Pasaman, Prokabar – Kembali maraknya aksi illegal loging di Pasaman, ternyata tidak isapan jempol semata. Usai ditimpanya satu unit truck colt diesel BA 8958 RN yang diduga bakal menjemput kayu illegal loging pada Selasa (14/8) kemarin, Prokabar.com pun melalukan investigasi di perbukitan Tonang. Begini hasilnya.
Bekas pohon yang teramat besar menimpa truck masih tersisa jelas Rabu (15/8). Puing-puing masih berserakan di tengah jalan Kampuang Padang, tepatnya jalan Padang Sarai menuju perbukitan Tonang. Sumpah serapah masyarakat masih terngiang jelas mengutuk aksi illegal loging yang diduga dilakukan oknum polisi Polres Pasaman, Bripka YA alias A yang selamat saat ikut tertimpa bersama mobilnya.
Didampingi salah seorang pemuda setempat, Sadam (35), Prokabar.com bertolak menuju lokasi keluarnya kayu illegal loging.
Siapa sangka, jalan Tonang yang mulus dan rencananya mempermudah masyarakat dalam akses transportasi ke kebun atau antar kabupaten tetangga, Pasaman Barat, juga melicinkan proses pengangkutan kayu hasil illegal loging.
Tidak perlu berjam-jam ternyata. Hanya perjalanan dengan sepeda motor sekitar 30 menit, lokasi titik kumpul kayu yang turun dari perbukitan dapat ditemukan dengan mudah. Bahkan motor becakpun bisa mengakses ke lokasi yang berada di bibir jalan besar, tepatnya di kilometer 14. Lewat sedikit dari perbatasan antara Kabupaten Pasaman-Pasaman Barat.
“Itu pak, kayu-kayu illegal loging semuanya. Rencananya bakal diangkut mobil yang tertimpa pohon itu. Tapi azab Tuhan lebih dulu menimpanya,” kata Sadam.

Cukup banyak ternyata kayu yang ada di titik penjemputan ini. Berbagai macam ukurannya. Mulai dari berbentuk papan hingga balok. Kayunya pun beragam, ada rimba campuran bahkan ada jenis meranti alias banio.
“Ini banio pak, itu madang, kalau yang ini campuran,” kata Sadam.
Penasaran dengan aksi illegal loging ini, Prokabar.com pun mencari informasi kepada masyarakat setempat. Aksi illegal loging ini ternyata kembali leluasa satu tahun belakangan. Mainnyapun cukup cantik. Beberapa orang tukang chain shaw bakal naik ke perbukitan. Siapa saja tukang chain shaw yang sudah bekerjasama dengan cukong dengan bebas membabi buta kayu apa saya di rimba belantara Bukit Tonang. Asalkan besar, tebang semua. Tidak perlu pikir panjang, bagi operator chain shaw teramat penting itu ukuran kayu sesuai permintaan cukong.
Bahkan, seiring leluasanya para pemain kayu illegal loging ini, dulu untuk mengangkut kayu hasil olahan tukang chain shaw, cukong mempekerjakan masyarakat sebagai tukang gendong ke kaki bukit. Upahnya tergantung jenis dan banyak kayu yang diangkut.
“Biasanya upah gendong hitung per batang kayu. Jika dirata-ratakan, tukang gendong ini menerima upah sekitar Rp100 ribu per hari,” kata Sadam.

Kondisi ini diakui masyarakat semakin mencekam, saat cukong tidak lagi menyewa tukang gendong, melainkan menggunakan kerbau beserta manusia sebagai operatornya. Bahkan, kerbau-kerbau dan operatornya ini didatangkan dari luar Pasaman. Upahnya ganas, mencapai Rp3 juta per minggu untuk satu kerbau dan operatornya. Tapi hasilnya jangan ditanya, berkubik-kubik kayu hasil olahan operator turun dengan mudah ke kaki bukit atau titik kumpul untuk dimuat cukong.
“Sekarang sudah pakai kerbau, pak. Kalau kerbau, sekali angkut bisa membawa kayu sampai setengah kubik. Itu dia salah satu kerbau gendongnya pak,” kata Sadam sembari memperlihatkam salah seekor kerbau yang tidak jauh dari lokasi titik kumpul kayu untuk dimuat para cukong.

Ironisnya, tidak satu atau dua cukong yang bermain kayu illegal loging di Bukit Tonang. Ada banyak cukong ternyata. Bahkan dari daerah Pasaman Barat juga ada.
“Kalau di Pasaman, nama bapak polisi yang tertimpa pohon itu, tidak asing lagi bagi kami masyarakat. Dia pemain besar. Kami masyarakat hanya bisa diam, sebab sudah aparat benar yang berulah,” tutup Sadam. (Ola)
















