Nestapa Tujuh Ayat Berulang, Sering Dibaca, Jarang Dipahami, Berani Sentuh?

Penulis -

Selasa, 29 April 2025 - 21:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Assyifa  Akhfadatul Ulya

Mahasiswa UIN Imam Bonjol

Al-Fatihah dibaca ribuan kali, tapi siapa yang benar-benar memahaminya? Kita mengulang doa, namun hati tetap terlena. Begitulah, semakin sering dibaca, semakin sedikit yang dipahami. Nestapa itu ada pada kita. Membaca tanpa merenung, Bagai berdoa tanpa harap.

7 ayat yang diulang setiap hari dalam shalat, 17 kali dalam sehari secara terus menerus. Bayangkan, yang wajib saja sudah 17 kali, belum lagi ditambah dengan sunnah, mungkin bisa 25 kali. Dalam sebulan? Setahun? Seumur hidup?  Angkanya sudah pasti mencengangkan. Ibaratkan seorang itu berusia 60 tahun yang rajin melaksanakan shalat, ia telah membaca Al-fatihah sebanyak 372.300 kali dalam hidupnya! Namun kenyataannya, semakin banyak intensitas melafalkan, semakin kehilangan esensi hingga pemahaman. Hal ini disebut “paradoks keakraban” semakin akrab, semakin tak terlihat.

Bukan sekedar bacaan. Allah menetapkan sesuatu selalu ada maksud tersendiri. Al-fatihah bukan sekedar bacaan awal dalam shalat, bukan sekedar syarat wajib shalat, tetapi ada satu redaksi yang ingin Allah sampaikan bahwa betapa pentingnya surat ini dalam kehidupan. Bagaimana kita meresapi setiap makna dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dibaca Ribuan Kali, Dipahami Nol Kali?

Polling mini yang saya lakukan di IG story menghasilkan fakta mencengangkan: 72% responden mengaku sering membaca al-fatihah tanpa menghayati maknanya. Sedangkan 28% menyebutkan kadang-kadang saja. Real Talk-nya: kita sering membanggakan jumlah bacaan Al-qur’an, tapi abai pada kualitas pemahaman apa yang kita baca.

Ternyata selama ini, kebanyakan kita hanya mengulang ulang bacaan saja tanpa tau makna yang terkandung didalamnya. Padahal ada banyak hal yang terkandung didalamnya. Seperti: Pengesaan Allah SWT., Pengakuan terhadap hari pembalasan, penyerahan diri dalam hal penyembahan dan pertolongan, petunjuk jalan yang benar, dan harapan agar dijauhkan dari golongan yang dimurkai juga dibenci-Nya. 7 ayat yang diulang ternyata memuat segala hal yang menjadi inti dalam kehidupan kita.

“Ihdinash shiraathol mustaqim”. Kenapa kita mengulang ulang kata tersebut setiap harinya? Meminta petunjuk kepada Allah agar selalu diberikan jalan yang lurus? Logika saja, apakah selama ini sering melenceng sampai setiap 17 kali sehari harus meminta ditunjukkan jalan yang benar?

Kenyataanya, Ini semua tentang apa yang kita ulang setiap harinya, bagaimana seharusnya al-fatihah itu dimaknai. Nabi Muhammad SAW. Sudah menyebutkan dalam sebuah hadistnya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim “tidak ada shalat bagi seseorang yang tidak membaca al-fatihah”. Artinya apa? Berarti apa? Nabi ingin memberikan trigger warning bahwa “iniloh pondasi kamu”, “kalau tidak ada ini, semuanya buyar, shalat kamu tidak sah, shalat tidak sah, tiang agama kamu hancur, hidupmu akan berantakan”.

Berani Sentuh?

Kapan terakhir kali kita benar-benar merasakan Al-fatihah “menyentuh” jiwa? Beberapa mungkin sedikit tidak nyaman untuk menjawab. Coba jujur pada diri kita sendiri, berapa dari 17 kali itu yang benar-benar dihayati?

Berani sentuh sebuah realitas bahwasanya mungkin selama ini kita hanya “men-check list” kewajiban semata, tanpa benar-benar hadir secara spiritual saat membaca tujuh ayat sakral ini. Berani akui bahwa bibir kita bergerak otomatis, sementara pikiran kita melayang pada sejuta urusan duniawi. Coba bayangkan paradoks ini: ayat yang diulang ulang justru menjadi korban pengulangan itu sendiri, ia kehilangan magisnya.  Miris sekali!

Berani sentuh sebuah kenyataan bahwa shalat kita mungkin kebanyakannya menjadi rutinitas fisik daripada spiritual? Berani hadapi fakta bahwa kita mungkin telah mereduksi firman Allah menjadi sebuah rangkaian kata-kata yang harus diucapkan sebagai “check list” ibadah harian?

Jika jawabannya “ya”, terimakasih sudah berada pada jalan yang benar. Karena pengakuan adalah langkah awal menuju transformasi. Dan tranformasi ini yang akan menjadi tujuan dari setiap ibadah yang dilakukan.

Memecah Nestapa

Sadarkan diri, apa yang sudah dibaca berulang jangan sampai kehilangan esensi. Allah ingin kita paham, bahwa Al-fatihah bukan hanya sebuah surat yang diulang setiap hari, tapi lebih dari itu. Adanya refleksi yang seharusnya kita miliki dari 7 ayat yang diulang 17 kali setiap hari. Bukan sekedar melafalkan, tapi bagaimana ayat-ayat tersebut dapat selalu hidup dalam diri. Bukan sekedar menuntaskan kewajiban, tapi juga bagaimana makna setiap ayat tersebut dapat terus kita amalkan.  

Sudah seharusnya dari sekarang, kita pahami bagaimana untuk terus memaknai setiap apa yang diulang. Setiap apa yang dilakukan dengan berlandaskan kewajiban bisa menjadi sebuah hal yang seharusnya tetap tumbuh dalam diri. Tentu dengan harapan dari pemaknaan dalam setiap ayat yang diulang, Setidaknya bagaimana untuk tidak menyepelekan sebuah kebiasaan. Sudah saatnya untuk break the cycle. Ubah kuantitas menjadi kualitas. Saatnya benar-benar menyentuh dan disentuh oleh Al-fatihah.

Karena pada akhirnya, jangan sampai menjadi seorang penghafal ayat, tapi penghianat makna, bagaikan mayat hidup yang shalat di hadapan Tuhan, namun hatinya kosong dan tertutup.

Penulis : Opini

Editor : Nofal Wiska

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB