Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Pengrajin Atap Daun Rumbia Masih Eksis

Dibaca : 1.7K

Padang, Prokabar — Silis (66) seorang pengrajin atap rumbia asal Rawang Pasie Nan Tigo, Padang ini masih bertahan membuat kerajinan, berbahan alam ini.

Umur ibu enam anak ini sudah tak muda lagi untuk bekerja, namun masih mampu menganyam sekitar 40 lembar atap rumbia per hari.

Saat ditemui Prokabar.com, Kamis (27/12), Silis sedang menganyam rumbia di gubuk kecil dibawah pohon mahoni di kawasan Simpang Kalumpang, Lubuk Buaya, Padang. Perempuan itu tampak fokus. Sudah terampil dia. 

Namun, dia mengakui, tangan dan jari-jarinya sudah tidak cekatan seperti dulu.

Biasanya hanya perlu waktu beberapa menit untuk membuat satu lembar atap, namun sekarang ia butuh hampir setengah jam.

Setelah selesai menganyam satu lembar atap, lalu diletakan persis didepannya, untuk dijadikan alas pada lembaran atap lainnya. Kemudian, Ia membawanya ke luar pondok beratap daun rumbia pula untuk dikeringkan.

“Saya sehari hanya sanggup mengerjakan 40 lembar atap rumbia,” ujar Silis dengan nada pelan.

Kata dia, pekerjaan ini tidak dilakukan setia hari, tapi berdasarkan pesanan.

Menurutnya, ia sudah 20 tahun bekerja sebagai pengarajin atap daun rumbia itu.  Dalam sehari, wanita bergigi ompong itu diupah kurang lebih Rp25 ribu hingga Rp 40 ribu, tergantung banyaknya lembaran atap yang ia selesaikan.

Dengan sisa tenaga, wanita yang tidak lagi punya suami, setelah meninggal tiga tahun lalu karena stroke itu sempat disuruh berhenti bekerja oleh anak anaknya.Namun dia merasa tidak puas jika duduk dirumah. 

“Dari pada tidak ada kerjaan dirumah, suntuk. Kalau saya kerja juga bisa bantu” buat perlengkapan hidup dirumah,”sebutnya.

Dalam menjalankan perjaannya, Silis biasanya diantar jemput oleh anaknya ke tempat kerja yang berjarak kurang lebih tiga kilometer dari rumahnya.

Berbicara ramai atau tidaknya pesanan, ia mengakui usaha ini tak seramai dulu karena kebanyakan rumah telah mengunakan atap dari bahan lain.

“Walau begitu tetap banyak juga yang pesan seperti  pengusaha cafe dan rumah makan memakai konsep zaman dulu serta pondok di kebun,” ujarnya lagi.

Harga perlembar atap rumbia dijual kisaran harga tujuh ribu hingga delapan ribu. Bahan baku masih mudah dicari.

Ia menambahkan, hari ini masih banyak langanan datang, karena menurutnya kualitas jahitan dan atap rumbia tahan lama dibandingkan beli ditempat lain.

“Penjualan sudah sampai ke Pekanbaru, Damasraya, Untuk di Padang, biasanya ke Bungus, Kuranji,” tutupnya. (gas)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top