Padang, Prokabar – Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UNAND Isril Berd menyampaikan pentignya mengubah pola pikir dalam penanganan banjir yang terjadi di Kota Padang. Menurutnya, saat ini tak bisa lagi hanya melakukan penanganan, tapi harus ada tindakan preventif (pencegahan), secara kontinu.
Hal tersebut diungkapkannya dalam desiminasi informasi di Media Center Bali Kota PAdang, Rabu (28/11) mendampingi Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian Kota Padang, Badri Ahmad.
“Di Padang, curah hujan mencapai 250 meliliter selama durasi hujan, jika lima jam itu bisa mencapai 2.500 meter kubik. Kalau hujannya mulai dari hulu, dari kawasan Indarung, tentu air makin menumpuk. Bisa mencapai 5.000 meetr kubik. Sampai di Indarung dan Lubukbegalung, badan sungai melimpah. Terjadilah banjir kanal. Melampaui tanggulnya,” terangnya.
Dengan kondisi ini, tidak ada pilihan lain selain pencegahan mulai dari hulu DAS sampai hilir DAS. “Pada bagian hulu DAS, harus dipelihara hutannya. Di Padang sendiri, ada 6 DAS yakni Timbalun, Bungus, Arau, Kuranji, Air DIngin dan Kandis, semua hulunya terletak di hutan Bukit Barisan.” terangnya.
Sedangkan di bagian tengah DAS Kota Padang, menurut Isril Berd, air sungai mesti dipanen. Dibuat waduk kecil atau embung. “Kita sudah teliti. Pada tahap pertama ini, ada 24 buah waduk yang mesti dibuat di bagian tengah DAS Kota Padang. Hasil penelitian in sudah kita serahkan ke Dinas Pertanian. Dan Pak Wali Kota juga sudah tahu,” sebutnya.
Dia menyebut, dari 6 DAS yang ada di Kota Padang, mesti dibuat rata-rata tiga dan empat embung di setiap bagian tengah dasnya. Sehingga kelebihan air dari hulu DAS, bisa di-taming. “Kalau luas setiap embung itu 3.000 meter atau 2.00 meter, dia bisa menampung air 3.000 meter. Berarti air d dari hulu ini sudah terinduksi ke waduk,” kata Isril Berd.
Selain membangun waduk, menurut Isril Berd, di bagian tengah DAS Kota Padang, juga mesti diperbaiki saluran sungai. “Pinggir sungai harus dibenahi. Kalau kemarin itu ada longsoran di Bukit Barisan, badan sungai dan pinggir sungai juga tergerus. Sampai-sampai jembatan bisa dihanyutkan. Nah, ini harus dibenahi juga,” paparnya.
Sedangkan di bagian hilir sungai, terutama di daerah permukiman penduduk, seperti di kawasan Bypass, pemerintah daerah harus membenahi drainase sebanyak-banyaknya. “Pemerintah daerah bilang sudah bikin drainase, tapi itu belum cukup.” katanya. (hdp)
















