Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Penelitian Literatur di Musim Pandemi

Dibaca : 372

 

Oleh : MS Irsyad
Mahasiswa Pasca Sarjana Sosiologi Universitas Andalas, Padang / Asisten Peneliti Dr. Bob Alfiandi, M.Si

Salah satu peran perguruan tinggi dalam menjalankan fungsi pendidikan dengan melakukan riset penelitian yang hasil dari riset dapat digunakan bagi kepentingan umat manusia dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi. Sebagai peneliti, baik mahasiswa, dosen maupun civitas akademika suatu perguruan tinggi diharuskan melakukan riset penelitian dalam rangka menjalankan amanah yang dibebankan Negara dalam memecahkan setiap persoalan kebangsaan baik horizontal antar sesama individu maupun vertikal yang bersifat struktur atau kelembagaan.

Di masa Pandemi sekarang, tidak menjadi kendala bagi seorang peneliti dalam melakukan penelitian, salah satu solusi alternatif yang ditawarkan dalam acara “Webinar Analisis Data Penelitian Literatur” yang diadakan Jurusan Sosiologi Fisip Unand pada 11 Agustus 2020 melalui Zoom menjadi jalan tengah dalam menghadapi situasi sekarang melihat pentingnya bagi seorang Researchers dalam melakukan studi lapangan yang berkaitan langsung dengan bidang keahlian masing-masing.

Prof. Afrizal salah seorang narasumber menyampaikan bahwa di negara-negara maju sudah menggunakan penelitian literature dalam menjawab persoalan situasi terkini dalam mengerjakan skripsi, tesis dan disertasi. Penelitian literature pantas untuk digunakan sebagai pertimbangan dalam menjawab metode penelitian yang digunakan sebelumnya yang menggunakan studi lapangan yang mengharuskan mahasiswa, dosen dan civitas akademika turun ke tengah masyarakat.

Sedangkan, situasi sekarang agak kesulitan untuk berkumpul dan berkerumunan ketika melihat penyebaran Covid-19 yang penyebarannya cepat menular.

Alternatif Penelitian

Sudah mahfum diketahui, bahwa dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang didapat bagi seorang sarjana, magister maupun doktor suatu institusi perguruan tinggi harus terdokumentasi dalam sebuah kerangka yang bernama riset penelitian.

Dalam riset penelitian harus melihat etika dan standar kepenulisan yang harus dipedomani dalam menulis kerangka berpikir ilmiah, baik segi metode, pengumpulan data, informan maupun analisis temuan lapangan.

Untuk mencari jawaban tersebut harus memilih dan memilah mana penelitian yang cocok dengan penelitian yang digunakan dalam menjawab dari setiap pertanyaan-pertanyaan yang ada. Yang salah satu penelitian studi dari beberapa jenis penelitian ialah penelitian literatur.

Terkadang, seorang peneliti mesti jeli melihat setiap kondisi yang terjadi dilapangan dalam menjawab setiap tantangan yang dihadapi baik situasi lapangan maupun peran keilmuan itu sendiri. Di era pandemi yang masih berlangsung, bukan tidak mungkin seorang peneliti menggunakan penelitian literatur dikarenakan hal-hal yang harus disesuaikan dalam menemukan jawaban dari setiap penelitian.

Penelitian literature dari dulu sudah terhitung sebagai salah satu metode yang ampuh dalam menjelaskan realitas yang terjadi ditengah masyarakat, namun memang jarang digunakan melihat saat itu yang belum sepopuler penelitian kualitatif dan kuantitatif. Bahkan, dalam melihat situasi sekarang menjadi keniscayaan yang mesti dipakai dan dicobakan sebagai seorang peneliti.

Bagi sebagian peneliti di bidang sains mempertanyakan kevaliditasan data namun bagi bidang humaniora ini menjadi suatu solusi altenatif melihat ilmuan social yang lebih banyak turun ke lapangan dan bertemu dengan masyarakat banyak. Memang terdapat perbedaan dengan ilmuan sains yang hanya meneliti dilaboratorium pada spesimen benda dan hewan tertentu. Yang hal tersebut jauh berbeda dengan humaniora yang memang diharuskan turun kelapangan untuk melihat langsung peristiwa dan fakta yang terjadi.

Kalau di negara maju, semisal Amerika Serikat, Uni Eropa dan lainnya, mereka biasanya mematok harga untuk mengakses hasil riset penelitian yang telah terakreditasi. Seperti : OSIRIS, Bloomberg dan Thompson Reuters. Ketiga platform ini jika mau mengambil data, mengunduh, melihat dan mengakses terlebih dahulu harus mencantumkan identitas peneliti dan membayar kepada mereka beberapa dollar.

Bedanya, dengan kita di Indonesia kebanyakan hasil riset penelitian tidak berbayar alias gratis. Alasannya, karena kebanyakan hasil riset penelitian di Indonesia merupakan hasil plagiarisme yang bagi setiap platform penelitian tidak menyeleksi secara ketat akan kaedah tersebut. Memang, ada beberapa platform di Indonesia yang berbayar tinggi yang itu tidak sembarangan orang bisa mengakses, hanya untuk orang dengan level-level tertentu yang bisa mengakses.

Sedangkan, untuk seorang mahasiswa S1 atau Mahasiswa S2 harus izin dulu atau mengharuskan menggunakan akun dosen S3 atau akun Professor. Ini menjadi persoalan bagi dunia pendidikan yang harus dicarikan jalan keluar dalam mentransformasi pendidikan ke arah yang lebih layak dan bisa bersaing dengan Negara-negara maju.

Kekhawatiran Plagiarisme

Walaupun ada yang menyoalkan terkait kelemahan dari penelitian literatur, yang data bisa saja untuk copy-paste dalam melakukan riset penelitian. Namun, hal tersebut dapat diantisipasi dengan melakukan Cross check and balance dengan memeriksakan setiap hasil penelitian baik skripsi , tesis maupun disertasi dengan mengkondisikan terlebih dahulu. Setiap riset penelitian baik skripsi, tesis maupun disertasi harus terinput dulu melalui aplikasi “Cek Turnitine”.

Jika setelah dilakukan verifikasi berupa pengecekan data melalui Turnitine dan didapatkan persentasi plagiat tinggi maka pihak universitas bisa menggagalkan hasil penelitian dari individu yang bersangkutan atau mencabut hasil dari riset yang bersangkutan. Biasanya, dalam sistem dijelaskan point-point mana saja yang merupakan hasil plagiat dan dari sumber mana plagiat. Sebenarnya, setiap mahasiswa yang lulus masuk perguruan tinggi telah mengikrarkan janji untuk setia, jujur dan berpihak pada nilai-nilai kebenaran.(*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top