Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Petani dan Pasar, Kedamaian yang Mulai Terusik Corona

Dibaca : 271

Padang, Prokabar — Mentari bersinar cerah pagi ini, sepasang suami istri melangkah menuju lahan holtikultura mereka yang tak seberapa luas itu. Mereka disambut hijaunya tanaman yang beragam dan masih basah oleh butiran-butiran embun yang berkilauan diterpa sinar mentari pagi.

Segar pemandangan tak terkira, sebuah Karunia Ilahi yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Senyum pun mengembang, seraya hati berucap syukur. Mereka tahu, tanaman-tanaman itu pun juga butuh dirindui, perlu disapa dengan kasih sayang, dirawat dengan penuh cinta dan diperhatikan sepenuh hati.

Hmmmm.. lihatlah jahe yang tumbuh subur daunnya menghijau, umbinya semakin membesar disaat tunas-tunas baru terus bermunculan dan berontak berusaha menembus plastik mulsa. Dua pasang tangan pasutri itu merobek plastik membantu sang tunas terbebas dari plastik. Mereka lagi-lagi tersenyum, tunas itupun mungkin juga tersenyum. Aroma segar dan harumnya memancar semerbak tak terkira.

O ya, buncis itu mulai berbuah matang siap dipanen, merambat dan saling membelit di tiang-tiang junjungan. Bunganya bermekaran siap-siap menjadi buah baru. Tak jauh dari sana, cabe pun berbunga indah, tak lama lagi juga akan menjadi buah.

Tidak ketinggalan terong pun menggoda dengan caranya. Putik-putik buah ungu itu berpacu dan bermunculan memperlihatkan diri, dan beberapa hari ke depan akan semakin membesar dan siap dipanen.

Ternyata masih ada yang lain, bawang prei atau bawang daun bahasa populernya juga tak sabar ingin tumbuh makin besar. Daunnya yang hijau kebiru-biruan makin hari semakin terlihat gemuk. Disisinya, daun seledri juga sudah menghijau lagi setelah seminggu lalu di panen. Tiga hari lagi, mereka akan merelakan daunnya kembali di copoti satu persatu, helai demi helai.

Ada lima sampai enam macam tanaman dalam satu lahan, semuanya tumbuh subur, menghasilkan, dan memberikan kehidupan secara ekonomi bagi sang empunya. Sungguh, nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan.

Pasutri pemilik lahan itupun, seolah tak ingin berpisah dengan lahannya itu. Hanya maghrib yang melerai mereka untuk segera pulang ke rumah. Sungguh “candu” berada ditengah tanaman-tanaman itu

Itulah sebuah ilustrasi kedamaian dan keindahan yang tercipta di Nagari Paninjauan, ditengah pandemi Corona yang terus menyisiri tempat demi tempat di setiap jengkal permukaan bumi, seolah tak terhentikan. Mencemaskan? tentu saja, ketika kabar tentang ganasnya virus ini terus menyeruak di tengah masyarakat melalui media, terutama media sosial yang saat ada diujung jari hampir semua orang.

Tak ketinggalan di Paninjauan. Nagari indah di Kecamatan X Koto ini mulai berwaspada. Satu persatu aturan untuk membatasi penyebaran virus dilakukan dan ditegakkan pihak berwenang. Ikhtiar memutus rantai penyebaran dilakukan, termasuk membatasi atau menghentikan proses ibadah di mesjid-mesjid. Beruntung, sejauh ini belum ada terdeteksi yang terinfeksi wabah ini.

Tapi sampai kapan?
Paninjauan hanyalah sebuah sample tentang sebuah Nagari atau kampung yang sedang bersiap dan berwaspada menghadapi wabah ini. Ratusan bahkan ribuan Nagari posisinya seperti itu juga di negeri ini. Wabah yang akan selalu mengintai, dan sewaktu-waktu bisa saja bocor, kecolongan, dan pertahanan yang dibangun bisa runtuh seketika menggerus kedamaian dan keindahan itu.

