Menuju Akhir Jabatan, Presiden Jokowi Harus Netral, Jangan Cawe-cawe Urusan Pemilu 2024

Penulis -

Rabu, 31 Mei 2023 - 17:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang Komarudin

JAKARTA – Pengamat politik Ujang Komarudin berharap, menuju akhir masa jabatannya sebagai presiden, Joko Widodo (Jokowi) lebih baik bersikap netral alias berada di tengah-tengah.

Sebab menurut dia, kurang tepat jika posisi Jokowi masih sebagai Kepala Negara, ikut cawe-cawe dalam urusan calon presiden (Capres) Pemilu 2024.

“Pak Jokowi menjadi negarawan saja, agar saat landing menjadi presiden di Oktober 2024 itu nantinya dengan bagus. Di tengah saja, bijaksana saja, jadi negarawan saja itu,” kata Ujang kepada awak media di Jakarta, Rabu (31/5/2023) menyikapi pergerakan politik Presiden Jokowi menjelang Pemilu 2024.

Terlebih, lanjut Ujang, dengan posisinya sebagai presiden tentu memiliki kuasa. Karena dikhawatirkan kuasa yang ada bisa mempengaruhi hasil pemilu atau bisa mengkondisikan pemenangan capres dan cawapres.

“Kalau itu dilakukan, maka itu bagian daripada abuse of power atau penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang dan itu yang tidak diharapkan,” ujarnya.

Baca Juga :  Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

Dosen tetap Universitas Al Azhar Indonesia ini menyebut, ketika kepala negara melakukan cawe-cawe terhadap pemilihan presiden dan bahkan menggunakan struktur dan infrastrasiktur negara, maka akan menimbulkan masalah sendiri.

Sebab, lawan politik pasangan yang didukung kepala negara akan merasa dicurangi dan menyebabkan permasalahan baru pasca pemilu.

“Karena yang kalah akan menganggap ini dicurangi, dikadali oleh yang namanya cawe-cawe tersebut,” jelas Ujang sembari mengingatkan agar Presiden Jokowi lebih baik netral terhadap pemilihan presiden.

Jadi, menurut Ujang, kalau Jokowi mengklaim atau menyebut cawe-cawe-nya dalam pemilu untuk kepentingan yang lebih besar adalah tidak benar.

“Yaitu kepentingan-kepentingan Jokowi saja, bukan kepentingan bersama, bukan kepentingan negara, kepentingan politik saja begitu,” tegasnya lagi.

Ujang mencermati kalau Jokowi menyatakan bakal cawe-cawe dalam pemilu, karena akan terjadi peralihan kekuasaan dari rezimnya ke rezim penggantinya.

Baca Juga :  ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

Sehingga Jokowi ingin memastikan penggantinya nanti betul-betul orang dari kelompoknya, bukan di luar kelompoknya.

“Tapi, tidak etis lah kalau hal itu dilakukan seorang Jokowi, yang jelas-jelas masih menjabat sebagai presiden,” tutup serta Direktur Eksekutif Indonesia Political Review.

Diketahui, Presiden Jokowi pada saat pertemuan dengan para pemimpin redaksi sejumlah media di Istana Negara, Jakarta, Senin (29/5/2023) mengaku dirinya akan cawe-cawe di Pemilu 2024, demi bangsa dan negara. Bahkan kata dia, cawe-cawe yang dimaksud tidak akan melanggar aturan.

“Demi bangsa dan negara saya akan cawe-cawe, tentu saja dalam arti yang positif. Saya tidak akan melanggar aturan, tidak akan melanggar undang-undang, dan tidak akan mengotori demokrasi,” kata Presiden Jokowi.

Cawe-cawe Positif

Sebelum Menteri Sekretaris Kabinet (Menseskab) RI Pramono Anung menyatakan, istilah cawe-cawe yang disampaikan oleh Presiden Jokowi bertujuan positif dalam kaitannya dengan pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

Baca Juga :  Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

“Jadi apa yang disampaikan bapak Presiden, kebetulan langsung di depan Pemred (pemimpin redaksi), beliau sampaikan cawe-cawe untuk hal yang positif,” kata Pramono kepada awak media di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa kemrain (30/5/2023).

Artinya sambung pria yang akrab disapa Mas Pram ini, pelaksanaan pemilu transparan, terbuka. Terlebih sekarang ini, sudah tidak mungkin di era digital segala sesuatu, misalnya kalau kemungkinan ada hal yang tidak sesuai hal per UU. Dengan demikian, dalam semangat itulah Presiden Jokowi menyampaikan hal yang sebenarnya.

“Karena juga ada pertanyaan ke beliau berkali-kali soal hal itu. Dan yang paling penting, pemilu tepat waktu, transparan, terbuka, luber dipenuhi, dan sekarang ini kan proses regrouping capres cawapres. Yang berlangsung sangat dinamis, beberapa kebetulan ada di pemerintahan, dan itu tentu pasti dilakukan transparan,” jelas Pramono. (Ery)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo
ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia
Perkuat Ekosistem Digital Aviasi, IAS Hadirkan Layanan Airport Assistance Joumpa di wondr by BNI
Rahmat Saleh Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Galodo di Solok
Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda Perkuat Silaturahmi dengan Kader Sumut
Jelang Muktamar Muhammadiyah, 10 PWM Sepakati Risalah Bukitinggi
Rahmat Saleh Dorong Keterbukaan Tata Niaga Impor Gula
ADPI Sukses Launching IADP melalui Technical Guidance Book Chapter Writing – Springer.

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:39 WIB

ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

Rabu, 30 September 2026 - 17:37 WIB

Perkuat Ekosistem Digital Aviasi, IAS Hadirkan Layanan Airport Assistance Joumpa di wondr by BNI

Rabu, 23 September 2026 - 10:46 WIB

Rahmat Saleh Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Galodo di Solok

Selasa, 22 September 2026 - 12:04 WIB

Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda Perkuat Silaturahmi dengan Kader Sumut

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB