Daerah

Menyimak Potret Jemaah Tarikat Syatariah di Koto Gadang VI Koto

Koto Gadang, Prokabar — Koto Gadang VI Koto merupakan salah satu Nagari dari 9 Nagari di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Daerah pusat pengebaran Organisasi Muhammadiyah pertama di Pulau Sumatra, bahkan pertama di luar pulau Jawa.

Meski Syatariah sudah lebih dulu masuk dan mengislamkan masyarakat Selingkar Danau Maninjau tersebut, pada akhirnya Muhammadiyah mulai menggantikan paham tertua di Tanjung Raya.

Hanya ada satu masjid dan sekelompok jemaah yang masih kuat menganut dan melestarikan tarikat Syatariah tersebut di sana. Yakni Masjid Jami’ak Nagari Koto Gadang VI Koto.

Sekitar 300 orang jemaah dengan 5 orang Tuanku (dua orang diantaranya masih dalam proses menamatkan tingkat Tuanku). Di Bulan suci Ramadan ini, setiap malam mereka tadarus dan berzikir bersama.

Khusus untuk Tuanku dan jemaah pria, melaksanakan tadarus menggunakan Kitap Tafsif Al-Quran karya Jalaluddin. Sementara, pada kaum ibu-ibu tadarus dengan melantunkan Ayat Suci Al-Quran, seperti pada umumnya jemaah lainnya.

Tarikat Syatariah merupakan salah satu paham ajaran Islam tertua di Ranah Minang. Bahkan aliran yang mengislamkan masyarakat Minangkabau secara umumnya.

Paham tersebut disiarkan melalui Guru Besar Syekh Burhanuddin dan sukses menyebar di seluruh penjuru nusantara. Berpusat di Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman.

Raflison Tuanku Majo Lelo, Pemimpim jemaah Syatariah setempat menjelaskan guru besar mereka adalah Nurdin Tuangku Sidi Nurdin yang menyiarkan Syatariah di Batu Mangaum, Sungai Geringging. Paham tersebut berkat Asril Tuanku Sutan yang belajar ke Batu Mangaum sejak 1960 lalu.

“Setiap bulan Safar, kami selalu ikut ke Ulakan. Melakukan pengajian dan menambah ilmu ke sana. Di Sekitar Makam Syekh Burhanuddin di bulan baik itu, banyak ulama Syatariah berkumpul dan mengajarkan ilmu yang dimilikinya,” ungkapnya.

Sementara itu, Datuk Katumanggungan, Tokoh masyarakat setempat menambahkan banyak keunikan dan khasanah yang mampu dikembangkan di Koto Gadang VI Koto tersebut. “Makam para syekh dan ulama terdahulu sudah banyak terlupakan. Padahal sangat penting untuk sejarah generasi penerus.” ujarnya.

Kami berharap lanjutnya, kepada pemerintah daerah untuk bisa memperhatikan situs-situs sejarah masa lalu. Karena sejarah merupakan cerminan masa lalu dan referensi hidup manusia saat ini dan masa akan datang.

“Tarikat Syatariah merupakan aliran tertua di Ranah Minang. Sebelum Muhammadiyah berkembang pesat di Tanjung Raya, paham ini banyak disiarkan ulama terdahulu. Termasuk Syekh Muhammad Amrullah, kakek dari Buya Hamka.” pungkasnya. (rud)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top