Pasaman, Prokabar — Rusni (56) duduk termenung menghadap sisi luar jendela ruang inap pasien RSUD Lubuk Sikaping. Begitu juga suaminya, Abasri, hilir mudik dengan wajah kusam dan panik. Di tangan sang suami, selembar tagihan dari pengobatan sang istri, Rusni digenggam erat-erat. Dibawa kian kemari tagihan yang tidak tahu harus dibayar pakai apa.
Rusni, warga Batu Kambiang, Jorong Tigo Koto, Nagari Silayang, Kecamatan yang teramat kurang mampu itu menjadi korban keteledoran dan minimnya perhatian pemerintah Pasaman terhadap pelayanan kesehatan masyarakat. Terutama di Mapattungul Selatan. Kenapa tidak, kartu KIS yang dipakainya berobat, ternyata tidak aktif, sementara punya sang suami aktif. Aneh, tapi begitulah. Beruntung, Direktur RSUD Lubuk Sukaping, Yong Marzuhaili mengedepankan sisi kemanusiaan dalam pelayanan. Kalau tidak, entah mau dikata apa.
Kejadiaan minimnya perhatian pemerintah akan rakyat badarai yang ada di pelosok Pasaman ini, berawal saat, Rusni menderita penyakit nyeri tulang belakang. Ia berobat ke Puskesmas Silayang. Saban hari, penyakit Rusni kian parah. Sampai-sampai ia tidak dapat berdiri dan harus dirujuk ke RSUD Lubuk Sikaping.
“Lantaran tidak ada sinyal internet, pihak Pukesmas tidak dapat mengakses keaktifan kartu KIS pasien. Iapun dirujuk dengan rencana sebagai pasien dari tanggungan KIS. Tahunya, KIS pasien Rusni ini tidak aktif. Saya ambil kebijakan, berobat dulu, masalah yang timbul belakangan,” terang dokter Yong.
Rusni masuk Selasa kemarin dan dirawat hingga bisa dipulangkan, Kamis (2/1). Biaya yang timbul sampai jutaan rupiah. Hingga akhirnya, dokter Yong memgambil kebijakan dan membebaskan biaya pengobatan Rusni.
“Sebagai bagian dari pemerintah, kami tidak ingin hal serupa terjadi. Untuk itu, saya berharap dan bakal berkoordinasi dengab instansi terkait. Semoga ada jalan keluar momok lama ini,” kata dokter Yong.
Di sisi lain, minimnya pelayanan kesehatan di Mapattunggul Selatan ini sudah menjadi rahasia umum. Mulai dari tidak adanya jaringan internet yang semestinya sudah harus diadakan oleh pemerintah. Sampai-sampai masih ada masyarakat sakit yang ditandu untuk berobat gara-gara akses jalan yang teramat buruk.
“Sudah berbuih mulut kami masyarakat meminta menara satelit. Nan pemerintah lebih penting membuat rumah dinas, beli mobil dinas dan membuat fasilitas lain yang tidak prioritas. Perhatikanlah kami rakyat badarai ini agak sedikit. Jangan datang ketika hendak Pilkada saja,” tukas Ardian, salah satu pemerhati warga di Mapattunggul Selatan. (Ola)
















