Tanah Datar, Prokabar – Sawah Kareh merupakan salah satu jorong yang berada dalam geografis kenagarian Balimbing, kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar. Selain merantau, bercocok tanam di sawah dan ladang, penduduk di Jorong ini juga berprofesi sebagai penghasil minuman tradisional cincau.
Mulai dari yang muda, hingga berusia lanjut memilih berdagang cincau keliling ke berbagai kecamatan di Luhak Nan Tuo. Ada yang menggunakan sepeda motor, dan ada juga dengan berjalan kaki sambil menjunjung sebuah ember berisikan cincau.
” Kami “manjajo” (berdagang) ke tempat yang berbeda-beda, ada ke Lima Kaum, Saruaso, Rambatan, dan tempat lainnya,” ucap salah seorang pedagang cincau yang enggan menyebutkan namanya.
Biasanya, segelas cincau dijual oleh pedagang senilai tiga ribu rupiah. Agar rasa cincau tersebut tidak hambar, pedagang pun menambahkan sedikit santan dan asam.
“Agar rasanya enak, ada pakai santan. Ada juga pembeli yang tidak mau dicampur santan, dan memilih pakai asam saja. Itu terserah kepada pembeli, dan tergantung selera,” ujarnya.
Biasanya, selain didapatkan dari ladang sendiri, bahan baku cincau juga dibeli oleh pedagang keliling kepada petani, yang notabene sengaja menanam daun cincau tersebut untuk dijual kembali.
“Daun cincau kami beli kepada pedagang, baru diolah lagi untuk dijual keesekoan hari,” tambahnya.
Dikumpulkan dari berbagai sumber, daun cincau memiliki khasiat yang cukup beragam, seperti obat demam, radang lambung hingga hipertensi.
Nah, jika anda berkunjung ke Tanah Datar, dan melihat pedagang cincau keliling, mungkin tidak ada salahnya untuk mencoba olah minuman tradisional cincau ini. Yang pastinya, pedagang cincau keliling itu warga Sawah Kareh, Nagari Balimbiang, Kecamatan Rambatan.(eym)
















