Oleh: Aprilia Putri Hidayah dan Ibnu Fikri
“Udah, nikah aja biar halal.” Kalimat semacam ini makin sering terdengar di tengah maraknya pergaulan bebas di kalangan anak muda. Ironisnya, pernikahan yang seharusnya jadi sesuatu yang sakral, malah dijadikan cara cepat untuk menambal kesalahan. Pernikahan dini, yang dulu dianggap suci dan penuh makna, sekarang kerap jadi pelarian dari masalah yang lebih dalam. Tapi benarkah menikah muda bisa jadi solusi? Atau hanya ilusi cinta manis versi TikTok?
Kalau lihat di media sosial, pernikahan dini sering tampil seperti kisah impian. Video akad nikah pasangan muda dengan latar musik sendu, tatapan malu-malu dua pengantin, lalu komentar netizen semacam “bismillah nyusul.” Semuanya terlihat indah. Tapi balik ke kenyataan, data bicara lain. Dari laporan Kopas.id (April 2025), angka pernikahan di Indonesia turun 30% dalam 10 tahun terakhir, sementara tingkat perceraian justru naik lebih dari 5%. Ini bukan sekadar angka, ini sinyal bahaya.
Fakta di lapangan, pernikahan dini masih marak. Di beberapa wilayah, menikah muda bukan sekadar pilihan, tapi semacam kewajiban. Di komunitas Baduy misalnya, anak laki-laki dan perempuan yang menginjak usia 20 tahun harus menikah tidak boleh ditunda. Sementara di kota besar, pernikahan dini lebih sering dipicu oleh tekanan sosial, alasan finansial, atau sekadar takut dicap terlalu bebas. Jadi, menikah muda itu niat ibadah? Atau hanya untuk menjaga citra?
Agama sering dijadikan alasan. Memang benar, dalam Islam disarankan menikah jika seseorang tak mampu menahan diri. Tapi jangan lupa, pernikahan itu bukan cuma soal sahnya hubungan. Ada tanggung jawab yang besar, dari urusan rumah tangga sampai soal mendidik anak. Sayangnya, banyak yang hanya siap mental buat acara resepsi, tapi belum tentu kuat saat harus masak tiap hari atau begadang gendong bayi jam tiga pagi.
Tak jarang juga, alasan ekonomi jadi pemicu. Orang tua merasa lebih ringan kalau anaknya cepat menikah—satu mulut lebih sedikit yang harus ditanggung. Tapi, kenyataannya sering jauh dari ekspektasi. Dua remaja tanpa penghasilan tetap bukan solusi hemat, malah berpotensi menambah kemiskinan baru. Dan ketika kesulitan mulai datang, rasa cinta pun bisa ikut memudar.
Yang paling menyedihkan, banyak pernikahan dini sekarang dipicu oleh kehamilan di luar nikah. Minimnya edukasi soal seks, lemahnya pengawasan, ditambah budaya “yang penting sah” bikin remaja gampang terjebak. Pernikahan dijadikan penutup aib. Padahal, menikah karena terpaksa bukan penyelamat. Bukan sedikit kasus seperti ini yang akhirnya berujung pada perceraian, kekerasan rumah tangga, atau anak-anak yang tumbuh tanpa arahan jelas.
Tentu saja, nggak semua pernikahan dini berakhir buruk. Ada juga yang berhasil, tapi biasanya karena mereka benar-benar siap. Bukan soal umur muda, tapi soal kedewasaan. Mereka yang berhasil umumnya sudah mandiri secara ekonomi, punya mental kuat, dan dukungan keluarga yang solid. Tapi harus diakui, itu lebih ke pengecualian daripada hal yang umum terjadi.
Risiko menikah muda memang besar. Sekolah bisa terbengkalai. Kesehatan ibu muda bisa terancam. Emosi yang belum stabil bikin konflik gampang meledak. Masalah keuangan bisa jadi sumber pertengkaran. Dan anak-anak yang lahir dari pasangan yang belum siap sering kali tumbuh dalam pola yang sama minim pendidikan, pengasuhan seadanya, lalu mengulang lingkaran yang sama.
Jadi, pertanyaan yang lebih tepat bukan “bolehkah menikah muda?” tapi “siapkah kamu?” Siap berbagi tanggung jawab hidup? Siap hadapi masalah rumah tangga yang nyata, bukan sekadar potret mesra yang dipajang di media sosial?
Dalam tiga tahun terakhir, data dari Kementerian Agama menunjukkan tren penurunan jumlah pernikahan anak. Pada 2022 tercatat ada 8.804 pasangan, turun menjadi 5.489 di tahun 2023, dan kembali menurun menjadi 4.150 pasangan pada 2024. Penurunan ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat akan risiko serius dari pernikahan usia dini semakin meningkat.
Menikah muda bukan dosa. Tapi kalau itu dilakukan demi kabur dari masalah yang belum kamu selesaikan, bisa-bisa justru bikin hidup makin rumit. Kalau kamu hanya membayangkan kisah indah berdua, tapi belum siap menghadapi kenyataan hidup yang penuh kompromi dan tanggung jawab, mungkin yang kamu cari bukan pasangan hidup tapi jalan keluar dari kesepian.
Butuh cinta? Mulailah dari memperbaiki diri. Ingin pasangan? Siapkan mentalmu. Pengen nikah? Pastikan kamu paham apa yang akan kamu jalani. Karena pernikahan itu bukan akhir kisah cinta, tapi justru awal dari babak paling serius dalam hidupmu.
Penulis : Opini
Editor : Nofal Wiska
















