Jakarta, Prokabar —Air susu ibu (ASI) menjadi faktor penting bagi pertumbuhan bayi. Permasalahan yang sering dihadapi ibu menyusui adalah merasa ASI tidak cukup, padahal masalah yang sebenarnya karena kurang dukungan dari orang terdekat masalah fisik dan emosi.
Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia dr. Wiyarni Pambudi, SpA , IBCLC mengatakan masalah lainnya yaitu pilihan ibu yang membatasi ASI dan kekhawatiran ASI kurang. Upaya peningkatan praktik Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) itu harus dilakukan melalui dukungan ayah.
“Dukungan ayah dapat berupa mendengarkan keluh kesah istri selama persalinan, kedua sabar, ketiga ayah mencari informasi tentang menyusui sehingga ketika ada masalah ayah bisa memberikan solusi,” kata dr. Wiyarni dilansir, Sabtu (3/8).
Selain itu, pemerintah juga memberikan dukungan kepada ibu menyusui untuk mempertahankan praktik menyusui termasuk pada situasi sulit seperti bencana alam. Pada situasi bencana, dukungan pemerintah dapat berupa terapi mental pada ibu menyusui korban bencana dan menyediakan tenda menyusui.
Pemerintah melakukan perencanaan dan koordinasi pusat dan daerah untuk program PMBA dan ASI, pengaturan pemasaran susu formula sesuai dengan kode internasional dan rekomendasi WHA serta promosi ASI eksklusif berupa penyuluhan kelompok maupun konseling menyusui melalui kelas ibu menyusui.
Setiap tahun pada tanggal 1-7 Agustus diperingati Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week). Tahun 2019 mengangkat tema global “Empower Parent Enable Breastfeeding”. Dalam konteks nasional tema tersebut diadaptasi menjadi “Ayah dan Ibu Kunci Keberhasilan Menyusui”.
“Menyusui butuh persiapan, bagi bayi menyusui itu insting tapi bagi ibu adalah skill. Persiapan menyusui itu sejak dari hamil, perawatan, dan lainnya. Yang harus ditingkatkan adalah ibu-ibu harus mau membaca buku kesehatan ibu dan anak,” kata dr. Wiyarni. (*/hdp)
















