Daerah

Petugas Medis Demo, Minta Dirut RSUD Padang Pariaman Mundur dari Jabatan

Padang Pariaman, Prokabar – Sejumlah Petugas Medis menggelar aksi demo atas beberapa persoalan yang memuncak di halaman RSUD Padang Pariaman, Sumbar, Rabu siang (18/7). Puncak permasalah dipicu adanya tuduhan yang disampaikan Dirut RSUD bahwa dua persen dari petugas dan pegawai terlibat teroris di daerah tersebut.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Padang Pariaman, Aspinuddin permasalahan demo dilakukan sejumlah petugas medis itu karena peraturan yang diterapkan beberapa waktu lalu.

Salah satu aturan yang ditetapkan tersebut lanjutnya terkait memulai melakukan pelayanan medis dari pukul 7.30 WIB.
“Dokter spesialis itu tahunya melayani dan tidak tahu maksud dari aturan yang dibuat. Jadi masalah sebenarnya bukan tuduhan teroris yang disampaikan Direktur RSUD itu,”katanya.

Aspinundin melanjutkan, terkait tuntutan petugas medis yang dipimpin oleh dokter spesialis tersebut untuk meminta Direktur RSUD untuk berhenti, sepenuhnya bergantung kebijakan atau kewenangan Bupati Padang Pariaman, Ali Mukhni.

Selain itu, Direktur RSUD Padang Pariaman, dr. Lismawati mengatakan memang sedang menegakkan aturan berdasarkan peraturan Pemerintah nomor 11 tahun 2017.

“Saya hanya menegakkan aturan yang ada. Berharap dapat meningkatkan pelayanan RSUD Padang Pariaman,”kata dr. Lismawati.

Terkait informasi tuduhan teroris tersebut, lanjutnya didapatkan ketika mengikuti pelatihan di Bali beberapa waktu lalu.

“Kalimat adanya petugas medis dan karyawan terlibat teroris itu saat saya mengikuti pelatihan. Informasi tersebut kemudian saya sampaikan kepada karyawan di sini. Saya tidak bermaksud atau menuduh karyawan di RSUD Padang Pariaman terlibat teroris,”ujarnya.

Ia pasrah terkait diberhentikan atau tidaknya dia sebagai direktur RSUD Padang Pariaman diserahkan sepenuhnya kepada Bupati Padang Pariaman,” ujarnya.

Sementara itu, dr. Efriadi, salah seorang Dokter Spesialis mewakili rekan-rekannya berdemo mengatakan, tuduhan tersebut dipicu Dirut RSUD itu menuduh adanya tenaga medis dan pegawai terlibat teroris.

“Kami meminta direktur itu untuk meminta maaf baik lisan maupun tulisan dan berhenti dari jabatannya. Kalau tidak kami yang berhenti,” katanya.

Meskipun kami melakukan demo lanjutnya, kani tetap menjalani pelayanan medis untuk kasus gawat darurat. “Demo ini merupakan puncak setelah sejumlah peraturan sepihak yang diterapkan oleh direktur RSUD, yang membuat kami dirugikan,”tutup dr. Efriadi. (rud)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top