Daerah

Pemandian Air Hangat Maninjau Kembali Dikelola, Ini Perubahannya

Maninjau, Prokabar — Siapa pula yang tidak mengenal Danau Maninjau? Destinasi wisata yang sudah tersohor dari Tingkat Nasional dan Mancanegara. Pasca reformasi dan krisis moneter 1998. Disertai terlalu bebasnya touris berwisata, sempat membuat Ninik Mamak menolak dan merupkan pariwisata Danau Maninjau. Diperparah membludaknya keramba, merusak sirna keindahan dan kesejukan Pesona Danau Maninjau.

Dampak buruk tersebut juga membuat Pemandian Air Hangat Maninjau yang sudah ada sejak Kolonial Belanda ini menjadi kelam. Beberapa lama redup, kini Kaum Melayu selaku pemilik lahan kembali melirik potensi tersebut agar dapat termanfaatkan untuk orang banyak. Bahkan untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan Kaum serta masyarakat setempat.

Irham Pamuncak (42) selaku pengelola dipercaya pihak keluarga suku Melayu mengatakan pemandian air hangat didirikan sekitar 1925. Selain kebutuhan masyarakat, banyak touris mancanegara yang sudah berkunjung dan menikmati pemandian air hangat ini.

Saat ini Kaum Melayu dipimpin Datuk Marajo. Sedangkan pembangunan Mushalla, Kamar Bilas dan wc sudah lengkap berkat peranan H. Murni Rauf salah satu pemilik sekaligus sesepuh Kaum Melayu tersebut.

“Pembangunan ini sudah menghabiskan anggaran sekitar Rp120 juta rupiah. Dan ini berkat sumbangan Haji Murni Rauf selaku pihak keluarga yang memiliki kepedulian untuk saat ini. Kami berharap masih ada pihak keluarga yang terus berperan guna pengelolan yang lebih baik lagi,” tuturnya.

Kita lanjutnya, juga sangat membutuhkan dukungan Pemerintah Kabupaten Agam, Pemerintah Kecamatan Tanjung Raya, Pemerintahan Nagari, Ninik Mamak, Bundo Kanduang, Alim Ulama beserta pemuda dan pemudi. Mengatur regulasi yang baku dan disiplin, sehingga benar-benar menciptakan kenyamanan dan keamanan dari semua pihak.

Sementara itu, Adial Syultanda (36) salah seorang pengunjung sangat puas dan senang dengan adanya pembangunan Mushalla, Kamar Bilas, wc serta pembaharuan fasilitas lainnya. Karena menambah kenyamanan pengunjung menikmati suasana pemandian tersebut.

“Saya warga asli Bayur yang merantau ke Perawang, Provinsi Riau. Setiap liburan sekolah, saya dan 3 orang anak beserta istri selalu ke Maninjau dan menikmati pemandian air hangat ini. Setelah adanya pembangunan penambahan infrastruktur ini, jelas membuat pelayanan semakin lebih baik,” terangnya.

Selain itu lanjutnya, memang dibutuhkan pengaturan dan pengelolaan yang jelas sehingga pengunjung wisatawan yang hendak ke sini tidak bersamaan dengan penduduk setempat yang juga mau menikmati pemandian air hangat. “Selain itu, aturan lainnya juga masih banyak dibenahi, sehingga berdampak besar pada peningkatan perekonomian masyarakat setempat,” pungkasnya. (rud)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top