Peristiwa

Pasar Aua Tajungkang Membara

ProKabar-Bukitinggi– Pasar Aur Tajungkang, Pasar Bawah, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat ludes terbakar, Jumat (12/5) dini hari. Api terlihat pertama kali dari lantai dua Blok AT II.Dalam waktu sekejap setidaknya 28 toko hangus terbakar beserta isinya.

Untuk memadamkan api, petugas damkar dari Bukitinggi, Agam, Padang Panjang dan Payakumbuh, bahu membahu menjinakkan api. Api baru padam sekira pukul 05.30. Kerugian akibat kejadian ini diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Polisi saat ini masih menyelidiki penyebab kebakaran dengan memanggil sejumlah saksi. Perkiraan polisi sementara api membesar karena hubungan pendek arus listrik.

Pasar Bukitinggi Dalam Sejarah

Seiring dengan ditetapkannya batas-batas Bukittinggi (1888), maka pembangunan pasarnya juga semakin digiatkan. Pada tahun 1890 dibangun sebuah loods (orang Minang menyebutnya dengan loih) di tengah pasar Bukittingi. Biaya pembangunannya berasal dari Pasar Fonds dan pinjaman dari Singgalang Fonds sebanyak f.400 ,-. Pekerjanya diambil dari daerah itu. Mereka dipekerjakan sebagai tenaga rodi bersama-sama dengan para tahanan dari tangsi Bukittinggi.

Enam tahun kemudian (1896) dibangun lagi sebuah loods di bagian Timurnya. Kedua los itu diperuntukan bagi pedagang kain, kelontong, dan sejenisnya. Pada tahun 1900 dibangun lagi sebuah loods yang khusus untuk menjual daging dan ikan basah, baik ikan air tawar maupun ikan laut. Loods itu dibangun di pinggang bukit sebelah Timur supaya kotoran dan air limbahnya dapat dialirkan langsung ke selokan (bandar) yang mengalir di kaki bukit itu. Oleh karena lokasinya itu berada di kemiringan, maka pasar itu dinamakan oleh masyarakat dengan Pasar Teleng (miring).

Penataan Pasar Bukittinggi dilakukan secara besar-besaran pada masa pemerintahan Controleur Oud Agam, L.C. Westenenk (1901-1909). Lokasi pusat pasar diperluas dengan mendatarkan gundukan tanah bukit di sekitarnya. Warung-warung yang tidak teratur letaknya dirobohkan. Sebagai gantinya dibangun beberapa loods dengan mengikuti topografis Bukittinggi yang berbukit itu, sehingga pasar Bukittinggi menjadi bertingkat-tingkat.
Selain itu juga dibangun loods maco untuk ikan kering dan pasar bawahunyuk sayur sayuran dan hasil alam lain. Di dekat stasiun kecil kereta api (yang menuju ke Payakumbuh) muncul pula pasar yang dinamakan dengan Pasar Aua Tajungkang. Para pedagang diberikan hak sewa tanah sebesar f.1 ,-/tahun dan diizinkan untuk mendirikan kios sendiri.
Bukittinggi dengan jantungnya Bukit Kandang Kabau menjadi ramai sekarang. Di sana ada Pasar Ateh dan maskot kota, Jam Gadang. (laf)

Click to comment

Tinggalkan Balasan

To Top