Tanah Datar, Prokabar – Pemerintah Kabupaten Tanah Datar mulai membuka pintu bagi wisatawan asing untuk berwisata ke seluruh destinasi wisata di kabupaten tersebut. Peneriman wisatawan asing ini, seiring dikeluarkannya sertifikat C-H-S-E atau sertifikat kepada usaha pariwisata, destinasi pariwisata, dan produk pariwisata oleh Kemenpar RI beberapa waktu lalu.
Sertifikat tersebut kata bupati Tanah Datar, merupakan sertifikat jaminan kepada wisatawan terhadap pelaksanaan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan, terkhusus ditengah pandemi covid 19. Pada sertifikat tersebut lanjut Eka, Tanah Datar meraih nilai 90, atau sangat baik.
”Pertama, kami tentu meyakinkan pengunjung jika minat masyarakat Tanah Datar dalam vaksinasi covid 19 itu sangat tinggi, dan kita juga sudah ada sertifikat CHSE dimana dengan sertifikat itu wisatawan yakin bahwa disini protocol kesehatannya sangat ketat,” kata Eka Putra yang saat itu turut didampingi Kadis Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, Abdul Hakim.
Lebih lanjut Eka menyampaikan, jika dengan telah adanya jaminan itu, ia berharap wisatawan bisa percaya dan berkunjung ke kabupaten Tanah Datar untuk berwisata.
“Salah satunya Istana Pagaruyung, desa terindah Pariangan, Aua Sarumpun, Puncak Pato, terus Tanjung Mutiara di Danau Singkarak,” lanjutnya.
Antisipasi objek wisata tidak menjadi cluster baru penyebaran covid 19, Eka mengatakan jika pihaknya tetap menegakan protocol kesehatan ketat.
“Kami itu satu pintu, memperhatikan dan membersihkan juga objek objek yang bisa sebagai sumber penyebaran virus, seperti toilet dan lainnya. Seperti pengalaman di tempat lain, kita tetap desinfektan objek objek itu,” lanjutnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan, jika nantinya juga akan dilakukan promosi terhadap objek wisata Tanah Datar ke Negara tetangga, seperti Malaysia. Selama ini, Istano Basa Pagaruyung sebagai pusat kebudayaan, telah menjadi tujuan wisatawan dari negeri rumpun melayu itu.
“Dalam waktu dekat ini, kalau Malaysia sudah buka, kami akan berkunjung dan menyampaikan kesana. Kita juga sudah mulai ada kontak dengan pihak Negara tetangga, dan setelah pertemuan kembali mengundang untuk atang berkunjung ke Tanah Datar,” pungkasnya.
Sementara itu, Efrison, Kabid Pariwisata Disparpora Tanah Datar saat dihubungi melalui sambungan telpon mengakui jika selama pandemi covid 19, kunjungan wisatawan anjlok drastic.
Hal ini bisa dibuktikan dengan pendapatan daerah melalui penjualan tiket masuk yang hanya terealisasi sebesar 2 miliar rupiah dari 7 miliar rupiah sebelum pandemi melanda.
Tidak hanya kunjungan, ekonomi masyarakat yang bergantung pada kunjungan wisatawan pun turut berdampak turun.
“Semoga dengan telah terbitnya sertifikat, gairah pariwisata Tanah Datar akan kembali bangkit,” tutupnya.(eym)
















