Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Mimpi Museum Sastra Nur St. Iskandar, Memperkuat Maninjau Sebagai Wisata Sastra

Ruang Baca Rumah Baca Nur St. Iskandar.
Dibaca : 441

Agam, Prokabar — Sekitar 129 kilometer dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) atau sekitar 35 kilometer dari Lubuk Basung sebagai Pusat Pemerintahan Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, terdapat sebuah gang kecil menuju Masjid Raya Kubu tepian Danau Maninjau. Tepatnya di komplek Pasar Sungai Batang, terdapat dua unit Rumah Gonjong Suku Guci Payung Datuk Pamuncak.

Satu di antaranya merupakan Rumah Gadang Baanjuang, telah masuk Cagar Budaya di BPCB Batusangkar. Tercatat SK Menteri Nomor PM. 86/PW.007/MPK/2011. Sementara Rumah Gadang satunya lagi terdapat Rumah Baca Nur St. Iskandar.

Saya tinggal tidak jauh dari situ. Sudah banyak kali berkunjung ke rumah kelahiran sastrawan Angkatan Balai Pustaka itu. Kunjungan kali ini, permintaan khusus dari salah seorang dosen saya semasa kuliah di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Ia meminta saya untuk kembali melakukan sejumlah misi pengembangan.

Beliau, Dr. Pramono, dosen sekaligus teman diskusi saya hingga saat ini, mengharapkan saya dan Komunitas Pemuda Generasi Hamka (KPGH) memikirkan pengembangan rumah kelahiran sastrawan besar zaman Balai Pustaka itu sebagai Museum Sastra. Semua ini merupakan kelanjutan pertamuan saya saat mengikuti FGD Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, Kamis (27/8) lalu.

Berlanjut menuju lokasi, saat kondisi cuaca begitu cerah, dengan udara segar Danau Maninjau. Langit biru beserta cahaya surya bersinar indah. Memasuki pekarangan Rumah Adat itu, kebetulan pengelola rumah baca berada di tempat. Wajah ceria disambut salam sahabat.

Jusni (40) dipercaya keluarga besar pemilik Rumah Gadang itu, mengelola Rumah Baca Nur Sutan Iskandar sejak 2008 lalu. Ibu dari dua anak ini Lahir Kota Nopan, Sumut 10 Februari 1980. Ia adalah menantu dari keponakan Sastrawan Nasional tersebut. Mereka berada di bawah pimpinan Suku Guci Datuak Bandaro Sati.

Jusni (40), Pengelola Rumah Baca Nur St. Iskandar di Jorong Kubu, Nagari Sungai Batang, Kec. Tanjung Raya, Kab. Agam, Prov. Sumatra Barat.

Jusni (40), Pengelola Rumah Baca Nur St. Iskandar di Jorong Kubu, Nagari Sungai Batang, Kec. Tanjung Raya, Kab. Agam, Prov. Sumatra Barat.

Diskusi pun berlanjut. Jusni mengatakan Rumah Baca Nur Sutan Iskandar itu didirikan dan diresmikan Pemda Agam pada 26 Januari 2006 lalu, pada saat Kabupaten Agam dinahkodai oleh Aristo Munandar. Koleksi saat ini sudah ada sebanyak 250 buku. Koleksi buku khusus karangan Nur Sutan Iskandar sendiri hanya ada 15 buku. Belum memadai.

Ditambah lagi suasana ruangan sekitar empat kali dua meter persegi; berada di ruang depan, masih sangat sederhana dan tidak menarik sama sekali. Tidak ada hiasan yang menarik, sehingga membuat orang agak kurang terpikat untuk berkunjung.

“Saya sudah berupaya semaksimalnya, melakukan upaya pengelolaan dan pengajuan bantuan berbagai pihak agar Rumah Baca dan Rumah Gadang Baajuang ini termanfaatkan dengan baik. Karena lemahnya daya yang saya miliki, membuat saya hanya mampu bertahan sesuai kondisi yang ada,” tuturnya.

Ruang Baca Rumah Baca Nur St. Iskandar.

Ruang Baca Rumah Baca Nur St. Iskandar.

Secara lisan telah dilakukan upaya pengajuan permohonan ke berbagai pihak. Agar koleksi buku dapat bertambah banyak. Meminta bantuan dari berbagai pihak yang ia kenal, untuk melengkapi koleksi karangan mantan Kepala Pengarang Balai Pustakan itu. Namun, sangat disayangkan, hingga saat ini belum ada seorang pun yang merespon.

“Saya tidak mampu mengoperasikan komputer untuk menambah lebih informasi terkait Rumah Baca Nur St. Iskandar. Namun, saat ini saya memiliki dua orang anak, dapat membantu saya nantinya. Saya berharap ada penggiat atau pemerhati yang dapat membantu saya mengembangkan potensi Wisata Sastra ini,” terangnya.

Nur Sutan Iskandar memiliki nama asli Muhammad Nur. Lahir di Sungai Batang, 3 November 1893. Meninggal di Jakarta, 28 November 1975 (umur 82 tahun). Pernah bekerja di Balai Pustaka sebagai kolektor naskah karangan. Dan menjabat Pimpinan Redaksi Balai Pustaka (1925-1942). Diangkat menjadi Kepala Pengarang Balai Pustaka pada 1942-1945.

Seorang sastrawan paling produktif diangkatannya. Selain pengarang, juga menyadur dan menerjemahkan buku-buku karya pengarang asing. Seperti Alexandre Dumas, H. Rider Haggard dan Arthur Conan Doyle.

Rumah Baca Nur Sutan Iskandar sangat potensi jadi Museum Sastra. Potensinya sangat besar karena didukung dengan peninggalan sejarah lain di sekitarnya. Tidak jauh dari tempat ini adalah Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka dan KhutubChanah serta Makam H.A.K Amrullah (ayah Hamka).

Semoga mimpi Museum Sastra Nur St. Iskandar dapat diwujudkan. Semoga mimpi Maninjau sebagai satu tempat Wisata Sastra menjadi nyata. (R. Rajo Intan)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top