Plup Plup Tot Tot Gonggongan Pejabat

Penulis -

Jumat, 25 April 2025 - 14:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Muhammad Pajri Zullian

Mahasiswa UIN Imam Bonjol

Wiwiwii… Itu suara ambulans, menembus kemacetan, merebut setiap detik antara hidup dan mati. Siapa pun tahu, begitu sirine itu meraung, semua harus minggir. Soal nyawa, tak ada tawar-menawar.

Uwiwuwiu… Kini giliran pemadam kebakaran. Potongan asap dan api jadi latarnya. Mereka berlari lewat, mengejar waktu sebelum semuanya jadi abu. Lagi-lagi ini soal menyelamatkan harapan, bukan sekadar jalan.

Plup plup tot tot… suara itu tiba-tiba muncul. Bukan ambulans, bukan pemadam. Tapi iring-iringan mobil dinas berlampu merah muda. Bukan untuk tugas kemanusiaan, hanya agar pejabat bisa buru-buru balik ke rumah, takut kehabisan nasi goreng langganan, atau sekadar menghindar kena macet.

Di jalan raya kita sebenarnya diajari satu hal, kalau sirine itu untuk nyawa, kita harus hormat.

Kalau untuk api, kita rela berhenti.

Tapi kalau sirine itu cuma “plup plup tot tot”, rakyat kecil tetap dipaksa minggir.

Seolah-olah di aspal sana, urusan orang-orang penting selalu lebih mendesak. Pukul lima sore, matahari mulai condong ke barat. Asap knalpot menggantung tebal, laju kendaraan nyaris tak bergerak. Tiba-tiba terdengar lagi, plup plup tot tot dan tiba-tiba jalur di depan itu sudah kosong.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rakyat cuma bisa menahan gerutu, geser ke tepi, sambil berharap motor mereka tak tersenggol kaca film gelap.

Apa yang sesungguhnya darurat di sini? Kejar setoran Instagram? Update status “tiba di rumah”? Atau sekadar nikmati sofa empuk?

Dahulu, sirine mengabarkan nyawa yang terancam. Kini ia jadi tanda ego yang mengecam. “Saya lebih penting daripada kalian.”

Ambulans berbunyi untuk jiwa. Pemadam berbunyi untuk keselamatan. Plup plup tot tot berbunyi untuk… “yahh kita tau kan”. Sirine mulia pun dipakai untuk mempercepat perjalanan mereka, sementara kita yang bertaruh nyawa di kemacetan dianggap sekadar pajangan di pinggir jalan. Di negeri ini, kasta jalanan terbaca jelas: Wiwiwii untuk nyawa, Uwiwuwiu untuk bencana, dan plup plup tot tot untuk privilege. Rakyat? Hanya selingan, yang dituntut mengerti kenapa mereka harus mengalah, tapi tidak pernah punya hak untuk dimengerti.

Di negeri ini, jalan raya bukan sekadar aspal dan marka, tapi cermin mentalitas berbangsa. Yang bersirine bahkan dengan suara plup plup tot tot yang setengah malu-malu berhak melaju.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Yang tanpa sirine? Silakan minggir, sabar, dan jangan banyak tanya.

Saat fenomena ini dipertanyakan, jawabannya klise: “Rakyat harus paham.” Paham bahwa pejabat itu sibuk. Bahwa pejabat itu penting. Bahwa jalanan harus dilapangkan demi mereka.

Tapi, siapa yang paham pada rakyat?

Pada ibu-ibu yang terlambat menjemput anaknya?

Pada pengemudi ojek online yang kejar setoran?

Pada buruh yang harus cepat sampai rumah demi sesuap nasi?

Kalau rakyat terus diminta paham, tanpa hak untuk dipahami balik, maka sirine plup plup tot tot itu bukan hanya simbol suara pejabat, tapi juga tanda bahwa di negeri ini, hubungan antara kekuasaan dan rakyat sudah terlalu miring, Suara nurani dan keadilan pun perlahan terasa kering..

Negeri ini sudah terbiasa mendengar plup plup tot tot lebih keras dari suara rakyat yang mengeluh mahalnya sembako.

Lebih keras dari jeritan petani yang lahannya tergusur.

Lebih keras dari suara mahasiswa yang menuntut keadilan.

Di antara raungan sirine itu, rakyat kecil hanya jadi figuran, mengalah, menepi, dan berharap entah kepada siapa.

Pejabat melaju di jalur kosong, meninggalkan rakyat dalam kemacetan yang tak berujung. Tidak hanya macet di jalanan, tapi macet dalam peluang, dalam keadilan, dalam harapan.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Plup plup tot tot itu adalah lagu latar dari ketidaksetaraan yang diperdengarkan tanpa rasa bersalah.

Pada akhirnya, ini bukan soal bunyi.

Bukan soal siapa yang lebih nyaring.

Ini soal siapa yang lebih memahami makna berjalan bersama.

Sirine ambulans dan pemadam akan selalu mendapat jalan karena rakyat tahu, ada nyawa yang dipertaruhkan. Tapi untuk plup plup tot tot demi kenyamanan pejabat, rakyat kini mulai mengencangkan rahang dan mengepalkan tangan.

Bangsa yang besar bukan diukur dari berapa keras sirinenya berbunyi, tapi dari berapa setara rakyatnya merasa saat berjalan di jalan yang sama.

Sampai hari itu tiba, kita semua, dari sopir angkot, ojek online, pegawai rendahan, hingga ibu-ibu bersepeda motor akan terus mendengar plup plup tot tot itu, sambil bergumam dalam hati, “Suara mobil ini tak ubahnya seperti gonggongan anjing yang menanti tulangnya.”

Plup plup tot tot. Selamat menikmati jalanan, wahai para pemilik suara paling lucu di republik ini.

Penulis : Opini

Editor : Nofal Wiska

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB