Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Partisipatoris Nurani Elit

Dibaca : 97

Oleh: Muhammad Irsyad Suardi

Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Andalas

Pertama, tahun 1928 sebagai tahun sumpah pemuda, tahun cita-cita luhur pemuda seluruh Indonesia berharap satu tujuan, satu rasa, satu tanah air. Ikrar Sumpah Pemuda setiap tahun terus digemakan tepatnya 28 Oktober. Sudah 92 tahun menjadi ikrar/sumpah hingga sekarang 2020, dengan tujuan besar, “menegaskan cita-cita berdirinya Negara Indonesia. Banyak pioner sentral para pemuda saat itu, sebut saja, Soekarno, Muhammad Hatta, Soegondo, Muhammad Yamin dan sederet pahlawan nasional yang kita kenal sekarang.

Soal kesatuan cinta tanah air, jangan ragukan nasionalisme pemuda dulu!. Berlanjut, ke tahun 1945 sebagai hari berdirinya bangsa Indonesia di jajaran bangsa-bangsa kosmopolit. Betapa banyak, dunia dari berbagai belahan memberikan ucapan selamat, ucapan bahagia, ucapan syukur sebagai hari merdekanya bangsa Indonesia dari cengkraman kolonialisme. Sebut saja actor kemerdekaan saat itu, ada Bung Karno, Bung Hatta, St Syahrir, A.A Maramis, Tan Malaka dan sama.

Pahlawan nasional yang kita saksikan dalam mata uang yang kita belanjakan setiap hari.

Setelah itu, bersambung ke tahun 1965, gejolak pembangkangan dari PKI sebagai akibat ketidaksenangan Soekarno yang posisi di lengserkan oleh Soeharto. Terlepas dari versi soal siapa benar siapa salah sejarah PKI. Yang jelas, PKI adalah ideologi ganas, haram hukumnya untuk lahir dan berkembang di Indonesia.

Jelas, TAP MPRS No. XXV tahun 1965 sudah final dan mengikat bahwa ideologi PKI tidak diperkenankan berkembang di bumi Indonesia. Kalau kita pelajari lebih dalam siapa actor-aktor didalam roda pemerintahan, tentu jawabannya para pemuda waktu itu. Atau elite pemerintah.

Juga, runutan cerita 1998 dan seterusnya menyisakan banyak cerita tentang peran pemuda di masa sebelumnya. Banyak aktivis ketika jadi mahasiswa begitu kritis namun ketika masuk pemerintahan sikap kritis semasa mahasiswa lenyap begitu saja. inilah nama atau istilahnya “Partisipatoris Elite” tempat sekelompok orang yang pernah berjuang atas nama rakyat kemudian masuk di pemerintahan.

Nurani

Kira-kira kalau pikir-pikir, kenapa mereka bisa berubah begitu saja? banyak faktor, salah satu faktor penting, ekonomi. Mungkin, kenapa mahasiswa dulu hanya menanggung biaya hidup sendiri dan setelah berkeluarga akhirnya berubah lebih realistis dibandingkan kritis dimasa lalu. Lalu, mulai diam-diam korupsi, hidup mewah, semua berubah semenjak menikmati nikmatnya kursi pemerintahan. lalu, muncul pertanyaan kemanakah si “nurani” kemaren? Maka jawabnya; tertidur dalam alunan jabatan.

Dulu, semasa mahasiswa bersorak “utamakan kepentingan rakyat” , “berjuang bersama rakyat”, caci-caci pemerintah. Lalu? Setelah menjadi elite pemerintah “nurani” juga turut padam dihembus kenyangnya kenikmatan hidup didalam singgasana pemerintahan.

Meminjam teori dramaturgi Erving Goffman (1959) seorang sosiolog kanada, bahwa disaat seorang berada di front stage akan tampil sosok sebagaimana yang diinginkan, dan akan berubah saat di back stage tatkala mereka tidak takut lagi dari peran sebelumnya, sekalipun dapat merusak penampilan. Maka, dalam kehidupan dibelakang layar yang tanpa penonton justru watak asli kemaruk seperti berkeliaran di kegelapan (Kompas, 23/03/2019).

Maka, terang jelas bahwa, semua elite kini yang di pemerintah kini mereka dulu merupakan seorang aktivis yang berjuang demi rakyat. Partisipasi dalam bergerak, membingkai kekuatan, menyatukan tujuan dan berteriak membusungkan dada bahwa pemerintah telah keluar dari jalur yang semestinya. Kini? Hening, tidak bisa berkutik, seperti pengesahan UU Cipta Kerja kemaren, UU revisi KPK dan seterusnya. Memang wajar saja, dunia tak seindah yang aktivis bayangkan. Bahkan, dunia hanya menjadi tampuk kekuasaan demi memenuhi hasrat yang tidak akan pernah berhenti sebelum seseorang masuk ke bawah tanah. Maka, satu kata, masihkah bekerja dibawa si “nurani”? (*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top