Pasaman, Prokabar — Hari Pendidikan Nasional, diperingati setiap tahunnya. Upacara peringatan diutarakan, termasuk di Pasaman, Kamis (2/4).
Besar upacara yang dilaksanakan dan dipimpin langsung Bupati Yusuf Lubis ini. Semuanya, penuh retorika. Kata orang nomor satu di Pasaman ini, hari pendidikan merupakan momentum bagi semua untuk menyadari dan secara terus menerus melakukan evaluasi bahwa pendidikan merupan kunci utama dari pembangunan manusia.
Ini semua terbalik di Pasaman. Entah ada evaluasi atau tidak, jangankan maju, dunia pendidikan Pasaman masih jauh tertinggal. Seperti pemberitaan sebelum-sebelumnya. Untuk Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) saja, beberapa sekolah terpaksa menumpang.
Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), masih jauh dari kata tepat realisasinya. Salah satu bukti, di tingkat SD, orang tua murid, harus membeli sendiri sampul rapor. Tidak sedikit pula, dana BOS, menjadi ‘penutup’ anggaran yang kurang, terutama untuk honor tenaga kontrak yang berlebih. Parahnya lagi, anak berprestasi minim apresiasi dari pemerintah.
“Kita tentunya berharap, ini tidak lagi sebatas seremonial. Penuh retorika, tanpa ada tindakan nyata. Merasakan melorotnya perhatian Pemkab Pasaman dalam dunia pendidikan, saya langsung yang mengalaminya. Begitu juga dengan walumurid lain,” kata Adam, salah sorang masyarakat Lubuk Sikaping.
Di sisi lain, yang diutarakan Adam ini benar adanya. Nilai UNBK tingkat SMP tahun 2018 lalu, Kabupaten Pasaman berada diposisi paling bawah di Sumatera Barat (Sumbar). Meski anak Adam dan beberapa pelajar lainnya penuh preatasi, namun ini hanya segelintir. Tidak sanggup menutup betapa mirisnya dunia pendidikan di Pasaman.
Menanggapi hal ini, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pasaman, Ali Yusri menyebut, melorotnya nilai UNBK siswa SMP di Kabupaten Pasaman karena para siswa belum siap dan mampu mengikuti ujian dengan sistim komputer tersebut. Buktinya katanya, nilai Uijian Nasional Kertas dan Pensil (UNKP) Pasaman rengking enam di Sumbar tahun 2018 lalu. (Ola)
