Sama seperti di tempat lainnya, banyak hal yang bisa membuat pertahanan itu runtuh. Para pakar berucap, kesadaran dan sikap mental masyarakat adalah kunci melawan penyakit ini. Masyarakat kita sedang diuji sejauh mana kepekaan dan kepedulian terhadap sesama masyarakat sekitar.

Yang paling mengkhawatirkan tentu saja pola pikir sebagian masyarakat yang menganggap sedang tak terjadi apa-apa dan menganggap enteng segala hal tentang wabah ini. Hal ini disebabkan karena kurangnya wawasan mereka, baik dari sisi cara penularan maupun bahayanya.

Bagi masyarakat awam, Corona adalah sesuatu yang masih membingungkan. Bahkan para dokter dan pakar kesehatan sekalipun, masih belum bisa menjelaskan dengan mantap. Satu hal pasti, belum ditemukan juga vaksinnya. Dan karena itu pula, imun tubuh menjadi andalan dalam memerangi Corona.

Jangan lagi bertanya tentang para buzzer. Mereka menjadikan wabah Corona tak ubahnya sebagai panggung kampanye dan debat politik. Lalu, masyarakat tetap berada dalam kebingungan. Kenapa? Karena belum ada yang bisa menjelaskan dengan cukup meyakinkan tentang Corona ini.

Apa dan bagaimana kita, masyarakat, negara dan unsur-unsur kepercayaan harus berbuat dan menyikapinya.

Sejak virus ini belum masuk Indonesia, masyarakat sudah mulai mendengar dari berbagai media bahwa di luar negeri sudah banyak negara mengalami wabah Corona. Tetapi sepertinya pemerintah ingin memberi tahu, itu bukan bahaya bagi bangsa Indonesia. Pemerintah berusaha meyakinkan bahwa rakyat Indonesia adalah rakyat unggul pilihan Tuhan yang tidak mempan virus Corona. Tapi ya sudahlah, itu hal lain.

Faktanya hari ini, sudah ribuan penduduk negeri ini tercatat dalam bank data pemerintah dan di-update setiap sore oleh sang Jubir yang mulai kelelahan. Orang dapat terjangkit meski tampak sehat. Dan orang yang terjangkit yang sehat dapat menularkan. Orang yang pernah berhubungan dengan orang yang sehat yang pernah berhubungan dengan orang yang terjangkit dan seterusnya juga bisa menularkan.

Orang yang terjangkit dan pernah berhubungan dengan orang yang terjangkit bisa tiba-tiba ada di mana saja, lalu masyarakat panik. Pasalnya, kita sudah sering kali diminta untuk menjaga jarak, bahkan tak jarang kita mencurigai sesama sebab virus corona. Takut untuk berdekatan dengan siapa pun dan berusaha dalam setiap kegiatan untuk tetap berjarak dengan orang lain.

Maka kini rakyat dan masyarakat hanya tinggal memiliki satu senjata dan sekaligus perisai, yakni doa. Semoga Allah melindungi kita semua dari pandemi Corona dan semua ketidakjelasan ini. Semoga pula kita masih waras untuk bisa mempertimbangkan membolehkan orang berdoa.

Ya, berdoa, seperti para petani di Paninjauan yang tak lelah berdoa dan berikhtiar agar tanaman mereka subur dan mendapatkan panen yang maksimal. Meskipun, setelah itu mereka akan dibayangi rasa was-was saat membawa hasil panen ke pasar.

Pasar itu ramai, keramaian hari ini sesuatu yang dianjurkan dengan keras untuk dihindari. Tapi kalau tak ke pasar, untuk apa dan mau diapakan hasil panen mereka. Sementara hal itu itu adalah satu-satunya harapan terindah mereka secara ekonomi. Memang, kedamaian dan keindahan itu perlahan-lahan mulai tergerus oleh makhluk bernama Corona itu.

Mari kita berdoa.(*)

(Oleh: Rizal Marajo)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top