Daerah

Mengintip Lele Asap Leriska Asal Kayu Tanam

Padang Pariaman, Prokabar — Di sebuah tenda pojok, khusus lokasi kuliner dan jualan sekitar Kantor Disparpora dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi Sumatra Barat ke 15 tahun 2018 Di Kabupaten Padang Pariaman, terlihat hidangan unik dan menarik. Lele Asap asal Kayu Tanam dengan nama Leriska.

Beberapa ibu-ibu dengan ramah menyapa dan melayani pembeli dengan baik. Barang dagangannya terlihat laris diborong pelanggan. Mereka pun tersenyum lebar dan puas.

Dan dalam suatu kesempatan, usaha ini pun dapat di telusuri lebih dalam tentang sejarah berdirinya beserta proses perjalanan mereka membangun usaha terlihat sederhana tersebut. Leriska (Lele Rezki Sejahtera Kayutanam), sebuah kelompok usaha rumah tangga asal Nagari Kayu Tanam, Kecamatan 2×11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat. Kelompok yang mengolah makanan khas ikan lelel seperti Lele Asap, Rendang Lele Salai, Bakso Lele dan Naget Lele.

Lili Suryani (40) Ketua Leriska menjelaskan usaha tersebut bermula program PNPM 2013 lalu kepada Anggota SPP (Simpan Pinjam Perempuan) memberi pelatihan dan pemberdayaan masyarakat, terutama ibu rumah tangga miskin. Anggaran Pemeritah Pusat tersebut selain mendapatkan skill atau keterampilan, langsung dimodali berbagai peralatan masak.

Karena budi daya ikan lelel sudah membludak, bahkan telah berhasil mengekspor ke Kota Bukittinggi. Harga biasanya Rp13 ribu perkilo, menjadi Rp7 ribu perkilo, dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Maka lahirlah pelatihan pembuatan lele asap atau pengasapan lele.

Usai pelatihan dan skill diserap dengan baik, Kelompok tersebut langsung merealisasikannya sebagai usaha tambahan. 2014, dengan berjumlah Anggota 16 orang disertai modal simpanan pokok setiap Anggota Rp75 ribu perorang, mereka bergerak maju.

“Awalnya produksi hanya 2x dalam sebulan, dengan hasil 50 kg lele asap sekali produksi. Hingga kini kami sudah bisa produksi 3x dalam sebulan,” tuturnya.

Saat ini Leriska mempekerjakan beberapa orang ibu rumah tangga untuk memproduksi Lele Asap. Dengan upah Rp 25 ribu perkilonya.

Harga lele asap sudah mencapai Rp130 ribu perkilo. “Di acara Porprov. Sumbar 2018 di Padang Pariaman ini, kami tidak hanya menjajakan Lele Asap saja. Kami sudah mulai melakukan inovasi hasil turunan berupa Rendang Lele Salai, Bakso Lele, Naget Lele dan Sala,” terang Lili.

Pelanggan biasanya dari beberapa instansi Pemerintahan Padang Pariaman. Namun pada Ivent olahraga Sumatra Barat ini, para perantau maupun calon legislatif banyak singgah dan melirik usaha kami. “Mereka menyulai kuliner ini dan memesan banyak untuk dibawa ke perantauan. Dalam sehari itu, terjual 15 bungkus dan tambahan pesanan 30 bungkus lagi,” ungkap Ketua Leriska tersebut.

Setidaknya dalam ajang ini, kami mendapat pelanggan baru dan kemungkinan menjadi pelanggan tetap lanjutnya. Sebagai momentum promosi usaha kerajinan maupun kuliner khas Padang Pariaman tentunya.

Lili juga menerangkan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman selama ini sudah sangat baik dalam melakukan pembinaan. Namun harus lebih serius dan berkelanjutan. Terutama permasalahan permodalan dan kemasan. “Kita kalah saing dengan kemasan elit milik daerah lain. Padahal dari segi kualitas rasa dan mutu, kita jauh lebih unggul,” keluhnya.

Usaha rumah tangga Lele Asap daerah lain seperti Payakumbuh, Padang, Agam dan Bukittinggi sudah cukup maju. Namun kendala rata-rata modal, pada umumnya Pemerintah Daerah sering menggiring ke Perbankan. Padahal Perbankan tidak akan pernah melirik usaha kecil menengah ini Karena mereka pasti mencari keuntungan pula besar nasabahnya. “Mana mungkin perbankan percaya pada usaha kecil menengah ini akan memberi keuntungan kepada mereka?” herannya.

Kami berharap lanjutnya, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman serius memperhatikan usaha kecil menengah ini. “Kita iri dengan kebijakan beberapa Pemerintah daerah di daerah Jawa sana. Bahkan mereka konsisten dengan menetapkan Perda kepada ASN dan masyarakatnya untuk mengutamakan membeli produksi hasil karya daerahnya sendiri. Sehingga umkm mereka maju, berkembang dan jelas mensejahterakan masyarakatnya,” harapnya.

Dan di sisi lain, umkm adalah penompang pertumbuhan pariwisata. Wisatawan jelas tidak akan hanya melihat dan menikmati keindahan alam dan budaya saja saat berwisata. Mereka pasti membutuhkan makanan dan buah tangan dari tempat yang sudah ia kunjungi. “Dan kita di akayu Tanam sepertinya hanya menjadi penonton saja. Padahal rata-rata wisatawan nasional dan Internasional setial hari melintasinya. Hendaknya potensi Kayu Tanam dengan Istilah Bogornya Sumbar, dapat termanfaatkan dengan baik oleh Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman,” tutupnya. (rud)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top