Sesuai dengan Misi RPJMD Kota Padang 2019 – 2024 pada misi ke 6 yakni menciptakan Masyarakat Sadar, Peduli dan Tangguh Bencana. Masyakarakat tangguh bencana adalah masyarakat yang tanggap,terlatih, tabah dan tahan menghadapi segala bentuk potensi bencana yang terjadi termasuk erosi dan longsor.
Daerah Batu Gadang terletak bagian Upper DAS Air dingin, wilayah daerah ini berbukit-bukit dan sering terjadi longsor yang menimbun jalan dan merusak tanaman perkebunan masyarakat sekitar. Banyak aktifitas manusia pada daerah ini berupa pembukaan lahan untuk perkebunan, dan pemukiman menyebabkan kandungan bahan organik dan permeabilitas tanah berkurang.
Besarnya volume erosi yang dihasilkan menyebabkan hilangnya lapisan top soil dan terjadinya penurunan unsur hara tanah. Hal ini menyebabkan tanah akan rniskin hara sehingga tanaman akan sulit untuk tumbuh. Pada akhirnya kuantitas dan kualitas air tanah pada bagian catchment area akan mengalami penurunan.
Untuk inilah perlu usaha konservasi tanah menjaga agar tanah tidak terdispersi, mengatur kekuatan gerak dan jumlah aliran permukaan agar tidak terjadi pengangkatan tanah. Berdasarkan asas ini, ada tiga cara pendekatan dalam konservasi tanah, yaitu vegetatif, mekanik dan kimia.
Adapun permasalah mitra yang kami dapatkan adalah a) Belum terkelolanya pembudidayaan tanaman pertanian berbasis konservasi lahan, b) Masih seringnya terjadi bencana longsor pada kawasan lahan pertanian dan petani belum tangguh menghadapinya c) Masih kurangnya pengetahuan petani dalam memanfaatkan lahan sesuai potensi dan keterbatasan lahannya, d) Masih rendahnya manajemen pengelolaan organisasi kelompok tani, e) Belum bisa melakukan pengembangan Pola tani untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan dan meningkatkan perekonomian petani.
Seharusnya kita memikirkan untuk keluar dari permasalahan ini dan salah satu solusinya adalah pengolahan lahan berbasis konservasi dan pembinaan organisasi kelompok tani. Tujuannya adalah Menciptakan Kelurahan Balai Gadang menjadi kelurahan yang tangguh bencana longsor.
Nah tentu saja dibutuhkan sebuah pengabdian mengatasi longsor ini khususnya di daerah Batu Gadang, Kelurahan Balai Gadang. Sehingga kami dari Tim pengabdian UNP yang berasal dari Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial UNP melakukan pengabdian yang berjudul Pengembangan Kelurahan Balai Gadang Kecamatan Koto Tangah Kota Padang Menjadi Kelurahan Tangguh Bencana Longsor
Kegiatan ini diketuai oleh Ratna Wilis, S.Pd, MP dengan anggota Prof. Dr. Dedi Hermon, MP, Drs. Helfia Edial, MT, Abel Tasman, SE,MM, dan anggota lainnya termasuk Marjohan SE, MM dosen Bung Hatta yang menjadi narasumber juga pada kegiatan ini.
Kegiatan ini berupa penyuluhan, pelatihan, workshop dan lokakarya serta pendampingan atau praktek lapangan.
Bentuk kegiatannya adalah: a) pelatihan tentang pengelolaan lahan pertanian berbasis konservasi lahan, luaran yang ditargetkan disini adalah Pengolahan lahan pertanian yang tepat sesuai metode konservasi, b) pelatihan anggota kelompok tani menghadapi bencana longsor, luaran yang ditargetkan adalah lahirnya masyarakat sadar, peduli dan tangguh Bencana, c) Pelatihan pemanfaatan lahan petani sesuai potensi dan pembatas yang ada, luaran yang ditargetkan terciptanya model pertanian tekno-ekologis di lahan pertanian mereka, d) Penyuluhan mengenai manajemen pengelolaan organisasi dalam kelompok tani, luaran yang ditargetkan disini meningkatnya manajemen organisasi kelompok tani, lahirnya anggota yang aktif, e) penyuluhan dan pendampingan untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan petani, luaran yang ditargetkan adalah terciptanya anggota yang kreatif, punya jiwa wirausaha supaya perekonomian masyarakat petani meningkat.
Kegiatan gotong royong dilaksanakan tanggal 12 September 2021 dihadiri sekitar 60 orang termasuk Kapolsek Koto Tangah dan anggota DPRD dari partai Golkar (Afrizal), dan dari Partai Gerindra (Hidayat) sedangkan kegiatan pelatihan mitigasi bencana longsor diadakan tanggal 27 September 2021 dihadiri sekitar 30 orang. Kegiatan pembinaan ini dimaksudkan untuk bisa membantu masyarakat dan kelompok tani untuk bisa tetap mengolah lahannya dan mengatasi bencana longsor.(*)
















