Lebaran, momen tahunan untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga. Lebaran adalah puncak dari kemenangan, puncak melepas rindu, dan puncak dari kebahagiaan. Bagi kita sebagai makhluk sosial, tidak ada yang lebih indah dari berinteraksi. Kami, prokabar.com, menyadari bahwa lebaran adalah momentum dimana interaksi adalah yang paling hebat. Saling menyapa, bersalaman, berpelukan, dan berbagi adalah interaksi yang hebat itu. Berlandaskan itu, prokabar.com merancang platform interaksi di website kami. Melalui halaman "mudik yok" warganet disuguhkan beragam informasi yang bermanfaat. Ada info lalu lintas, info cuaca, cctv dan berita seputar mudik, termasuk destinasi wisata di Sumatera Barat. Tidak hanya itu, prokabar.com juga menyediakan fasilitas "message" di sudut kiri bawah halaman web. Dengan fasilitas ini pengunjung bisa berbagi foto teks dan video. Lalu tim kami akan menayangkan informasi yang anda bagikan. Yang lebih heboh lagi, sepanjang libur lebaran, prokabar membuat lomba artikel dengan tema umum lebaran di Sumatera Barat. Hadiah totalnya Rp. 10 juta. Lomba ini terbuka untuk umum, termasuk perantau yang sedang pulang kampung. Prokabar mengajak warganet untuk berbagi informasi di prokabar.com. informasi anda akan sangat bermanfaat bagi orang lain. Selamat Lebaran, sempurnakan pulang kampung anda bersama prokabar.com Salam Tim redaksi
Ekonomi

Pertumbuhan Manufaktur Sumbar Negatif, Ini Penyebabnya


Padang, Prokabar – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat produksi industri manufaktur besar dan sedang tumbuh negatif yakni minus 16,27 persen pada triwulan I 2018 atau bertolak belakang dengan angka nasional yang tumbuh positif 5,01 persen.

“Negatifnya pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang di Sumbar disebabkan oleh penurunan produksi cukup tinggi pada industri makanan sebesar minus 21,27 persen dan industri bahan kimia minus 7,41 persen,” kata Kepala BPS Sumbar Sukardi di Padang, Jumat.

Sementara dibandingkan triwulan IV 2017 pertumbuhan industri manfaktur besar dan sedang Sumbar juga menurun dengan angka minus 11,5 persen.

Namun sebaliknya, Sukardi menyampaikan pertumbuhan produksi industri manufaktur kecil dan mikro di Sumbar pada triwulan I 2018 cukup positif sebesar 1,06 persen.

Ia menyampaikan beberapa industri manufaktur kecil dan mikro yang tumbuh tersbeut yaitu percetakan dan reproduksi media rekaman 22,34 persen, bahan kimia dan barang dari bahan kimia 10,52 persen, barang logam, bukan mesin dan peralatan 6,03 persen dan makanan 2,54 persen.

Menurutnya salah satu penyebab turunnya pertumbuhan industri di Sumbar karena faktor bahan baku dan adanya perdagangan bebas.

“Misalnya makanan bisa saja yang dijual di sini didatangkan dari daerah lain,” kata dia.

Kemudian ia melihat terjadi penurunan produksi juga terjadi karena bahan baku yang menurun seperti untuk minyak kelapa sawit kendalanya adalah pohonnya sudah tua.

“Jadi perlu dilakukan peremajaan agar produksi lebih optimal,” katanya.

Sementara pelaku industri pengolahan sabut kelapa di Kabupaten Padang Pariaman mampu mengekspor 250 ton serat sabut (serabut) kelapa per bulan ke sejumlah negara di Asia seperti Cina dan Taiwan.

“Serabut kelapa dijual dengan harga Rp2.350.000 per ton,” kata pengusaha pengolahan sabut kelapa, Buyung Pasni (54).

Ia mengatakan untuk mencapai target produksi 250 ton menjalin kerja sama dengan beberapa pengusaha pengolah sabut kelapa lainnya. (*/upk)

Berani Komen Itu Baik


To Top