Pemerintahan Kriminal

Penulis -

Minggu, 4 September 2022 - 14:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Tommy TRD

Pelaku kriminal terbaik sejatinya adalah memang orang-orang yang dilegalkan untuk berbuat kriminal. Siapa itu? Pemerintah! Lebih spesifik ? Silahkan anda sebut instansinya apa saja. Maka kemungkinan besar akan ditemui tindakan kriminal yang “dilegalkan” di sana. Lalu kenapa bisa seperti itu ? Mari kita bahas.

Semakin hari semakin sedikit negara di dunia yang memang menganggap bangsa dan negara sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan dan dipandang tinggi. Tren menunjukan bahwa negara kekinian cenderung menjadi wadah bagi pemburu harta karun, dan juga wadah bagi orang-orang yang ingin memperkaya diri. Lihat saja kebijakan-kebijakan pemerintah yang dibuat atas nama negara, apakah memang untuk kejayaan bangsa, atau sebaliknya?

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Masalahnya adalah, pemerintah memiliki semua instrumen untuk melegalkan tindakannya yang “ilegal”. Walaupun tindakan atau kebijakan itu bertentangan dengan UU sekalipun. Siapa yang akan mengawal? Perwakilan rakyat? Penegak hukum? Hal seperti itu tidak terjadi. Entah kenapa, tapi hal seperti itu tidak terjadi.

Mungkin tidak terhitung UU yang mungkin dilanggar oleh sebuah pemerintahan, lalu apa? Ada impeachment? Ada pengunduran diri? Tentu saja tidak. Bagi sebagian besar orang saat ini, kekuasaan itu terlalu manis untuk ditinggalkan. Dan lagi pula pemerintahan terkadang tidak lebih dari sekedar transaksi jual beli mobil second. Banyak kekurangan, namun selama harga dan fee yang dibayarkan bisa disepakati bersama, maka segala sesuatunya berjalan seperti biasa.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Cilakanya, “konsep pemerintahan” seperti ini ikut turun dari pusat hingga ke daerah. Maka isi pemerintahan saat ini mayoritasnya kalau bukan pejabat kurang ajar yang arogan (biasanya dari partai berkuasa di negara itu), atau pejabat yang dapat summa cum laude dalam hal pencitraan, tapi harus mengulang semua mata kuliah wajib.

Dampaknya, begitu banyak kebijakan, keputusan, narasi yang dibangun oleh pemerintah memang tidak memenuhi standar. Baik standar akademik, praktik ataupun standar moral. Bahkan dengan standar moral di zaman ini yang sejatinya sudah turun sangat jauh dari masa lalu. Apalagi jika dibandingkan dengan standar moral pada masanya Agus Salim, Lumumba, Guevarra.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Tentu banyak orang yang akan bertanya, apa yang salah? Itu sungguh pertanyaan yang akan cukup sulit untuk dijawab, karena begitu banyaknya variabel dan faktor yang mempengaruhi. Tapi ketika harga diri dan kehormatan aparatur pemerintah sudah menjadi item yang ada dalam flash sale 12.12, pemerintahan macam apa yang bisa diharapkan?

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB