Mengungkap Fakta Pantai Torpedo, Begini Sejarahnya

Penulis -

Rabu, 8 Juli 2020 - 08:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agam, Prokabar — Pantai Torpedo salah satu nama daerah yang terletak di Jorong Ujuang Labuang, Nagari Tiku, Limo Jorong, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Al kisah, dinamakan Pantai Torpedo karena pada tahun 1945 terjadi perang laut, antara Jepang dan Sekutu.

Torpedo sendiri merupakan salah satu alat perang dunia ke II yang digunakan Jepang. Sejenis meriam untuk membombardir musuh-musuhnya. Termasuk melawan para pejuang dan pahlawan Republik Indonesia.

“Pada masa penjajahan Jepang pada 1945, mereka ingin menghancurkan para pejuang kita yang melakukan gerilya. Dan banyak para pejuang mengungsi ke Ujuang Labuang, karena dianggap lokasi paling aman untuk bersembunyi. Namun akhirnya, Tentara Jepang berhasil mengetahui keberadaan para pejuang kita. Dan secara membabi-buta, melepas tembakan meriam torpedo ke arah perkampungan Ujung Labuang,” ungkap Rido Alfa, Ketua Pemuda Jorong Ujuang Labuang, saat dijumpai Prokabar.com, Selasa (7/7).

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Meski serangan bombardir Torpedo telah dilepaskan dan mengarah pada tempat persembunyian para pejuang kita lanjutnya, namun tidak pernah sampai dan mengarah kepada para pejuang. “Alhamdulillah, semua serangan meriam Torpedo Tentara Jepang itu, tidak pernah mengenai tempat persembunyian para pejuang kita. Sasaran hanya mengenai tebing di tepi pantai. Sejak saat ini, masyarakat mengenal daerah ini Pantai Torpedo,” terangnya.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Sekarang, Pantai Torpedo diabadikan dengan pembangunan destinasi wisata baru. Dibangun dan aset dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah V Direktorat Sumber Daya Air Kementerian PUPR.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Pembangunan dimulai sejak 2017 tuntas dan tuntas pada 2019 lalu. Meski demikian, masih menyisakan sejumlah kelengkapan sarana seperti sumber air bersih serta sejumlah kelengkapan sarana lainnya.

“Saat ini, kami dari pemuda berupaya melakukannya pengelolaan secara swadaya. Berharap dapat terus terpelihara. Sehingga selain dapat meningkatkan perekonomian kami melalui pariwisata, juga dapat terus mengabadikan sejarah perjuangan nenek moyang kita melawan penjajahan Jepang,” pungkasnya. (rud)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB