Pers Sumbar, tak Bisa Memberi Sebanyak Diminta

Penulis -

Selasa, 16 Mei 2023 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Khairul Jasmi

Pada pers, pemerintah takkan menemukan kebaikkan sebanyak yang diinginkannya. Tapi: pers akan datang mengantarkan pujian dan kritik ketika waktunya tiba.

Dan, pers Sumbar sudah tua. Di sana tempat ide-ide dituangkan. Ada pemred yang ditangkap, ditembak di zaman bergolak, disidang waktu order baru. Bersama mereka dicaci ketika reformasi. Dibilang tak berpengaruh di zaman kini. Bahkan disebut ditunggangi.

Semua itu letupan emosi yang tak tersusun, akan berkeping bersama waktu. Yang tinggal, pers sendiri atau bersama siapa saja akan terus mengawal kebudayaan dan gerak-gerik para elit. Jika kemudian, pers menjamur maka ketika masanya tiba, juga akan rontok satu demi satu.

Medsos disebut melibas pers, itu adalah gendang dalam tarian kolosal kontrol sosial saat ini. Tentu saja pers tak bisa menjangkau semua sudut dalam satu bangsa, di sanalah medsos memainkan perannya.

Tapi saya hendak mengatakan, pers yang kuat tidak pada banyaknya klik atau oplah, namun pada pengaruh. Pengaruh sebuah media atau organisasi pers. Lebih-lebih dalam satu barisan panjang para jurnalis.

“Bagak basamo,” kata seseorang dalam sebuah WAG. Itu gunanya kebersamaan, apalagi jika menyangkut kemaslahatan orang banyak dan tata kelola yang baik.

Kami tak pernah menyebut secara mendebarkan bahwa pers adalah pilar keempat. Para ahli politik, demokrasi dan kebangsaanlah yang menyuarakannya.

Pers membela yang bayar, itu muncul ketika kepentinganya terusik. Dan wartawan pun babak belur dihajar oknum. Tidak netral, ketika ia merasa dirugikan. Tentu saja ada prilaku yang buruk, seperti juga di profesi lain. Itu gunanya sertifikasi organisasi pers, perusaan media dan sertifikasi si wartawan itu sendiri. Itu sebabnya ada ahli pers bersertifat. Itu juga sejak awal disadari maka ada UU pers dan kode etik.

Sikap politik dibangun atas kesamaan kepentingan. Ideologis atas kesamaan keyakinan dan pers mengetahui hal itu.

Kami adalah bilah dari perjuangan, apapun itu dan selemah apapun itu.

Jauh ke depan, kita tak tahu apa yang bakal terjadi. Bisa-bisa akan hadir negeri tanpa kata, yang ada negeri banyak mimbar tempat orang berbicara tanpa pengeras suara. Bisa jadi negeri ini akan diam. Lalu ada yang bertanya, dimana wartawan?*

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB