Oleh : Abdullah Khusairi
Ramadhan kali ini bukan sekadar berperang melawan hawa nafsu, lebih dari itu, melawan serangan wabah Covid-19. Wabah ini bisa menyerang siapa saja yang tidak awas dari kebersihan, tidak mematuhi protokol antisipasi yang sudah ditetapkan. Kemenangan dua perang ini akan diraih oleh mereka yang berjuang sungguh-sungguh. Terlatih melawan hawa nafsu yang buruk dan selamat dari wabah. Maka beribadahlah dengan segenap totalitas kemampuan, sebagai sebuah perjuangan menuju kemenangan yang utuh, penuh, dengan segenap kebahagiaan.
Kalimat di atas terasa klise bagi sebagian yang belum bisa memaknai keadaan ini. Apalagi yang masih menganggap Pandemi ini adalah hal sepele saja. Sangat disadari, cemeeh akan segera tiba kepada tulisan ini, dari mereka yang belum melihat keadaan yang dihadapi dari sudut paling tepat di hati mereka. Biar saja, ini tulisan untuk berbagi harapan bagi siapa yang memerlukannya.
Rutinitas Baru
Kita memang sudah begitu sering mendengar tentang kebajikan, keajaiban, serta hal-hal yang berhubungan dengan ibadah puasa. Semua itu menjadi tidak aneh, biasa saja, mungkin sudah bebal menerimanya. Setiap Ramadhan kita mendengar keutamaan ibadah puasa dari para ustadz. Hanya saja, Ramadhan kali ini kita tidak bisa mendengar secara langsung di masjid tetapi masih bisa melalui di media televisi dan radio, juga di youtube, jika itu mau. Tergantung kepada diri masing-masing.
Saya tetap mendengar ceramah agama, untuk mengisi waktu, sebagai kesibukan baru dengan niat belajar dan belajar. Belajar dan mengajar sudah menjadi bagian dari diri. “Sungguh tak perlu mengutuk kegelapan, mari kita nyalakan lilin.” Bahwa ibadah puasa Ramadhan 1441 H ini ada keistimewaan. Dijalankan beriringan dengan suasana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan ini membuat semua orang terdampak.
Kita semua di Indonesia tercinta sedang menerima “tamu” yang sangat kecil. Diberi nama Covid-19. Tamu dari Wuhan. Atas keadaan itu, sibuklah pemerintah mengambil kebijakan-kebijakan ganjil, sibuk pula kita harus mengikutinya. Saban hari kita menerima perkembangan terbaru, yang tewas karena terpapar hewan berbahaya itu.
Begitulah, kita diperintahkan oleh otoritas untuk berada di rumah, tanpa tarawih, tadarus, di masjid, mushalla, surau. Kita tak bisa berbuka bersama seperti yang pernah berlangsung bila Ramadhan tiba. Semua kemeriahan kegiatan itu masih kita lakukan secara terbatas di tengah keluarga.
Saya menerima banyak curah hati (Curhat) mahasiswa selama mereka berada di rumah bersama keluarga. Saya bertanya tentang keadaan keluarga mereka, juga terus mengajak mereka optimis berjuang memahami keadaan, bertarung dengan kebosanan, tetap waspada dan tetap belajar online. Ajakan itu pula meresap ke dalam diri, menjadi renungan panjang tentang kehidupan. Harus mengambil hikmah untuk bertahan, untuk bahagia, untuk tetap punya harapan.
Kawan, kita ternyata sedang berperang ke dalam diri dengan dua musuh utama itu. Perang melawan hawa nafsu, seperti dikatakan Nabi Muhammad Saw. itu selalu kita jalani setiap ramadhan tiba, tetapi wabah adalah musuh baru tiba. Tidak kelihatan, tidak pandang bulu. Siapa terjangkit, segera dikarantina dengan prosedur yang ganjil. Ini musuh baru, datang untuk menguji iman dan taqwa kepada Allah Swt.
Berperang melawan hawa nafsu, insya allah kita telah lulus, walau kadang-kadang kemenangan itu lepas seiring kepergian bulan Ramadhan. Kita sering hidup seperti semula, sedia kala, tanpa pernah merasakan pernah ikut berperang mengasah ketajaman bathin, meningkatkan ketaqwaan dan mempertebalkan iman.
Sembari membaca tulisan ungkapan perasaan, pikiran, pandangan mahasiswa-mahasiswi, saya mendengar ceramah mendengar Ustadz Abdul Somad, Lc. MA, Ph.D dari channel youtube. Ini rutinitas baru setelah shalat tarawih dengan keluarga, walau sudah pernah membaca buku terjemahan Risalah Qusyairiyah karya Abu Qasyim al-Qusyairi (376 H./986 M – 465 H/1074 M), ketika diuraikan oleh Abdul Somad, bertambah pula pemahaman tentang jalan tasawuf tokoh sufi yang kebetulan namanya dijadikan nama saya oleh kakek ibu saya, Ki Ja’far Hasan. Seorang ulama yang sangat disegani pada masanya.
Bilik Kesadaran
Ramadhan ini telah memberikan kesadaran untuk belajar, menambah ilmu pengetahuan agama, untuk menguatkan hati atas keadaan. Pada siang kita melawan lapar, haus, amarah, pada malam hari beribadah, mengaji, mendengar pengajian, serta merenungi diri. Inilah hikmah baru, di suasana PSBB, ber’uzlah, beri’tikap, menyepi diri, memberi kesempatan untuk bathin berbicara lebih banyak tentang kehidupan yang telah dan akan dijalani pada bilik kesadaran hati kita.
Wabah adalah keadaan berbahaya, ada penyakit menular, sejarah sudah pernah ada mengajarkan itu. Puasa adalah ibadah, menahan hawa nafsu yang buruk. Keduanya sedang kita hadapi bersama. Kita butuh kekuatan, kekuatan itu milik Allah Swt. Bisiklah doa setiap ibadah, yakinlah doa itu didengar dan diijabah agar diberi kekuatan. Semoga kita memenangi dua peperangan ke dalam diri ini. Amin. (*)
















