Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

Pergesaran Peran Mamak di Minangkabau

Ilustrasi
Dibaca : 602

Oleh: Enjeli Novita Sari, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

 

Padang, Prokabar — Minangkabau adalah nagari yang tersistem dan terpola dengan adat istiadat dan budayanya. Hal itu nampak jelas dengan adanya konsep pemetaan peran seseorang yang tersusun secara rapi dalam masyarakat, seperti halnya seorang mamak. Menurut adat Minangkabau, mamak secara umum adalah paman atau saudara laki dari ibu, kakak atau adiknya.

Nasrul Abit Indra Catri

Selain itu Minangkabau juga mengenal mamak secara khusus yang mengepalai suku yang biasa disebut dengan ninik mamak. Setiap masyarakat dikelompokkan menurut sukunya masing-masing dan setiap suku itu dipimpin oleh seorang ninik mamak atau yang lebih dikenal dengan datuak atau penghulu.

Di dalam adat istiadat Minangkabau ada beberapa peran seorang mamak. Mamak berperan dalam mendidik, membimbing dalam hal pewarisan peran, mengawasi pendidikan, serta tempat bertanya apapun oleh kemenakan. Mamak juga berperan dalam mengelola harta pusaka, memelihara, mengawasi, memanfaatkan mengembangkan dan mempertahankan supaya harta adat tetap berfungsi dan mamak juga harus menjaga kaumnya termasuk kemenakannya.

Mamak sangat berperan penting bagi kemenakan khususnya kemenakan perempuan untuk mencarikan jodoh. Semua yang terjadi terhadap kemenakannya, maka mamak lah yang akan bertanggung jawab dan mengatasi semuanya.

Seperti ungkapan berikut ini:

Kaluak paku kacang balimbiang
D
aun bakuang lenggang-lenggangkan

Anak dipangku kamanakan di bimbiang
Urang kampung dipatenggangkan.

Dulu, tugas seorang mamak sangat berperan penting dalam segala hal seperti berkewajiban dalam adat istiadat, agama, kesenian dan prilaku sehari-hari. Jika kemenakan melakukan kesalahan, maka mamak akan ikut malu.

Namun, pada saat sekarang ini pergeseran peran seorang mamak telah tergantikan seiring perkembangan zaman. Dulu, kewajiban seorang mamak mendidik kemenakannya tapi sekarang semuanya diambil alih oleh lembaga sosial sebagai lembaga pendidikan formal.

Mamak mengatur dan mengawasi pemanfaatan harta pusaka, tetapi kini tidak lagi berjalan dengan baik, karena banyaknya harta pusaka yang tergadai bahkan dijual. Dulu mamak lebih mementingkan kemenakannya dan mengutamakan sukunya tapi kini semuanya telah diatur oleh keluarganya masing-masing.

J. V. Maretin mengatakan dalam bukunya Idham Chalid, dari hasil penelitiannya bahwa berkesimpulan lambat laun sistem sosial masyarakat Minangkabau akan berangsur-angsur pudar. Adat istiadat Minangkabau tradisional sekarang sudah mulai tidak dijalankan lagi oleh masyarakat itu sendiri.

Dulu hubungan mamak dan kemenakan sebagai pemimpin dan orang yang dipimpin seperti falsafah adat Minangkabau:

Kamanakan baraja ka mamak
Mamak baraja ka pangulu 

Pangulu baraja ka mufakat
Mufakat baraja ka nan bana
Bana badiri sandirinyo
Bana manuruik alua jo patuik
Manuruik patuik jo mungkin.

Tapi pada saat sekarang itu tidak lagi berguna, bahwa peran mamak hanya berlaku pada saat waktu yang penting saja. Sangat disayangkan saat sekarang ini, bahwa seorang kemenakan tidak lagi tahu akan mamaknya begitu juga mamaknya tidak terlalu mengenal kemenakannya.

Hubungan mamak saat dulu dan sekarang sangat berbeda sekali. Dulu seorang mamak sangat disegani. Bahkan ada filosofi Minangkabau yang menyebutkan, didahulukan selangkah, ditinggikan seranting. Artinya bahwa seorang pemimpin hanya didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting.

Maksud dari filosofi tersebut bukan hanya dihargai sekedar saja, tapi maknanya begitu dalam, filosofi itu hanya mengibaratkan, bahwa seorang mamak pemimpin dikaumnya itu sangat berperan penting untuk kemajuan sukunya. Akan tetapi mamak tidak terlalu dihargai bahkan hanya sebatas mamak yang mengatur sebuah persoalan saja pada saat sekarang.

Bukan cuma peran mamak saja yang bergesar, akan tetapi sifat seorang mamak juga mulai pudar. Dulu seorang mamak di kaumnya ibaratkan kayu besar tengah padang, tempat berteduh kehujanan, tempat berlindung kepanasan, bahwa tempat bersandar.

Sifat seorang mamak pada saat dulu sangat baik, sabar, lurus dan benar, pengasih dan penyayang, serta mempunyai ilmu yang cukup sempurna untuk diajarkan kepada kemenakannya. Akan tetapi mamak pada saat sekarang hanya bertugas menjalankan peran saja sebagai seorang mamak, makna menjadi seorang mamak tidak lagi didapatkan pada saat sekarang.

Mamak saat sekarang tidak lagi mencerminkan seorang mamak pada saat dulu, ada beberapa mamak yang berperangai buruk, kisad dan dengki, jauh dari kata baik bahkan mentelantarkan kemenakannya begitu saja, hanya memikirkan kelurganya sendiri dan tidak memperdulikan kaum dari sukunya. Ada juga mamak yang tidak tahu akan perannya, seharusnya sebagai seorang mamak menjaga semuanya agar tetap berjalan dinorma yang telah berlaku akan tetapi kini mamak tidak lagi memperdulikan itu semua. (***)

 


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top