Pengamat Sosial: Tindak Kriminal di Pessel Menjadi-jadi, Ini Penyebabnya

Penulis -

Selasa, 19 Februari 2019 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pessel, Prokabar – Pengamat Sosial dari Universitas Negeri Padang (UNP) Eka Vidya Putra mengatakan, tingginya angka kriminalitas di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), disebabkan oleh kepadatan moral (perbedaan individu masyarakat).

Ia menjelaskan, salah satunya masalah solidaritas di masyarakat. Dimana hubungan antar masyarakat tidak lagi akrab dan tidak lagi tempat berbagi.

Selanjutnya, tidak bisa berinteraksi, ini yang sudah mulai punah, sehingga saling menutupi persoalan sendiri, sehingga terjadilah bunuh diri dan merampok.

Tidak percaya lagi pada orang lain dan lingkungannya. Makanya pelaku kejahatan melakukan cara-cara yang keluar dari norma yang ada.

Ia menambahkan, salah satu solodaritas sosial itu berkurang adalah karena kepadatan moral. Salah satu solodaritas sosial itu berkurang adalah karena kepadatan moral.

Sebab, toleransi dari lingkungan sosialnya bisa juga karena konsekwensi dari pembangunan dan  pertumbuhan penduduk.

Dikatakannya, karena pembangunan di Pessel sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir, artinya dari tertinggal menjadi tak maju.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Akibat dari itu, lanjut Direktur Revolt Institute itu mengatakan, banyak orang datang, banyak pengunjung, sehingga ada budaya baru di situ, akhirnya lahirlah tindak kriminal.

Kemudian, pesatnya perkembangan media internet serta faktor ekonomi adalah dampak ikutan atau faktor selanjutnya dari kepadatan moral itu sendiri.

Dalam hal ini, lanjut Eka, Pemda Pessel hendaknya harus sadar tentang terjadinya kepadatan moral ini. Itu konsekwensi logis dari pembangunan itu sendiri.

Sehingga, hasil dari pembangunan itu ada yang dalam konteks prinsip pembangunan berencana seperti infrastruktur yang selama ini tertutup menjadi daerah terbuka.

Diakuinya, pengembangan pola interaksi yang ada itu telah berhasil. Tapi Pemda tidak sadar, bahwa keberhasilan pembangunan itu ada aspek yang tidak direncanakan.

Maka lahirlah di daerah itu kepadatan moral, dan dampaknya nilai-nilai agama sudah mulai tergerus. Dalam melaksanakan transisi itu Pemda harus ingat ketika apa yang dia lakukan.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Pertama mereka harus sadar, bahwa apa yang telah mereka lakukan itu membonceng dampak yang bersifat negatif.

Secara luar, ungkap Eka, selama ini Pemerintah tidak sadar akan hal itu. Mereka hanya bertepuk tangan dan tepuk dada tentang apa yang telah diciptakan.

Tapi dia (Pemda) lupa, bahwa keberhasilan itu pasti kapasitas yang tidak didukung dengan kapabilitas.

“Nah, budaya kita. Masyarakat kita kapabilitasnya belum masuk di situ. Tapi pembangunan sudah maju jauh,” ujarnya.

Ketika Pemda tidak sadar tentang itu, maka membawa dampak negatif dari pembangunan itu. Dari yang dulunya keakraban, kini muncul pembagian pekerjaan.

Ia mencontohkan, seperti di Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh, ini kan muncul pembagian pekerjaan yang sangat signifikan. Nah, di sinilah muncul gesekkan-gesekan.

“Nah, pembangunan itu kan sudah masuk dunia kapital atau persaingan bisnis. Di situ mungkin ada sebagian masyarakat yang sanggup secara ekonomi dalam pekerjaan itu,” ujarnya lagi.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Artinya, kepadatan sosial yang tertutup, kini jadi terbuka sehingga mereka masih sulit menyesuaikan dengan norma yang baru.

Namun, dibalik itu Pemda tidak sadar akan hal itu. Ketika yang mereka harapkan harus diberikan. Mengatasi kepadatan moral itu harus membangun human capital (membangun kapasitas manusia).

Saat ini, orientasi pembangunan baru pada fisik, belum human kapital. Pemerintah kadang-kadang tidak mau konsen pada human capital itu.

Pemda tidak menyadari itu, Pemda hanya bangga dengan capaian pembangunan fisik semata.

Ia menilai, kemalasan Pemda dalam membahas human capital, karena tidak masuk dalam logika anggaran, itu susah diukur.

“Ya, kalau pembangunan fisik dapat diukur, tapi pembangunan human capital tidak. Pemda harus sadar dengan nilai-nilai human capital, Pemda malas melakukan hal itu,”tutupnya,(min)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB