Nama & Peristiwa di 5 Benua Dalam Buku “Granada, Menangislah…”

Penulis -

Rabu, 16 Maret 2022 - 14:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sampai sekarang, wartawan memang masih satu dari hanya empat profesi yang diakui publik. Penghargaan itu tentu terkait peran para wartawan pendahulu yang dalam sejarah Indonesia, boleh dibilang memang banyak hal. Tidak hanya jadi pelapor (reporter). Tapi mereka umumnya seniman, sastrawan, dramawan, politikus, dan tokoh pergerakan nasional yang ikut mendirikan republik ini.

Dalam sejarah perfilman nasional,
Saeroen (1920an–1962) adalah jurnalis dan penulis pertama yang menulis cerita dan skenario film Indonesia.

Pada pertengahan tahun 1930-an Saeroen mendirikan koran harian Pemandangan dengan Raden Haji Djunaedi dan menulis editorial dengan nama Kampret.

Ketika koran tersebut dibubarkan dia masuk ke industri perfilman dan memulai debutnya dengan menulis cerita dan skenario film “Terang Boelan” (1937) yang diproduksi Albert Balink.

Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail, juga seorang wartawan, Ketua Umum PWI, yang sangat dhormati.

Di dunia pers dan politik tercatat dalam tinta emas nama-nama harum seperti Haji Agus Salim, Adam Malik, BM Diah, Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, Manai Sophiaan, untuk menyebut beberapa nama.

Baca Juga :  Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

Asro Kamal Rokan tampaknya mendapat “titisan” itu. Sebagai wartawan dia sudah pernah sampai di puncak karir dengan menjadi pemimpin redaksi Harian Republika dan Direktur Utama Kantor Berita Antara.

Dalam usia tak bisa dibilang muda ia tetap berkarya mengekspresikan kegelisahannya sebagai wartawan sastrawan.

Ketika mengawali karier sebagai wartawan, Asro memang bekerja di Harian Merdeka milik BM Diah yang kerap dijuluki “kawah candradimuka” wartawan Indonesia. Kenyang lah dia ditempa di situ.

Buku terbarunya “Granada, menangislah” sebagian merangkum pengalaman dia berkeliling dunia dan pandangannya sebagai wartawan merespons banyak hal.

Saat menyusuri Spanyol, menyusuri sejarah Andalusia, dia keber habis sejarah kejayaan Islam selama 7 abad di Eropah. Dan, menutup kisah itu dengan lirih.

Baca Juga :  Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

“Setelah berkeliling di Istana Alhambra, monumen terakhir kejayaan pemerintah Islam selama 781 tahun yang berakhir tragis, diikuti kekejaman dan intoleransi– saya meninggalkan Granada dengan perasaan sangat pilu. Puncak Gunung Siera Nevada ditutupi salju. Dingin dan beku. Di perjalanan pulang menuju Madrid, terngiang kata-kata Aisyah, ibu Sultan terakhir Granada : menangislah terhadap apa yang tidak bisa kau pertahankan selayaknya lelaki. Dan, pengusiran, penyesalan, keterasingan, penghinaan terjadi karena keserakahan dan hasrat manusia pada kekuasaan yang tidak terbendung. Harga diri dan akal sehat telah hilang, merugi hingga kini,” tulisnya.

Pesan itu kuat sekali menghunjam kalbu. Buku “Granada” yang diluncurkan bulan lalu, diterbitkan oleh PT Rajagrafindo, berisi 32 tulisan Asro tentang nama dan peristiwa dalam sejarah masa lampau dan kini. Dengan pelbagai problema sosial politik, ekonomi dan hankamrata di Eropah, Amerika, Asia, Afrika, dan Australia. Semua menarik dan perlu dibaca.

Baca Juga :  Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

Teknik penulisan Asro mengagumkan ketika mendeskripsikan kota -kota dunia yang dikunjungi. Asro kelahiran 24 Desember 1960. Sejak remaja, sudah menuliskan puisi, cerita pendek, dan esay di berbagai surat kabar terbitan Medan, Sumatera Utara. Asro juga menulis naskah drama dan menyutradarai untuk stasiun TVRI Medan. Pantas nafasnya panjang, tidak bergantung penugasan atau “baju dinas” — hanya saat bekerja di media resmi dan terima gaji teratur — baru berkarya.

Dalam buku itu saya menangkap juga ikhtiarnya, mengedukasi publik dan khususnya kalangan jurnalis agar tidak hanya berlaku turis. Hanya menyentuh permukaan suatu masalah. Hanya mengupload di media sosial foto-foto penanda zaman di negara mana saja mereka berada. ” Tulislah tentang itu” kira-kira begitu pesannya. Setuju? (*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo
ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia
Perkuat Ekosistem Digital Aviasi, IAS Hadirkan Layanan Airport Assistance Joumpa di wondr by BNI
Rahmat Saleh Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Galodo di Solok
Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda Perkuat Silaturahmi dengan Kader Sumut
Jelang Muktamar Muhammadiyah, 10 PWM Sepakati Risalah Bukitinggi
Rahmat Saleh Dorong Keterbukaan Tata Niaga Impor Gula
ADPI Sukses Launching IADP melalui Technical Guidance Book Chapter Writing – Springer.

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:39 WIB

ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

Rabu, 30 September 2026 - 17:37 WIB

Perkuat Ekosistem Digital Aviasi, IAS Hadirkan Layanan Airport Assistance Joumpa di wondr by BNI

Rabu, 23 September 2026 - 10:46 WIB

Rahmat Saleh Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Galodo di Solok

Selasa, 22 September 2026 - 12:04 WIB

Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda Perkuat Silaturahmi dengan Kader Sumut

Berita Terbaru