Mengapa Saya jadi Petani?

Penulis -

Sabtu, 5 Februari 2022 - 12:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rizal Marajo

Beberapa tahun terakhir saya menikmati hari-hari sebagi petani. Apalagi sejak Pandemi, kegiatan bertani semakin menjadi-jadi.

Saya menemukan tempat terbaik, ditengah perubahan gaya hidup di tengah pandemi yang banyak berubah dan penuh tekanan.

Memakai sepatu boot, pakai topi pelindung panas, sembari bercengkrama dan “berbicara” dengan beragam tanaman, adalah nikmat yang tak ternilai.

Pastinya tak perlu sesak nafas memakai masker, makan siang di pondok tengah sawah, sebuah  anugerah tiada terkira, yang tak akan sebanding dengan orang kota makan di restoran termahal sekalipun.

Dan shalat di pematang sawah, rasakan saat wajah dan telinga Anda diterpa deru sejuknya hembusan angin ditengah terik mentari. Sunyi dan sepi, namun begitu damai.

Hijaunya daun-daun tanaman, harumnya aroma khas masing-masing tumbuhan, dan melihat bunga yang akan segera menjadi buah, maka nikmat mana lagi yang hendak engkau dustakan.

Tapi, diam-diam saya mencoba menyelami makna hidup dari proses tani. “Saya sedang menikmati hidup sebagai petani.”ucap saya ketika ada orang atau para kolega yang bertanya kenapa banting stir ke agraris.

Buat saya, aktivitas bercocok tanam, bergelut dengan tanah dan tanaman adalah sebuah proses yang memberi banyak pelajaran. Mulai dari proses persiapan lahan pembibitan, penyemaian, penanaman, sampai dengan waktu panen.

Tahapan panjang untuk mendapatkan hasil yang terbaik, dengan waktu, tenaga, biaya, dan pikiran dikerahkan semaksimal mungkin. Dengan harap hasil sebanding dengan usaha yang telah dilakukan.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Dari proses pengolahan yang terbilang cukup lama dalam menyita waktu ini. Petani dituntut dan dituntun sabar dan ulet demi mendapatkan hasil memuaskan.

Saya percaya, apa yang kita tebar atau tanam itulah yang akan kita petik dan dapatkan. Proses tak pernah mengkhianati hasil.

Menyelami hakikat sebuah proses yang panjang dari petani ada hal yang paling mendasar mesti terpatri pada sifat manusia. Jiwa sabar dan keuletan adalah diantaranya.

Sabar. Mengapa?
Bertani mutlak memerlukan kesabaran penuh. Menunggu dan melewati proses yang lama, jika tanpa kesabaran, petani hampir dipastikan akan menuai kegagalan. Sama seperti bidang kehidupan yang lain, tak ada proses instan dalam pertanian.

Dari proses pemilihan bibit, jenis varietas tanaman, jelas bukan bersifat asal-asalan. Pilihan yang cocok dengan struktur tanah, cuaca sekitar, serta membanding berbagai jenis bibit dilihat dari sisi kelebihan dan kekurangan ikut jadi pertimbangan

Lalu pada tahapan penyemaian dan menyiapkan lahan, sebagai wadah bibit untuk tumbuh kembang juga jadi kajian. Sebelum dipindahkan pada lahan yang akan ditanami.

Selanjutnya, bibit semai yang telah cukup secara usia dan tumbuh kembangnya, barulah ditanami pada lahan yang sudah dipersiapkan.

Tak sampai disitu, harus dipahami sebelum penanaman, harus dilihat kedalaman dan jarak tanam, hingga berapa jumlah batang dalam satu lobang. Ini juga perlu diperhitungkan, dan tak boleh seenaknya.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Akhirnya, masa panen adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh petani. Jerih payah selama ini serasa terobati dengan hasil yang didapati melimpah ruah. Tapi terkadang disini pula ujian kesabaran mencapai puncaknya.

Ketika panen berlimpah, tapi harga jual di pasar anjlok ke titik terendah. Apa hendak dikata, hanya bisa mengurut dada sembari bergumam, Itulah rezeki kita yang diberikan Allah SWT.

Selain proses, bertani juga menggambarkan betapa banyak pengorbanan yang telah dilakukan, baik sisi materil maupun materil dari petani. Yang terkadang hasil pun masih saja tidak sebanding dengan pengorbanan? Jadi, harus bersabar lagi.

Selain kesabaran, menghadapi proses yang begitu lama dengan waktu yang berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun petani dituntut selalu untuk ulet merawat tanaman yang ditanami.

Layaknya seperti merawat dan menyayangi seorang anak, seperti anak sendiri. Tanaman juga butuh itu, tak bisa diperlakukan seenaknya atau asal jadi, apalagi bersikap tak peduli.

Dipupuk, disirami, dibersihkan, ditunasi, diperhatikan dengan kasih sayang penuh. Perlakuan seoptimal mungkin, sembari berdoa semoga tanaman dapat memberikan hasil terbaik sesuai keinginan semua petani.

Dari proses panjang dalam bertani, kesabaran dan keuletan mesti dimiliki petani. Namun tak musykil bagi seluruh manusia, siapapun itu. Kuncinya sabar dan ulet, versi dunia tani dapat diaplikasikan dalam segala lini kehidupan.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Karena tak jarang kegagalan tidak mampu untuk ditolak, untung pun tak mampu kita raih. Memberikan makna hidup pada jiwa bagi sosok bernama manusia untuk terus berusaha dan berusaha, disertai do’a pada-Nya.

Manusia yang tidak luput dari unsur manusiawinya. Dirundung kekecewaan, putus harap, dan sebaliknya riang gembira pasca panen yang berlimpah hingga sombong dan lupa diri.

Artinya, setelah proses yang panjang segala sesuatu yang terjadi tidak hadir secara kebetulan, namun terkadang berhubungan karena prilaku kita sendiri.

Pada sisi lain, bertani bergelut pada tanah, lumpur, bau rerumputan, kucuran hujan, terik matahari.

Hakikat semua ini bahwa mencintai sesuatu dengan keikhlasan dengan memperlakukan alam secara baik, alam pun tahu membalas kebaikan manusia itu.

Kembali konteks bertani secara filosofi. Semailah kebaikan dengan niat yan baik. Tanamkan pada diri, dipupuk, dan dirawat.

Hati nurani akan terpancar bak tanaman subur. Suatu saat akan menghasilkan buah yang terbaik, yakni  budi pekerti yang terpancar dan bermanfaat berbagi kebajikan buat orang lain.

Karena menjadi baik adalah proses, ya seperti proses bertani. Kitalah yang menentukan, merenungi apa itu bumi (tanah) yang dipijak dan apa itu langit sebagai atap hidup ini.

Salam Takzim
Teriring rasa hormat untuk para petani, kaum ulet, sabar, dan pekerja keras.(*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
IKHLAS itu MUDAH
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB