Pengolahan Tabu Tradisional di Lawang Jadi Daya Tarik Wisata

Penulis -

Selasa, 28 Juli 2020 - 09:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agam, Prokabar — Tidak hanya menyuguhkan keindahan alam melalui panorama Danau Maninjau, Kawasan Wisata Puncak Lawang ternyata memiliki daya tarik lain bagi wisatawan melalui pengolahan tebu (manggilang tabu) secara tradisional.

Sebagai destinasi wisata unggulan, Puncak Lawang yang berada di Kecamatan Matua, Kabupaten Agam, Sumatra Barat ini dikenal sebagai daerah penghasil tebu dan gula merah atau yang biasa disebut dengan “Saka Tabu”.

Menurut Asrul (60th), pengelola Kilang Tabu Tradisional Ni Des, dirinya sudah puluhan tahun menekuni usaha keluarga yang sudah berlangsung turun temurun.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Dikatakan bahwa, pengolahan tebu secara tradisional dengan memanfaatkan tenaga kerbau untuk menggiling tebu, akan tetap dilestarikan sebagai daya tarik bagi wisatawan saat berkunjung ke kawasan wisata berhawa sejuk ini.

“Dahulu saya pernah menggunakan mesin selama 15 tahun. Hasilnya bisa mencapai 100kg per hari, namun kualitasnya tidak bagus, hasilnya kotor semua,” kata Asrul dilansir Prokabar dari MC Sumbar, Selasa (28/7).

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Ia mengakui melalui alat tradisional proses penyaringannya memakan waktu yang lama, dalam 4 kali penyaringan menghasilkan 25 kg per hari. “Namun hasilnya bisa dibandingkan dengan menggunakan mesin, sangat bersih dan bisa langsung dimakan,” ucap dia.

Asrul dengan sigap memperagakan bagaimana proses menyiapkan kerbau untuk dipasangkan ke alat pengkilangan. Mata Kerbau ditutupi dengan tempurung kelapa dan kain agar kerbau tersebut mau berjalan.

Paket wisata yang disediakan Asrul pada usaha Kilang Tabu Tradisional miliknya, membuat wisatawan yang berkunjung dapat menyaksikan proses pembuatan gula merah dari proses awal tebu diperas menggunakan tenaga Kerbau.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Selanjutnya perasan tebu dimasak hingga mengental dan hasil tersebut dibentuk pada alat cetak hingga mengering dan menghasilkan gula merah “Saka Tabu”.

Disinggung tentang Pandemi Covid-19 Asrul mengakui bahwa ia juga terkena dampak langsung. “Biasanya banyak wisatawan mancanegara yang datang, salah satunya dari Malaysia, namun saat ini tidak ada lagi,” tutur dia. (rel)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB