Palembang, prokabar – Sriwijaya Fc untuk sementara memimpin klasemen Grup A Liga 2 2021, setelah berhasil meraup poin penuh usai berhasil mengkandaskan perlawanan Muba Babel United (MBU) 1-0. Kini, sang pelatih Nilmaizar langsung fokus laga berikutnya.
Sesuai jadwal, Sriwijaya akan melakoni laga kedua pada Senin (11/10) malam di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring melawan Semen Padang FC. Ini adalah laga spesial dan emosional bagi Nilmaizar, karena akan melawan tim yang membesarkannya, baik semasa jadi pemain maupun jadi pelatih.
Walau kisah hubungan emosionalnya dengan Semen Padang FC menjadi “santapan” empuk media Palembang, pelatih kelahiran Payakumbuh 2 Januari 1970 menjawab pertanyaan awak media dengan cara yang sangat elegant.
Mengingat tim berjuluk Kabau Sirah ini memiliki kenangan selama 16 tahun di hati Nil. Belum lagi dari hasil laga perdana Sementara Padang FC asuhan Weliansyah ini bermain imbang dengan PSPS 1-1 kemarin.
Nil terlebih dahulu mengajak untuk mensyukuri nikmat setelah memetik kemenangan laga perdana. Pasca bermain laga perdana ini tentu ia melakukan evaluasi. Apalagi masih ada empat kali lagi pertandingan.
“Kita masih ada waktu Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu. Senin baru kita main. Menghadapi Semen Padang seperti abang bilang, tentu emosi saya pasti ada dengan Semen Padang karena bagaimanapun saya sudah 16 tahun di Semen Padang,” ungkap Nil Maizar presscon seusai laga.
Dari catatan perjalanan di Semen Padang juga merupakan klub yang telah membesarkan namanya, sebuah ikatan emosional yang tak akan pernah hilang.
Nil Maizar bergabung dengan Semen Padang usai memperkuat tim nasional Pra Olimpiade 1991. Sebagai putra daerah yang sedang harum-harumnya di Timnas, Semen Padang sangat berhasrat membawa pulang Nil.
Sebagai bonus atas keberhasilan manajemen membawa Nil ke Padang, pelatih Suhatman Imam saat itu mendaulat Nil sebagai kapten tim. Saat itu Nil resmi menjadi pemain dan karyawan PT. Semen Padang.
Nil menjadi kapten termuda dalam sejarah tim, dan tahun 1992 dan memimpin Semen Padang meraih gelar pertama di kancah nasional, yaitu Piala Liga Milo. Semen Padang menjadi wakil Indonesia di Cups Winner Cup Asia 1993.
Sayang karirnya di Semen Padang tak lama, hanya tujuh tahun. Sempat hijrah semusim membantu PSP Padang untuk naik ke Divisi Utama, Nil pensiun sebagai pemain setelah cedera.
Setelah resmi pensiun, Nil menjajal karir sebagai pelatih. Kemauan, tekad kuat, dan terus belajar, serta tak ragu mengambil lisensi kepelatihan membawa Nil menjadi pelatih yang berpotensi dan berbakat.
Setelah kenyang jadi pelatih tim yunior Semen Padang, jadi asisten, tahun 2011 dia pertama kali jadi pelatih kepala penuh tim almamaternya.
Sejak itulah nama Nil berkibar, sebagai salah satu pelatih muda asal Ranah Minang yang mulai diperhitungkan di Indonesia.
Namanya terus berkibar dan masuk jajaran pelatih level atas di Indonesia. Saat ini dia sudah menyandang lisensi tertinggi pelatih Indonesia, yakni AFC Pro.
Walau sempat berkiprah diluar Semen Padang, bersama Timnas Indonesia, Putra Samarinda, PS. Tira, dan Persela Lamongan, tapi bagi Nil Semen Padang adalah cinta matinya dan identitasnya yang tak akan pernah hilang.
Dia merasa aneh dan emosional jika bersama tim lain melawan Semen Padang.
Tapi ia telah meyakinkan ke publik terutama kepada Sriwijaya FC dan masyarakat Sumatera Selatan tempatnya bekerja saat ini akan profesional. Nil harus mengesampingkan hal-hal semacam itu.
“Tapi tentu secara duniawi saya harus profesional. Tidak mungkin saya harus A, harus B. Tentu saya harus profesional memperjuangkan bagaimana Sriwijaya memberikan yang terbaik menghadapi Semen Padang besok 11 Oktober nanti,” katanya.
Pertandingan hari Senin nanti, adalah kali ketiga Nil menghadapi Semen Padang. Sebelumnya bersama Persela Lamongan, Nil dua kali menghadapi Semen Padang di kompetisi Liga 1 2019.(*)
















