Oleh: Rizal Marajo
Selasa pagi kemarin, saya mendapat kabar duka di WA Grup, bahwa telah berpulang H. Weldi Drieno di Bandung. Pria yang akrab disapa Haji Dino itu sudah saya kenal sejak satu dasa warsa terakhir.
Seperti kebanyakan sahabat saya, kami awalnya disambungkan, dihubungkan, disatukan oleh satu kata, sepakbola. H. Dino pun seperti itu, sepakbola pula yang menyebabkan saya kenal dan bisa selalu bersilaturahmi dengan pria berumur 58 tahun itu.
Innalillahi Waina Ilaihi Rojiun.
Sekarang orang baik itu sudah berpulang, dipanggil-NYA dengan tenang. Sepenggal doa saya kirimkan, semoga akhir hayatnya berakhir dengan indah, dan mendapat tempat terbaik di sisi Sang Khalik.
Siapa H. Dino?
Orang Bandung dan sekitarnya, khususnya yang menyukai bola dan Persib Bandung tentu saja, pasti kenal dengan nama Weldi Drieno. Minimal pernah mendengar namanya. Paling tidak pernah membaca namanya di harian-harian Kota Bandung.
Dia orang Minang, dan pengusaha garmen sukses di Kota Kembang. Lelaki separoh baya ini terkenal dengan produknya, Music T-shirt. Tapi dibalik aset niaganya yang tergolong sangat sukses itu, dia adalah seorang pecinta sepakbola sejati. Klub favoritnya adalah Manchester United.
Dia juga Orang yang punya komitmen tinggi pada pembinaan sepakbola usia dini. Bahkan komitmennya itu telah menghasilkan buah yang manis. Klub miliknya, Saswco Bandung, pernah tampil sebagai juara regional Asia Fasific dalam Manchester United Premier Cup (MUPC) U-15 tahun 2013.
Dalam putaran final regional di Penang Malaysia, Saswco yang menjadi wakil Indonesia mengalahkan Thailand melalui adu penalti, dengan skor 9-8. Atas keberhasilan ini, untuk pertama kali sepanjang tujuh kali penyelengggaraan MUPC, ada wakil Indonesia yang akan tampil di MUPC final di Theatre of dreams Old Trafford Manchester. MUPC Finals ini akan digelar 2 Agustus 2013.
Tanpa banyak omong, tanpa gembar-gembor berlebihan, H. Dino dengan Saswco-nya membuat sejarah dan memberi sedikit kebanggaan bagi sepakbola Indonesia. “Luar biasa, ini sebuah sejarah bagi sepakbola Indonesia, pertama kali akan ada wakil Indonesia di putaran final di Old Trafford.”
Dia pantas bahagia, anak asuhnya atau klub binaannya mampu menembus Old Trafford. Stadion yang menjadi tempat terindah yang pernah dikunjunginya, kandang kebanggan klub kesayangannya, Manchester united.
Itulah sekelumit tentang H. Dino, saya ingat delapan tahun lalu itu dia begitu bahagia berbagi kabar Saswco lolos ke Old Trafford dengan saya via sambungan telepon. Sejak itulah, persahabatn dengan H. Dino berjalan, walau kesempatan bertemu langsung hanya bila saya ada kesempatan tugas ke Bandung, atau bertemu saat dia pulang kampung di hari lebaran.
H. Dino berasal dari Sungayang, Tanah Datar, masih saudara atau kerabat dari pihak ayah, dengan H. Yasman Yanusar, seorang pebisnis handal yang juga dikenal tercatat sebagai tokoh sepakbola dan futsal di Sumbar.
Bersama Dino, H. Yasman ini juga tercatat sebagai salah satu pendiri klub Saswco tahun 2001 di Bandung. Dikampung halaman mereka di Sungayang kedua orang ini juga punya klub yang bernama Jordus FC. Bukan klub profesional, tapi klub kampung yang menyalurkan hasrat bermain bola anak-anak muda yang ingin meraih prestasi di sepakbola.
Selain memilki Saswco, Dino juga memiliki dua klub sepakbola lainnya di Bandung, yang berkompetisi di divisi utama Persib. Disamping Saswco, klub itu Jetira dan Java juga miliknya.
Kiprahnya dalam persepakbolaan di Tanah Pasundan atau di Tatar Sunda, dia pernah tercatat sebagai pengurus Persib Bandung. Di era dia jadi manejer tim, Persib Yunior juara nasional Liga remaja 2003.
Selain itu dia juga punya SSB yang diberi nama Saswco juga. Prestasi SSB-nya ini, pernah runner up Festival Danone Cup U-12 2013 tingkat nasional.
SSB Saswco sebagai wakil Jawa Barat kalah adu penalti dari SSB Tugu Muda Semarang, Jawa Tengah, sehingga gagal ke festival Danone tingkat dunia di London. Tapi kegagalan itu ditebus oleh Saswco U-15 dengan menjadi wakil Asia ke Manchester.
Itulah Dino, dengan SSB dan klub-klub amatirnya bekerja mengumpulkan pemain-pemain muda berbakat untuk menciptakan pemain sepakbola berkualitas.
Beberapa nama populer yang beredar di kompetisi profesional saat ini adalah alumni Saswco, sebut saja Ferdinand Sinaga, Eki Nurhakim, Gilang Angga Kusuma, Shahar Ginanjar, dan Wildansyah.
Diluar itu semua, jasa Dino untuk tim-tim sepakbola atau futsal Sumbar, yang bertanding ke Bandung juga tak sedikit. Dia akan membantu memfasilitasi dan membantu segala kebutuhan tim dengan senang hati dan ikhlas, misalnya saat tim futsal PON Sumbar 2016, atau iven-iven lainnya di Bandung.
Selamat Jalan Uda Dino, tenanglah disana dan teruslah ke surga.
Semoga Allah SWT membuatkan Istana di Surga dengan lapangan sepakbola di halamannya.(*)
















