Pasaman, Prokabar – Pasaman Bangkit, sudahi terlenanya. Jangan lengah-lengah dan sibuk menonjolkan pencapaian kinerja. Jago lai.
Sampah basalemak di Pasaman. Tak ada titik terang perihal pengelolaannya dari Dinas terkait setempat.
Mereka (dinas) seperti tidur-tidur ayam. Ada riak di tengah masyarakat, baru tung-lantang membersihkan.
Pantauan awak media di sejumlah kecamatan, sampah masyarakat tampak menumpuk di beberapa titik hingga berhari-hari.
Bahkan, beberapa waktu lalu, Bupati Pasaman Welly Suhery menemukan langsung sampah berserakan yang sudah menggunung di kawasan Pasar Inpres Tapus.
Selaku Bupati, ia langsung memerintahkan dinas terkait segera melakukan pembersihan dan penanganan secara menyeluruh.
“Ke depan, saya instruksikan agar pengelolaan kebersihan Pasar Inpres Tapus dilakukan secara rutin, terjadwal dan berkelanjutan,” kata Bupati di akun media sosialnya.
Ia tidak ingin persoalan yang sama kembali terjadi dan mengajak seluruh pedagang serta masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan pasar.
“Pemerintah bertanggung jawab memastikan pelayanan berjalan baik, sementara kebersihan merupakan tanggung jawab kita bersama. Pasar bersih, pelayanan baik, masyarakat nyaman,” ucap Bupati Welly.
Hal yang sama juga terjadi di Pasar Kumpulan Nagari Koto Kaciak Kecamatan Bonjol.
Bak kontainer sampah yang sudah penuh dan tak kunjung diangkat, membuat sampah menjadi berserakan hingga ke sungai. Hal ini tentu membuat sungai menjadi tercemar.
Belum lagi di pusat ibu kota Lubuk Sikaping. Sampah juga berserakan di sepanjang jalan Bypass dan pasar benteng Lubuk Sikaping.
Untuk yang di rumah-rumah warga, sampah juga diangkut paling cepat sekali dalam tiga atau empat hari.
Ketika hal itu ditanyakan kepada Kepala Bidang Lingkungan Hidup Dinas PRKPPLH Pasaman, Irwan Rudi beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa semuanya sesuai kemampuan sarana dan prasarana yang ada.
“Dalam waktu dekat kita buat pengumuman ke masyarakat, jadwal jalan apa dan hari apa saja sampahnya diangkat, dan setiap kendaraan kebersihan akan di beri nomor, agar mudah di identifikasi oleh masyarakat dan mudah untuk melaporkan bila ada petugas kita yg melakukan penyimpangan dalam bekerja. Sehingga bisa ditindaklanjuti segera,” terangnya.
Di sisi lain, petugas pengangkut sampah pun, sudah tidak lagi serutin dulu dalam pejemputan sampah. Nyaris satu minggu sekali baru melalukan penjemputan ke pemukiman warga. Alasannya, biaya operasional yang mandek. Tempat pembuangan sementara yang sudah membludak karena tak dibuang ke TPA oleh petugas mobil. Ketika ditelusuri, jawaban yang ditemukan di lapangan masih sama, sesuai kemampuan. (RH)
















