Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Pemilik Rumah Shooting “Ranah Tiga Warna” Ini Berzakat, Bantu Warga Kampungnya

Dibaca : 2.8K

Agam, Prokabar — Sebuah rumah dengan corak lama berusia puluhan tahun, terbuat dari kayu itu, seakan sepi seperti biasanya. Namun ketika menengok ke dalam, terdapat beberapa orang dengan duduk berjarak. Terlihat ada pembagian sesuatu dari seorang dermawan kepada warga setempat. Dan senyum bahagia mereka pun bersinar. Keceriaan diakhiri setelah beberapa orang diantaranya mulai beranjak pergi kembali ke rumah mereka masing-masing.

Sebelumnya, rumah itu beberapa waktu lalu dimanfaatkan beberapa perusahaan perfilm Indonesia. Produksi film “Lima Menara” dan “Ranah Tiga Warna”. Mengkisahkan seorang Pemuda Asal Bayur, Agam. Penulis novelis Best Teller itu bernama Ahmad Fuadi, sempat merantau ke Amerika Serikat.

Pemilik rumah itu ternyata tidak hanya memiliki rumah yang sangat unit dan indah, ternyata juga pemurah, dermawan dan rendah hati. Sudah 10 tahun, mereka rutin berzakat untuk masyarakat yang hidup di kampung halamannya, Jorong Bancah, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Bernama Hajah Sumitri bersama suaminya, Haji Heriyanto. Mereka sendiri tinggal dan sudah memiliki rumah di Kota Bukittinggi. Tempat mereka hidup mengadu nasip hingga menjadi orang cukup sukses di sana. Meski umur sudah terbilang tua dan pensiun dari tenaga pendidik di sebuah univesistas di Bukittinggi, Sumitri masih banyak melakukan aktifitas lainnya.

Ia mewakili dua saudarinya Hajah Syawali Defi yang berada di Jakarta dan Firdaweri di Lampung, membagikan zakat hampir mencapai 200 orang warga kampungnya. Meski nilai nominal tidak terlalu besar, namun niat ikhlas untuk berbagi itu, diharapkan mampu meringankan beban “dusanak” mereka di kampung halaman.

“Ya, kegiatan ini telah berlangsung dan terus rutin dilaksanakan sejak 10 tahun yang lalu. Kami bersaudara terus berusaha mengeluarkan sedikit harta yang dimiliki, untuk berbagi dengan keluarga yang ada di kampung halaman,” ungkapnya saat ditemui Prokabar.com, Minggu (9/5).

Penerima dari tahun ke tahun terus meningkat. “Alhamdulillah, tahun ini hampir mencapai 200 orang. Meski kemampuan kami tidak terlalu banyak, namun upaya itu sudah menjadi kepuasan tersendiri bagi kami. Semoga menjadi ladang ibadah untuk di suatu akhir masa nanti,” tuturnya.

Kami memang tidak pernah mau kegiatan ini diekspos lanjutnya. Namun karena kehadiran anak dan mengutarakan demi kebaikan. Mengajak dermawan lain untuk berbagi kepada masyarakat kurang mampu, dapat kami pahami dan maklumi, jelasnya.

Suasana pun sempat terhening sejenak. Dan tidak lama, datang seorang warga naik ke atas rumah menemui beliau.

Usai itu, cerita pun dilanjutkan. “Ya Harapan kami tentu, semoga apa yang telah dilakukan mendapat ridho Allah SWT dan membantu sesama. Kami mendapat doa dari masyarakat, semoga kehidupan kami terus semakin lebih baik kedepanya,” imbuh Mantan Dosen salah satu universitas di Sumatra Barat tersebut.

Yasni Syukri, salah seorang tokoh Masyarakat setempat menambahkan aksi sosial itu hendaknya terus meningkat. Tidak hanya warga yang terbantu. Para penyalur zakat dari perantau juga diharapkan semakin banyak hendaknya.

“Apalagi saat masa pandemik Covid-19 ini. Dimana kondisi perekonomian kita ajlok, aktifitas ekonomi dibatasi membuat tingkat kemiskinan semakin bertambah. Dengan kehadiran para dermawan kita dari perantauan, jelas akan membantu masyarakat di kampung halamannya,” terang Ibu dengan panggilan “Amak” ini.

Perantau Maninjau yang sukses sangat banyak di daerah perantauan mereka. “Alangkah indahnya, mereka bisa berbagi dan terus membantu keluarga kurang mampu. Dan biasanya, melalui Ikatan Perantau Maninjau di berbagai daerah, terus menyalurkan zakatnya. Dan kita berharap ditahun ini tetap ada dan semakin meningkat hendaknya,” pungkas Amak. (rud)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top