu pribadi merupakan bawaan lahir atau dapat diusahakan? Sudah jelas bahwa bentuk kehidupan manusia telah ada sejak dalam rahim ibu. Dahulu hal itu masih diragukan dan dipandang sebagai dongeng saja. Akan tetapi, menurut majalah Woman bahwa di Universitas Antioche di Ohio (Amerika) perkumpulan dokter yang meneliti ibu hamil telah mendapatkan beberapa bukti bahwa kegembiraan atau kesedihan seorang ibu yang sedang mengandung berpengaruh juga kepada berat atau ringannya timbangan bayi setelah ia dilahirkan. Penjagaan kesehatan dan perasaan ibu saat mengandung sangat mempengaruhi perkembangan pribadi kandungannya kelak. Setelah anak lahir, dunia telah menunggu lingkungan tempat dia diasuh dan dibesarkan. Setelah dewasa menunggu pula pergaulan yang lebih luas yaitu masyarakat.

Sangat penting juga pendidikan di Delilah. Apabila suatu masyarakat telah merdeka, berdemokrasi, berbudi tinggi, sangguplah masyarakat itu menimbulkan pribadi yang kuat.

C. Pribadi Tidak Berkembang karena Tekanan.
Kerasnya didikan orang tua merampas kemerdekaan anaknya. Kurangnya tanggung jawab seorang guru saat mengajar, masyarakat yang masih kolot, bodoh dan belum pandai menghargai pertumbuhan seseorang serta penjajahan bangsa atas bangsa. Semuanya itu dan beberapa sebab yang lain menghalangi tumbuhnya pribadi.

Bersyukurlah kita tidak terjajah lagi. Satu penyakit yang menjadi pangkal dari banyak penyakit yang lain telah terhindar. Akan tetapi, sisa penjajahan jiwa masih melekat dan sukar mengikisnya. Misalnya dua perkara yang besar. Pertama, kebelanda-belandaan dan kedua, pergaulan kolot. Dua hal itu masih mempengaruhi sebagian besar masyarakat. Bagaimana seorang ayah atau seorang guru akan cepat melepaskan diri dari ikatan itu? Padahal ayah dan gurulah yang wajib terlebih dahulu menuntun kemerdekaan tumbuhnya pribadi anak. Ayah dan guru belum berani menentang pendapat umum dan sulit melepaskan diri dari pengaruh didikan sendiri. Sebab itu, “plat” pikiran dan pandangan hidupnyalah yang hanya dapat dialihkan kepada putra dan muridnya. Didikan selama ini hanya menurut, berpikir dengan pikiran orang lain, dan tidak berani atau tidak sanggup menyatakan pendirian sendiri.

Selama masa penjajahan, bangsa yang menjajah berusaha menekan pribadi kita supaya tidak tumbuh. Diberinya kita ilmu, tetapi keberanian kita dihambat. Sampai kepada hal terkecil menimbulkan kesan semakin lama semakin masuk ke dalam pikiran kita bahwa kita tidak sanggup dan tidak mampu mendapatkan sesuatu. Meskipun bangsa kita telah diberi banyak gelar Arts, Mr, Dr, It dan lain-lain dalam pemberian pangkat yang bertanggung Kawan, bangsa kita tidak mendapat kepercayaan. Setinggi-tingginya pangkat bangsa Indonesian adalah regent atau demang. Walaupun tua dan banyak pengalamannya, dia tidak dapat membatasi kedudukan seorang kontelir. Kelihatanlah di kantor-kantor, orang-orang yang telah kehilangan pribadi dan kehilangan cita-cita. Suburlah jiwa budak yang cita-citanya hanyalah pensiun di hari tua. Untuk itu, dia bersedia menerima kehinaan dan tekanan.

Jiwa rakyat yang telah sangat menderita itu, niscaya akan muncul pribadi-pribadi besar yang sanggup mencabik dan merobek segala dinding yang mengurungnya. Pribadi yang besarlah yang dapat menimbulkan kebangsaan dan keteguhan bangsalah yang dapat memupuk pribadi.

Negara dan bangsa yang merdeka juga dapat menumbuhkan kemerdekaan pribadi. Orang menerima pembagian pekerjaannya dengan rela. Biarpun dia menjadi supir, tukang becak, penjual sayur, tidak dirasakan ada manusia yang menekannya. Segala kewajiban itu akan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Dia yakin bahwa pekerjaan yang lain tidak akan selesai, sekiranya pekerjaannya tidak selesai pula. Dia adalah anggota dari satu bangsa besar dan kumpulan segenap pribadi, itulah yang menjelmakan pribadi bangsa. (**)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top